
Sudah lima hari sejak dipecat miss Yong, aku sukses berat jadi seorang pengacara, alias pengangguran banyak acara. Beberapa kali memenuhi panggilan dari HRD perusahaan hingga beres tuntas urusanku.
Kuabaikan bujukan HRD yang sempat menawariku pindah divisi. Yang kebetulan beberapa kursi staff di bagian admin sedang kosong, tapi aku tidak ingin dan tidak tertarik.
Bahkan, Denis pun menawari untuk jadi asistennya di PPIC, tentu saja kuabaikan dengan sopan. Malas jika harus kembali bertatap mata dengan mantan boss galakku. Miss Yong pasti sangat sinis kepadaku.
Aku juga sibuk mengurusi segala barangku yang tak seberapa di asrama. Meski sedikit, tapi sedih saja jika tak kubereskan. Untung saja, aku bukanlah gadis pemuja barang. Jadi tidak suka beli-beli. Hanya buah dan makanan saja yang menarik untuk kubeli.
Selain barang, kunci di tanganku pun harus kupasrah kembali pada pihak pengelola di asrama. Aku tidak sendiri melakukannya, selalu ada Rush yang bersemangat menemani di sampingku.
Selain itu, juga sibuk lagi dengan ajakan Rushqi yang setengah memaksa untuk membawaku berkeliling pulau Batam saat malam. Kali ini aku sangat suka sikapnya, dia mengabaikan sikap keberatanku yang pura-pura, aku di paksa jalan-jalan tiap malam dengannya!
Meski tak pernah ditanya, patuhku menunjukkan jika aku sudah sudi setengah mati untuk segera dinikahi olehnya. Kurasa lelaki itu sudah mencuri sebagian jiwaku untuk selalu dibawa bersamanya. Yang ragaku juga ikut merindu untuk terus dekat di sampingnya. Ah, Rushqi,,, cepat menikahlah denganku.
๐ธ
Sedang kusetrika tiga helai bajuku dengan sangat licin sore ini. Persiapan untuk kostum jalan-jalanku petang nanti. Tiap pulang kerja pukul lima, Rushqi selalu mencariku agar bersiap untuk pergi keluar hingga malam. Bahagia sekali kurasakan.
Rushqi selalu membawaku berangkat jauh sebelum magrib. Yang akan singgah di masjid-masjid berbeda saat shalat maghrib dan isya. Juga memilih makan malam di luar. Hari-hari ini, bu Yanti cukup santai saat petang. Tidak repot di dapur sebab kami tidak ada.
"Ehemm..!"
Dehem ini pastilah si Rushqi. Aku tidak terkejut, sebab memang sudah sekitaran pukul lima. Sudah kuduga jika lelaki itu akan segera terbit di sekitarku.
"Sudah pul,,,, Ah, jorok!!" seruku saat kutoleh dan akan kusapa. Tidak lagi berani kupandang Errushqi.
"Kenapa kamu ini, Ling?" tanya Rushqi dengan nada suara usilnya.
"Mana bajumu?!" sengitku dengan rasa debar dadaku.
"Aku pakai celana. Pusarku tidak nampak," jawab Rushqi. Ada nada tertawa di suaranya.
Aku yakin jika Rushqi hanya sengaja menggoda usil padaku. Dia suka sekali seperti itu, memancing-mancing, tapi hanya sebatas main-main.
__ADS_1
"Ah, sudahlah. Ngapain ke sini kayak gitu, mana bajumu?" tegurku yang sebenarnya juga menahan tertawa.
"Nitip ya,, darling," ucap Rushqi dari sampingku. Mengulur sebuah kemeja lengan panjang warna hijau sage. Hampir sama warna dengan gamis cantikku yang sedang kusetrika.
"Ini kenapa sama warna dengan bajuku?" tanyaku heran pada lelaki di sampingku. Parfumnya sangat segar, pertanda dia sudah mandi. Entah sejak kapan dia pulang sore ini.
"Jodoh," sahut Rushqi tanpa ucapan basa basi. Kian berdebar saja hati ini kurasa.
"Halaah, kamu pasti sempat mengintipku diam-diam tadi kan?" tanyaku iseng pada Rushqi.
"Nggak sengaja, tadi mau nyari mbok Yanti minta disetrikakan. Tapi adanya kamu, lagi megang baju hijau," sahut Rushqi dengan jujur.
"Bener kan, kamu yang ngembari warna bajuku?" tanyaku sambil kusambar kemeja hijau itu dari tangannya. Lalu mulai kusetrika. Tiga helai bajuku sudah seฤบesai dengan teramat sangat licin.
"Kenapa, nggak suka kusamain?" tanya Rushqi dengan sedikit lebih memepetku. Ah, bisa bisa mati berdiri sebab susah bernafas aku nanti.
