Noodle In Love

Noodle In Love
43. Keke..


__ADS_3

Keke masih terus kurangkul dengan sisa tangis yang sesekali terasa isaknya. Hatiku ikut merasa sedih dengan apa yang sedang dirasa Keke saat ini. Membayangkan jika inipun menimpaku. Bisa jadi akupun akan berbohong tak sengaja sebab ketakutan yang besar untuk tidak kehilangan.


Seperti aku waktu itu. Putra pun juga tidak segan bertanya setelah kebersamaan kami cukup dekat dan lama. Namun, aku tidak menyembunyikan apapun. Dengan bangga kujawab pada Putra jika diriku adalah perempuan bersih tanpa noda.


"Ke, kamu jangan pesimis. Kurasa mas Rushqi tuh hanya sekedar bertanya. Menyiapkan realita kemungkinan terburuk sekalipun. Hanya untuk sekedar tahu saja, Ke. Bisa jadi dia akan makhlum dan tidak peduli dengan bagaimanapun kamu."


Jika sudah terlanjur akupun bingung bagaimana. Hanya saja, terus terus menangis bukanlah solusi tepat untuk mengatasi rasa takut dan sesal.


"Aku harus gimana menurut kamu, Ling? Jujur pada mas Rush tentang yang sebenarnya? Nanti kalo dia marah gimana? Aku sudah bohong,, dan kenyataannya tidak seperti yang sudah kubilang ke dia barusan. Aku takut.." Keluh Keke sambil melepas rangkulanku. Kami saling menjauh dan saling pandang dengan sedih.


"Kamu siapkan diri dulu, Ke. Atau barangkali kamu siap menerima segala konsekwensi hingga menikah. Bahkan ada kemungkinan jika Rushqi tidak menyadari keadaanmu. Kurasa dia tidak berpengalaman," ucapku dengan bingung juga pada Keke.


Wajah cantik Keke menatapku dengan ekspresi tak kalah bingung dan kemudian tersenyum. Aku juga tersenyum lebar, menyadari konyolnya ucapanku.

__ADS_1


"Ling, mas Rushqi bukan lelaki lima belas tahun. Dia itu pria dewasa dan pintar. Wawasan luas, temannya banyak. Dia memang nggak pernah berpraktik, tapi teorinya pasti ngerti. Dia itu nggak benar-benar polos, Liiing. Dia pasti akan tahu jika aku berbohong," Keke berbicara dengan sedih namun sambil tetap tersenyum.


"Kamu tahu jika dia nggak bodoh dan bukan Lima belas tahun. Tapi kamu malah berani berbohong, kan?" balasku juga sambil terus tersenyum.


"Iya, Ling. Habis dia menggemaskan. Membuatku serasa berumur tujuh belas," keluh Keke dengan kian tersenyum lebar sepertiku. Kami kini bahkan jadi tertawa.


"Nyesel sekali dengan kelakuanku dulu. Bagaimana bisa aku sempat hidup dengan sesat dan menjijikkan seperti itu sih, Ling," keluh Keke dengan mata kembali berkaca-kaca.


Ucapku tulus demi menghibur Keke yang sedang galau. Resah dengan sesal pada kesesatannya di masa lampau juga sesal akan tidak jujurnya pada Rushqi.


"Makanya, Ling. Kalo kuajak makan bareng tuh ikut saja. Biar mas Rushqi nggak usah nanya macem-macem,," gerutu Keke tiba-tiba.


"Eeeeeh, kok jadi aku yang disalahin. Waktu kalian untuk bersama kan nggak cuma saat makan. Mas Rushqi pasti jago nyari celah waktu buat nanya-nanya ke kamu, Keee," sahutku cepat pada Keke yang kembali tanpa senyum.

__ADS_1


Kurebah tubuh lelah ini di ranjang single bad yang dulu sempat jadi kesayanganku. Keke sudah pergi ke ranjangnya sendiri dan merebah badan mendahuluiku. Gadis itu telah membuka kerudungnya. Rambut yang dulu selalu dicat dengan warna berganti-ganti itu kini nampak hitam legam dan mengkilat. Lurus, tebal dan indah. Keke sangat cantik alami dan tinggi.


Sayang sekali, gadis secantik itu sempat terperosok di lubang sesat yang dalam dan lama. Keke pernah berpasangan dengan beberapa perempuan di asrama dengan gaya bebas dan sesat.


Mereka bukan hanya bermain hati dan fantasi. Namun juga menyentuh ke hubungan fisik yang ekstrem. Bahkan Keke sempat memiliki beberapa alat pemuas nafsu mandiri yang sering digunakan bersama dengan pasangan sesamanya. Keke begitu tenggelam, tidak peduli dengan rusaknya diri dan akidah fitrah wanitanya.


Keke tersadar saat pasangan terakhirnya mendapat kecelakaan dan meninggal dunia. Tidak ada seorang pun yang peduli akan sedih dan patah hatinya yang menganga. Semua teman di asrama abai dan tidak peduli padanya.


Hanya pada kedua orang tualah Keke akhirnya kembali. Sejak itu Keke berusaha bertaubat dan kembali ke jalan lurusNya. Keke tidak selalu lagi tinggal di asrama. Hanya sesekali datang dan menginap jika ada bocoran audit asrama seperti saat ini.


Aku dan Keke awalnya tidak akrab. Selain jarang bertemu, juga sebab aku hanya disibukkan oleh kerja dan oleh lelaki yang bernama Putra saja. Duniaku hanya diisi oleh gembiraku bersama Putra di luaran. Keke dan aku begitu saling acuh dan abay. Hingga datanglah hari itu. Di mana Putra meninggalkanku.


🕸🕸

__ADS_1


__ADS_2