Noodle In Love

Noodle In Love
41. Debat


__ADS_3

Jika tidak membawa mobil sendiri, Keke akan diantar jemput taksi. Sesekali juga diantar pulang Rushqi ke Nagoya. Tapi kali ini Rushqi tidak bisa mengantarnya.


"Sampai jumpa, Ling. Jangan lupa besok kembali ke asrama!" seru Keke padaku setelah berpamit salam pada Rushqi.


"Iya, Ke. See you!" sambutku pada Keke yang sudah duduk manis dalam taksi.


Kami saling melambai dengan melempar senyum lebar di bibir. Meski kali ini senyumku terasa tawar dan palsu. Hingga taksi yang ditumpangi Keke meluncur di jalanan menuju ibukota di Nagoya.


Kotolehkan kepalaku pada pria di samping agak di belakang. Yang Rushqi pun juga sedang memandangku. Kami cukup lama saling berpandangan tanpa kutahu harus berkata apa padanya. Merasa sangat canggung setelah tinggal berdua saja di gerbang.


"Kamu sudah kenyang, Lingga?" tanya Rushqi sambil beranjak pergi menuju latar parkir.


"Tentu saja aku sudah kenyang. Semua makananku telah habis sendiri olehku," jawabku dengan rasa jengah yang kurasa tiba-tiba padanya.


Rushqi menoleh dan memandangku sambil berjalan. Alisnya nampak bertaut dengan rapat. Mungkin sedang berfikir dengan makna ucapanku.


Bisa dibilang jika ucapanku adalah menyindir. Sebab, Rushqi telah menghabiskan setengah daging empal yang diletak Keke di piringnya. Keke terbiasa selalu makan sedikit seenak apapun hidangannya. Keke bertubuh lebih kurus dariku, namun lebih tinggi juga dariku.


"Apa kamu merasa terganggu denganku dan Keke?" tanya Rushqi yang sudah berhenti di mobilnya.

__ADS_1


"Aku tidak merasa terganggu, tapi hanya merasa risih saja," sahutku terus terang akan perasaanku. Entah, aku merasa sangat ingin mengadu dengan apa yang sedang kurasakan pada Rushqi secara langsung. Merasa puas jika dia mengerti sedikit dengan suasana hatiku.


"Kamu merasa risih dengan kedekatanku dan Keke?" tanya Rushqi lagi sambil masuk ke dalam mobil. Aku pun bergegas membuntuti. Langsung memilih duduk di sebelahnya. Mulutku diam tidak menjawab pertanyaan terakhir Rushqi padaku.


"Sorry jika kamu merasa risih. Lain kali jika kebetulan makan bersama, duduk saja di meja yang berlainan. Atau kamu bisa mengundang Putra untuk bergabung," sahut Rushqi dengan sinis dan nada menyindir tiba-tiba. Perkataannya yang bagiku sadis ini benar-benar nenyakiti perasaanku.


"Ucapanmu sangat tajam padaku. Dengar, aku tidak akan pernah sudi lagi untuk makan bersamamu dan duduk denganmu. Kecuali di meja makan rumah kosku. Sebab seluruh makanku sudah kubayar di muka pada ibumu. Ingat itu!" seruku dengan sangat emosi pada Rushqi.


"Jadi kamu masih ingin makan bersamaku jika di rumah? Makan berdua saja,,," ucap Rushqi landai dengan fokus di kemudinya. Tidak terpengaruh dengan emosi dan sengit ucapanku. Justru akulah yang kian darah tinggi dengan ucapannya.


"Tidak ada keinginan untuk makan berdua dengan calon suami orang. Aku tidak ingin!" sengitku dengan tajam. Seperti kerasukan saja aku merasa.


Rushqi menimpali ucapanku dengan menolehku sesaat. Wajah itu nampak serius memandangku.


"Kamu yakin sekali dengan tuduhanmu. Apa dasar ucapanmu? Kamu asal saja berbicara," sengitku lagi pada lelaki yang sedang membelokkan mobil ini ke sebuah rumah berpagar.


Rushqi nampak acuh pada ucapanku. Dengan tenang membawaku bersamanya ke garasi. Tidak menurunkanku di halaman gerbang seperti sebelumnya saat aku ikut. Aku merasa malas menanyakan.


Atau hatiku justru merasa suka saat dibawa bersama kian lama ke Garasi? Jadi sebenarnya ucapan Errushqi benar, tapi tidak kusadari faktanya?

__ADS_1


Rushqi telah sempurna menyandar mobil di garasi. Tapi lelaki itu masih belum membuka kunci pintu dan justru menyandar diam di kursi. Hatiku berdebar lebih kencang lagi menduga apa yang akan Rush katakan padaku.


"Kenapa pintu ini belum dibebaskan?" tanyaku pada Rushqi. Tidak lagi kurasa kesal pada Rushqi kali ini. Padahal sikapnya ini patut jadi mengesalkan hatiku.


"Aku hanya ingin menjelaskan sama kamu, Lingga. Dengarlah baik-baik. Kamu harus tahu jika rasanya cukup menyenangkan bisa makan berdua dengan calon istri orang." Dengan masih menyandar, Rushqi menoleh dan memandangku. Santai sekali gayanya.


"Siapa yang merasakan senang??" tanyaku merasa aneh dengan ulasannya.


"Aku,.rasanya sangat senang saat makan bareng denganmu. Jadi kurasa sama saja dengan yang kamu rasakan padaku, Lingga."


Bersama dengan ucapannya, Ruski membuka auto lock pintu mobil.


"Pikiranmu sangat sableng. Itu tidak benar!" seruku sambil membuka pintu berniat untuk keluar.


"Terserah, Lingga! Hanya ingin pesan denganmu, jika tak suka pakai baju apron saat kerja. Jangab pernah lagi memakai celana ketatmu itu ke perusahaan!" seru Rushqi sebelum aku turunkan kakiku dari mobil ayahnya.


Segala ucapan Rushqi terngiang keras di telinga dan kepalaku. Tak habis pikir dengan isi dalam kepalanya. Lelaki yang kembali suka bermulut pedas padaku, tapi makna dibalik segala ucapan tajam nya justru membuatku merasa teruja!


🕸🕸🕸

__ADS_1


__ADS_2