"Jangan begini, jauh-jauhlah. Malulah sedikit dengan prinsipmu yang tidak suka pada orang berpacaran. Kamu bahkan sama juga," kritisku pada kelakuan Errushqi .
"Apa kelakuan Putra dan kamu saat pacaran juga seperti ini?" tanya Rushqi dengan nada tidak suka.
"Baiklah, aku naik dulu. Kutunggu sambil istirahat di kamarku. Aku sangat lelah." Rushqi beranjak akan pergi.
"Jika lelah, tidak usah keluar. Istirahat saja malam ini?!" seruku sebelum Rushqi menghilang di balik pintu dapur. Ruang menyetrika baju ini di samping mushola anak kos.
"Malam ini sangat penting! Kita harus jalan-jalan! Antarkan bajuku jika sudah ya, Ling! Tolong!" sambut Rushqi berseru. Lelaki itu kemudian hilang di balik pintu dapur.
Ada-ada saja, harus jalan-jalan di malam penting ini katanya.. Apa tadi dia bilang, mengantar baju? Ke kamarnya??
๐ธ
Gamis hijau sage dengan kerudung warna sama sagenya, telah menempel rapat dan sempurna di badanku. Kurasa aku ini memang cantik sekali. Apalagi dengan warna hijau sage yang sedang sangat viral di seluruh jagad raya, rasanya semangat sekali petang ini..
Kini sedang kuseberangi lantai lotengku. Menuju kamar yang kuyakini milik lelaki yang akan segera jadi imam halalku.
__ADS_1
Rushqi sedang membuka pintu kamar memandangku. Wajahnya terkejut dengan kedatanganku. Mungkin lupa jika kemejanya sudah selesai kusetrika dari tadi. Atau mungkin juga sedang terpesona padaku.
"Aku sudah siap. Ini baju kamu, sudah kusetrika sangat licin. Mana bayaranku??" ucapku bercanda sambil kuulur bajunya.
"Hutang dulu. Letaklah di dalam, Lingga. Jangan di pintu. Pamali," ucap Rushqi dengan sedikit menepi.
"Modus," sahutku cepat dengan tegak kaku di tempatku.
"Tidak, bukan modus. Ini sungguh-sungguh," sahut Rushqi dengan menyambar cepat tanganku yang bergamis lengan panjang. Telah dibawa aku ke dalam kamarnya. Entah, aku tidak takut sama sekali. Hanya rasa debar dan resah saja yang seketika merajai hatiku.
"Jangan takut, Lingga. Kamu tegang sekali. Sini duduklah," ucap Rushqi dengan suara yang berubah. Dia ingin aku duduk di sofa kamarnya dan menghadap televisi.
Kurasa Rushqi pun sedang menutupi perasaannya. Aku yakin jika dia pun juga merasa tegang yang hebat. Dia seperti sedang mengukur ketebalan iman dan memberi cobaan untuk dirinya sendiri.
"Cepatlah bersiap. Kenapa juga aku harus kamu kurung dalam kamarmu?" tanyaku dengan asal belaka. Padahal tidak ada niat menolaknya. Aku sudah duduk di sofa kamar Rushqi.
"Kita latihan satu kamar. Hanya ingin tahu, bagaimana rasanya. Sebentar,, selama aku bersiap saja," ucap Rushqi tanpa memandangku.
Kurasa ucapanya sungguh-sungguh. Lelaki itu tidak ada niat yang buruk padaku. Jujur, akupun juga sekedar ingin tahu, merasakan berada dalam satu kamar dengannya. Dan jantungku berdegub sangat laju.
Rushqi memutar film komedi menarik dengan bintang favoritku, Will Smith. Kurasa Rushqi pun tak tahan sendiri dengan hening di dalam kamarnya bersamaku.
Meski dia tengah sibuk mengetik sesuatu di laptop, aku yakin jika sebagian fokusnya pun terpecah padaku. Mungkin dia akan lebih anteng dengan mendengar suara will smith dan juga tertawaku yang riang. Will Smith memang sangat lucu menggelikan.
๐ธ๐ธ๐ธ
Kakak-kakak readers, tolong kasih bintang 5 untuk novel ini ya... Kakak kakak yang sudah ngasih rate 5 dan ulasan, terimakasih...
Noodle In Love akan tamat malam ini. Jujur semua plot dan alur kupercepat. Sebab sepi sekali,,,, kurang semangat sekali rasanya.
Terimakasih buat kakak2 reader yg selalu memberiku semangat dengan caranya masing2... Aku padamu..
Dukung karyaku berikutnya dan semoga tidak membosankan... Love You...
__ADS_1
Komentar yg blm kubalas, sebab velum sempat.. Kejar tayang dan setoran..๐คฃ๐คฃ๐คฃ๐๐๐๐