Noodle In Love

Noodle In Love
09. Bertiga


__ADS_3

Nasi goreng yang tadi kurasa sangat lancar melewati tenggorokan dan meluncur turun ke lambung, kini seperti tersangkut-sangkut dan susah sekali kutelan.


Merasa jika Rushqi sedang mengamatiku dalam kediaman, membuatku salah tingkah dan kikuk. Serasa menjadi gadis paling gagap dan bisu sedunia mendadak.


Meja kami hening terasa. Namun meja-meja di sekeliling kami terdengar sangat bising. Hanya meja yang kupilih inilah terus longgar. Tidak ada seorang pun yang minat untuk datang bergabung meja dengan kami.


"Lingga, apa kamu sangat lapar??" tegur Rushqi tiba-tiba. Dan kusamarkan rasa kagetku.


"Eh, iya mas. Maaf, aku tadi lupa tidak menawarimu makan," jawabku lancar meluncur.


"Kenapa tadi tidak sarapan dulu dan kamu berangkat pagi sekali?" tanya Rushqi kemudian. Kusambar cepat gelas minumku sekali lagi sebelum kubuka mulut ini kembali.


"Eh, iya mas. Ada pekerjaan yang belum kuselesaikan kemarin. Kamu pun juga pergi pagi sekali," jawabku selancar jalan tol sambil kupandang wajahnya.


"Menjemput Denis," sahutnya cepat dan singkat memberi alasan.


"Tidak kusangka kamu kerja di sini, Ling," ucap Rush menyambung.


"Tidak kusangka juga kamu kerja di sini, mas," sambutku berusaha setenang mungkin, mengungkap heranku sepertinya.


"Tapi kamu seperti sombong padaku, Ling ," ujar Rushqi mengeluh dengan nada kaku menatapku.


Kupandang wajahnya dengan mataku yang kian melebar. Tak tahu bagaimana kusahut opininya tentangku. Dia tidak paham bagaimana perasaanku.


"Aku bukan sombong dan sengaja tidak menyapamu. Tapi,,," ucapku menggantung. Denis telah datang dengan nampan lebar berisi dua baki makanan dan dua cangkir minuman.


"Kalian sudah saling berkenalan?" tanya Denis memandangku dan Rush bergantian. Sambil meletak pantat di kursi tepat depanku.


"Dia anak kos ibuku," sahut Rush begitu cepat dengan tetap memandangku. Denis nampak terkejut dan menatap lurus juga padaku.


"Ling, kamu kos di rumah Rush??" tanya Denis seperti tak habis pikir.

__ADS_1


"Iya,," jawabku singkat dan mengangguk.


Dua staff baru yang sama-sama menawan itu tidak sedikitpun melepas pandangan dariku. Nasib baik nasi gorengku sudah hampir habis. Jika tidak, rasanya akan susah menyikatnya dengan licin.


"Kalian ini sudah lama kenal kah?" tanya Denis sambil menyamankan duduk, masih nampak terheran. Aku dan Rush saling pandang. Lelaki itu memajukan dagunya padaku. Dia memintaku menjawab.


"Enggak, kok bang. Aku tidak tahu menahu jika mas Rush anak ibu kosku. Kami saling kenal baru beberapa hari ini," jelasku pada Denis apa adanya.


"Jika kamu ingin, rumahku juga terbuka lebar untuk tempat kos kamu, Ling," ucap Denis menyambar dan tersenyum lebar pada Rush.


Orang yang dipandang mengedikkan bahu tak peduli. Lalu menyambar cangkir kopi dan meneguknya perlahan. Rush selalu berekspresi nikmat saat menyesapi kopi hitam dari cangkir.


"Bang Denis, bagaimana kalian berteman?" kulirik Rush sekilas dan kembali kusimak wajah Denis. Nampak sibuk meniup irisan burger pedasnya dengan isian keju dan telur.


"Kami sama-sama alumni dari UGM. Sama-sama meninggalkan orang tua di Batam. Sama-sama alumni dari Kalimantan di pabrik batubara. Sama-sama mengisi lowongan kosong di perusahaan ini. Dan sama-sama terbang dari Kalimantan menuju Batam, demi sama-sama diterima di perusahaan mie ini. Paham, Ling?" jelas Denis dengan tersenyum, merasa itu adalah kebetulan yang unik dan sangat menyenangkan.


Dan kurasa pun memang begitu. Memiliki sahabat sejiwa adalah hal indah yang tak semua orang mendapatkan. Sepertiku saat ini, tidak memiliki sahabat yang sejalan.


