
Tin..!! Tin...!!
Ini adalah Rushqi dengan mobil ayahnya dan sedang membuntutiku. Secepat apapun kuberjalan, pria itu selalu berada di belakangku juga akhirnya. Meski berakhir dengan hal yang sama. Kutolak tawarannya untuk berangkat kerja bersama.
Bukan tidak ingin menerima tawaran baiknya. Tapi tidak ingin membuat beban budi pribadi antara aku dan Rushqi. Yang bisa jadi akan membuatku segan hati saat perlu mengeluarkan lembar warning sebab defect yang terlalu di packing line.
Juga seperti biasa, bis mini akan segera datang menghampiri setelah Rushqi mendapat penolakan sopan dariku. Yang mobil itu tidak akan pergi sebelum bis mini yang mengangkutku ini berlalu.
Rushqi bukannya telah berlapang dada dengan sikap yang kembali manis dan hangat padaku. Tapi tetap saja dengan sikap tidak sukanya padaku.
Namun, seperti itulah,, Sikap mulia dan pedulinya hanya akan tumbuh saat berangkat kerja di pagi hari. Lelaki itu akan berubah cukup baik dan bahkan perhatian seperti yang baru saja kudapat.
🕸
Denis telah membuat product plan super quantity hari ini. Dan berlaku pada seluruh mesin di back end sekaligus di packing line. Sehingga tidak ada pergantian prodak satu harian ini.
Kasus seperti ini sangatlah menyenangkan tapi adalah hal yang begitu langka terjadi. Seluruh line leader, operator dan supervisor akan sangat bersantai dan santuy. Terutama bagi QC, yaitu diriku sangat santai bahagia hari ini.
Jika tidak ada pertukaran jenis prodak, maka orang packing tidak perlu repot lagi. Tidak perlu menukar bumbu, menukar wrapping atau kemasan paket, menukar kemasan bundle , menukar tanggal serta kode di permukaan pembungkus mie, tidak perlu menukar karton, serta tidak perlu mengecek lagi segala spek. Begitu juga diriku.
🕸
__ADS_1
Sedang iseng kutimbang nodle cake yang baru keluar dari cooling di back end. Banyak kujumpai kelebihan berat beberapa gram lebihnya di atas spek.
Kelebihan berat di noodle cake ini memang bukan lagi menjadi urusanku sepenuhnya. Sudah ada kak Ita yang cover back end dan aku tidak ingin menambah rumit lagi urusanku. Karena urusan di packing saja sudah membuatku mual muntah tak berkesudahan. Tapiiii..
"Woooiii..!! Bang Faruuuuq...!!" Kuberteriak membahana pada pemilik nama yang kebetulan nampak melintas di seberang line.
Leader back end itu seperti kijang yang begitu lincah meloncat dan menyusup. Yang dalam hitungan detik telah berdiri mendekatiku.
"Ada apa kamu ini, Ling? Sudah jaga packing depan sana, ngapain pulak kamu mundur-mundur??" tanya Faruq dengan jengah padaku.
Namun, wajahnya yang kelihatan itu sedang tersenyum lebar padaku. Orang-orang back end sering menyingkap maskernya ke bawah dagu. Sebab, back end terasa sangat panas dan menyengat.
"Bang, banyak banget over weight..?!" Aku berseru mengingatkan.
"Ingin sih tutup mata. Tapi prodak di packing juga ikutan over berat, bang.." Aku berkata mengeluh pada Faruq.
"Lagipula kasihan anak mixer. Udah tenang-tenang bikin adonan lain. Eh, adonan yang ini masih kurang. Sebab bang Faruq pemborosan,,!" seruku berharap agar bang Fafuqlah yang membuka matanya
"Iyaalaaaa... Gerak adjust lah ini aku, Ling..!" seru Faruq sambil berjalan cepat menjauh dariku. Kulepas punggung lebar Faruq dengan helaan lega nafasku. Faruq terlihat sedang mengolah kembali setting di mesinnya. Orang back jauh lebih responsive daripada anak packing yang cuek.
🕸
__ADS_1
Sedang kubawa lembaran warning ke tujuh belas dan delapan belas menuju ruang tempat supervisor mendekam di dalam.
Orang yang kucari sedang menelepon dan segera menyudahi panggilannya begitu kuganggu dengan masuk begitu saja. Aku sudah tidak pernah lagi mengetuk pintu sebelum masuk menjumpainya.
"Ada apa?" tanyanya padaku dengan raut yang malas. Melirik sepintas pada tanganku yang membawa lembar reminder untuknya.
"Paket mie instant banyak over weight di line F," ujarku pada defect di salah satu lembar warningku yang terbaru.
"Apa sudah kamu komplen ke orang back end?" tanya Rush datar. Kuakui dia sangat cepat. Sudah mulai paham dengan seluk beluk defect di areanya.
"Urusanku hanya denganmu." Kuharap Rush cepat turun ke lapangan untuk mencari solusinya.
"Apa ada defect lain?" tanya Rush sambil memandang lekat di mataku. Aku pun dengan cepat mengangguk.
"Operator pelempar oil sachet di line G sedang tidur-tidur. Ada defect beberapa paket tak ada oil di dalamnya," ulasku dengan cepat.
Aku sebenarnya sangat malas mengurusi kelakuan operator di packing line. Tapi bagaimana lagi, semua berhubungan langsung dengan kualitas dan keselamatan prodak di seluruh line di packing area jagaanku.
Rush tidak berkomentar apapun lagi padaku. Segera disambarnya dua lembar warning letter dari genggaman tanganku. Lelaki itu pasti akan pergi menegur operatornya yang mengantuk meski sudah kuberi teguran sebelumnya. Ini sungguh skill issue yang akupun merasa wajib untuk segera memberikan teguran keras pada mereka.
"Ling! Orang tuaku sudah sampai siang tadi. Saat pulang pukul tujuh, cepatlah sampai di rumah. Temanilah kami menerima tamu," pesan Rushqi padaku. Lelaki itu tiba-tiba berhenti dan berbalik untuk berbicara padaku yang mengekor keluar di belakangnya.
__ADS_1
"Iya,,," sambutku pelan sambil mengangguk pada Rush.
Aku risau jika suara kami didengar para operator di packing line. Ini bisa jadi akan menjadi gosip terbaru, sebagai bahan ghibah terhangat minggu ini di packing. Dengan tokoh supervisor mereka sendiri di production.