Noodle In Love

Noodle In Love
62. Happy Expart


__ADS_3

Satu minggu kemudian...


Jika satu minggu yang lalu pesawat yang kami tumpangi menuju destinasi langit timur dan langit selatan, kini kami sedang berada dalam pesawat dengan arah langit utara dan ke Barat.


Kami sedang terbang kembali dari Juanda menuju Hangnadim di Batam, ke kota industri Muka Kuning kecintaan suamiku, Errushqi. Cutinya sebatas lima hari dengan tambahan sabtu dan minggu. Perjalanan penuh makna pulang pergi kami ini memang tepat satu minggu!


"Ehem..!" Kutoleh Rushqi yang baru saja berdehem dan sedang tersenyum padaku.


"Kenapa senyum-senyum?" tanyaku yang juga tak bisa menahan senyuman. Aku tahu apa yang terus dipikirkan kepalanya.


"Ingin cepat sampai," bisik Rushqi yang membuat telingaku sama geli dengan hatiku.


"Aku capek," balasku dengan wajah pura-pura tanpa minat. Padahal hatiku sangatlah menggebu.


"Kita istirahat dulu, Ling. Jangan lupa, istirahatnya satu kamar," tegas Rushqi dengan sangat lirih.


"Di kamarku?" tanyaku dengan senyum ingin menggodanya.


"Iya di kamar kamu saja, Ling. Makin sempit makin bagus. Ranjang di kamarku terlalu lebar, itu tidak cocok," timpal Rushqi berbisik. Kutahan tawa terujaku.


Bibir itu tersenyum mesum sambil menatapku. Kami saling menatap sejenak. Seperti mengawang saja kurasa. Lelaki ini selalu lihai memancing darahku untuk deras mengalir dan berdesir. Hanya dulu sekedar main-main. Tapi kini ucapannya serius menggoda bukan main.


Tapi kurasa sangat iba dengan kesabaran Errushqi pada keadaan di kampung halamanku di jawa. Selama satu minggu ini, kami terus berpisah dan tidak semenitpun sempat merebah untuk tidur di tempat yang sama.


Tiga hari pertama, Rushqi diungsikan jauh dari rumahku di salah satu tempat tinggal adik mama. Lalu kami bertemu untuk akad nikah yang berlanjut dengan dua hari pesta nikah.


Hingga selang dua hari pun, rumahku terus penuh sesak dengan kedatangan saudara mara dari seluruh pelosok kampung dan kota. Semua kamar penuh sesak dengan para saudara orang tua dan sepupu yang tak terkira jumlahnya. Meski aku anak tungggal sementara ini, saudara sepupuku melimpah banyak sekali.


Aku dan Rush tahu diri dan sangat malu jika nampak berdekatan. Kami sama-sama berusaha menjauh dan tidak saling rapat bertemu. Merasa sangat malu saat para sepupuku meledek. Mereka benar- benar menguji sabarku, bahkan kamarku pun penuh sesak dengan pera sepupuku.


Tetapi aku dan Rushqi sangat sadar dan bersyukur. Sebab adanya kedatangan mereka, seluruh rangkaian acara nikahanku berjalan lancar dan meriah.


Juga datang dua keluarga kecil dari dua kakak perempuan Errushqi di Solo. Mereka telah menetap dan hidup bahagia di kota Solo, Jawa Tengah. Tidak kusangka mereka hadir di rumahku sebagai perwakilan dari pihak keluarga suamiku.


Kakak-kakak suamiku cantik-cantik dan sopan. Sikap keduanya, juga kedua suaminya sangat ramah dan begitu baik kepadaku. Sayang sekali mereka cepat pulang, tidak sempat menginap sebab terkendala pekerjaan.

__ADS_1


"Maaf, di rumahku sangat ramai," ucapku kemudian, kuberi pengertian sambil kutepuk bahunya.


"Kamu tidak salah, Ling. Tapi akulah yang kurang gesit," sahut Rushqi padaku. Senyumnya mencurigakan.


"Maksudmu?" tanyaku memancing, pura-pura tidak paham.


"Harusnya kucuri peluang , setidaknya hanya untuk menciummu," ucap Rushqi dengan ekspresi sesalnya.


"Lamban," sahutku asal menimpali.


"Apa, aku lamban? Apa Putra selalu cepat?" tanya Rushqi menyelidik memandang melas padaku. Ingatannya pada mantanku yang tega itu selalu ada. Kasian sekali suamiku.


"Tidak, aku tidak pernah memberinya kesempatan sangat jauh. Tapi, dia hanya mencium pipiku, itupun sebab aku ulang tahun dan kami berpisah saat dia pergi ke Batam," jelasku agar suamiku merasa senang dan tenang. Mungkin itu sudah terlalu bagi Rushqi, tapi jujur bagiku menenangkan. Agar sedikit gugur, gunung dan rangkaian dosaku.


"Benarkah hanya seperti itu, Ling? Aku tidak menyangka sebatas itu, mengingat Putra adalah lelaki dewasa. Terimakasih, darling," sahut Errushqi terdengar lega dan gembira. Tanganku erat digenggamnya. Ah, baik sekali ternyata suamiku. Andai aku lebih ternoda dari itu, maknanya Errushqi telah siap menerimaku.


"Kamu, apa kamu tidak pernah?" tanyaku dengan iseng. Meski aku sudah yakin tentangnya.


"Dengan siapa? Cicak-cicak di kamar??" jawab Rushqi dengan mempererat genggamannya. Kami berdua sama-sama tersenyum. Beruntung sekali rasanya dinikahi oleh anak induk kos yang ternyata adalah yang terbaik bagiku.