"Orang-orang penting di perusahaan ini hampir semua orang Cina, Ling. Kujelaskan apa adanya. Mereka bisa mengerti dan meminta wawancara melalui video call. Ini sangat menyenangkan, apalagi saat mendapat kabar bahwa dua kemenangan posisi kosong lowongan telah jatuh pada kami berdua."


Denis menusuk irisan burgernya dengan garpu setelah selesai bercerita akan fakta dirinya dan juga Rush. Mereka berdua mulai karam dalam tangkuban burger pedas jumbo yang nampak empuk, lembut dan menggoda.


"Apa kamu merasa betah tinggal sendirian di Batam tanpa saudara, Ling?" tanya Denis setelah menelan isi burger lembutnya.


"Sempat juga tidak betah, bang. Tapi sekarang betah kok. Di tempat kosku itu rasanya cukup nyaman dan membuatku mulai kerasan," sahutku jujur pada Denis.


"Apa yang bikin kamu sempat tidak betah?" tanya Rush yang ternyata juga menyimak.


"Ya sebab aku sendirian. Kupikir teman rekrutku akan banyak. Tapi setelah aku ikut dan lulus tes QC, ternyata diberangkatkan lebih dulu sendirian di sini. Sedang seluruh temanku yang lain di lain tempat," keluhku tak sengaja pada mereka.


"Di mana teman-teman rekrutmu dari Blitar?" tanya Rush kembali.

__ADS_1


"Di perusahaan Panasonic, di kota Batam Center," jelasku pada Rush. Lelaki itu nampak fokus menyimak dengan mulut yang masih bergerak mengunyah.


"Kamu kan bisa datang ke sana saat libur, Ling,," ucap Denis memberi masukan padaku.


"Aku hampir nggak pernah libur, bang. Bossku selalu memintaku masuk kerja. Dia tidak menerima kata penolakan. Jika aku libur pun, belum tentu mereka juga libur," ucapku menerangkan alasanku pada Denis.


"Ya sudah, kamu ikhlas saja, semua akan ada hikmahnya. Anggap saja aku dan Denis sahabatmu," ujar Rush menyela dengan tiba-tiba.


"What,??! Rushqi?! Sejak kapan kamu bisa berteman dengan perempuan???" Denis tersenyum menganga pada lelaki di sebelahnya. Yang ditoleh nampak abai dan masih mencincang burger di bakinya.


"Jangan percaya, Ling. Rushqi ini janji palsu. Dia ini alergi cewek." Denis masih menoleh pada Rush dengan setengah menertawakan.


"Hei, Rush, kau tak usah sok manis jika tak sunguh-sungguh. Kamu paham makna sahabat? Meragukan kamu ini,," kata Denis meledek Rush.


"Lagian kamu ini sudah tua. Yang perlu kamu kebut tuh calon istri, bukan sahabat. Ngelindur kau, Rush,," ucap Denis menyambung, seperti tidak puas merutuki lelaki di sampingnya.


Rush samar tersenyum. Kepalanya menoleh dan memandang sebentar pada Denis.


"Kamu tuh, saatnya move on dariku. Jadi nggak perlu jeles jika aku punya kawan selainmu," ucap Rush kemudian.


Mata berpupil bintang itu tidak sekalipun memandangku. Mungkin Rush merasa canggung padaku. Yang aku sendiri pun tidak menyangka jika Rush telah menawarkan dirinya untuk kuanggap sahabat. Dan itu justru membuatku juga merasa canggung padanya.


"Hem, kita lihat saja, Rush. Mana ada cewek yang betah temenan sama kamu. Kamu kan kayak kayu, kaku,,,,!" pancing Denis akan kesabaran sang kawan.


"Akan lebih elastis dari silicon jika sudah kutemukan jodohku," sahut Rush dengan tenang tak terduga. Denis kian tak bisa menahan tawanya.


"Ha,, jadi diam-diam sudah tahap ngarep jodoh, kamu ya Rush? Ha,,ha,," sambut Denis terkikik.


Tawa Denis yang kecil terdengar konyol sebab ditahan dan lirih. Lelaki itu sadar jika kantin sangatlah sedang ramai. Aku masih tak mengerti, kenapa dua lelaki kompak ini bisa break di luar jam istirahat staff. Hanya ada kami bertiga saja yang mengenakan seragam staff.


Untukku, itu tidaklah mengherankan. QC lapangan terbiasa break mengikuti orang production. Tidak boleh zonk QC di area saat production sedang beroperasi mengeluarkan prodaknya.

__ADS_1


🕸


__ADS_2