Aku tersenyum dengan perjalanan panjangku yang singkat. Jika dulu kupergi ke Batam hanya demi seorang kekasih, kini kembali kupergi ke Batam demi sang suami. Ah, indah sekali kepergianku kali ini.


"Ada seseorang yang punya andil besar padamu. Mas Rush, tahu?" tanyaku menatapnya. Rushqi mengangkat alisnya bertanya."Siapa?" tanya Rush.


"Keke, dia yang membuatku berkerudung. Dia yang membuatku jadi baik. Ayahku sangat bahagia melihat perubahaanku ini. Ayah sangat percaya pada kebaikanmu. Ayah dan ibuku tidak tahu tentang Keke. Mereja juga tidak tahu bagaimana Putra pernah memperlakukanku seperti itu," ucapku menjelaskan. Mataku telah berkaca-kaca mengingat kembali kebaikan Keke padaku.


"Ah, iya Lingga. Semoga kelak Keke mendapatkan kebahagiannya sendiri," timpal Rushqi sungguh-sungguh.


"Aamiin," sahutku dengan kesedihan yang sangat. Rasa bersalahku akan ada hingga akhir hayat, kecuali jika Keke sudah bahagia dengan lelaki pilihannya..


πŸ•Έ


Saat adzan dzuhur tepat, kami tiba di rumah kluster Muka Kuning. Rumah tempat kamar sewaku yang sekarang sudah jadi rumah suamiku.


Bu Yanti menyambut dengan senyum takjub bahagia dan sedang menunggu kami untuk segera ke meja makan. Aku dan Rushqi saling pandang dengan penuh pengertian. Ke meja makanlah tempat pertama kami yang menyambut.

__ADS_1


Tempat yang memiliki andil besar untuk mencipta rasa antara aku dan Errushqi lambat laun tanpa sadar. Hanya Errushqi lah yang ternyata diam-diam cepat menyadari perasaannya, hingga dengan nekat berkata ingin menikahiku waktu itu. Yang akhirnya menikah juga kami sekarang.


πŸ•Έ


Setelah makan, Errushqi membawaku langsung melewati pintu menuju rumah induk dan naik ke lantai dua di kamarnya. Tidak lagi melalui loteng di kamarku. Ah, rasanya seperti mimpi dan masih selalu tak percaya. Errushqi telah menikah denganku dan kini sah menjadi suamiku.


Ketakutan jika Errushqi terus membuntutiku ternyata berlebihan. Lelaki itu hanya pasrah saat kusuruh duduk menunggu di sofa dan aku meluncur sendirian ke dalan kamar mandi. Akan kubersihkan diriku dengan tenang dan cermat. Akan kusiaapkan diri ini sebaik mungkin demi kuberikan pada suamiku tercinta seutuhnya.


πŸ•Έ


Sisir yang baru kuletak untuk menyisir rambut wangiku sedang kuletak saat Errushqi membuka pintu kamar mandi dan berjalan ke arahku. Suamiku terlihat kian cerah dan tampan setelah mandi dan mencuci rambutnya. Kami berdiri saling memandang dengan jarak sangat dekat dan hampir merapat.


"Kita istirahat dulu?" tanya Rushqi tersenyum penuh maksud dengan menaik turunkan alisnya yang lurus dan lebat.


"Iya, aku lelah," timpalku meski lelah itu sama sekali tak kurasa. Hanya debar di dada saja yang kini sedang hebat mendera.


Wajah tampan itu sudah tanpa senyum sekarang. Justru nampak kaku dan berubah gelap kemerahan. Tidak juga pergi ke ranjang namun justru kian merapat padaku.


"I want you, Lingga. Now,,," ucap Rushqi serak dengan lebih mendekatkan wajahnya.


"Me too... Do it, please,," sambutku malu tanpa ragu dengan rasa debar yang dahsyat.


Dengan cepat, Rushqi telah menciumi pipi dan seluruh wajah dan leherku. Juga begitu lama menenggelamkan bibirku dengan bibirnya. Baru dilepasnya setelah kudorong pelan bahunya. Kami sama-sama terengah dan tersengal.


Aku dan Rushqi sama-sama tersenyum. Aliran darahku terasa amat deras, hingga panas dingin kurasakan. Kurasa Errushqi pun sedang merasa demikian, wajahnya memerah dengan mata yang menggelap.


Kupasrah saat Errushqi membawaku ke ranjang. Direbahkan tubuhku dengan sebuah ciuman dalam di bibirku. Rasanya sedang mengawang dan seperti lupa segalanya. Hanya percaya dan pasrah jiwa raga dengan apapun yang sedang Errushqi coba lakukan padaku. Juga bahagia lahir batin dengan apapun yang sedang Errushqi rasakan dariku.


Surga dunia setelah rentet panjang pernikahan itu akhirnya kami lakukan dan rasakan. Berharap ini adalah awal surga indah pernikahan dari surga-surga lainnya yang menunggu. Dengan harap pernikahan kami akan abadi hingga kelak kematian membawa kami ke firdaus dan jannahNya!


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ•ΈπŸ•Έ


End...πŸ™πŸ˜˜ πŸŽπŸŽπŸŽπŸ“πŸ“πŸ“


Harap ikuti akun author rengginan ini yaa... Author sangat ingin dukunganmu di setiap karya baru author.. Author sangat kekuranga followers...πŸ˜­πŸ˜˜πŸ™

__ADS_1


Ikuti part 2 di The Bodyguard's Secrets yaaaa...



__ADS_2