Noodle In Love

Noodle In Love
06. Ceroboh


__ADS_3

Selesai makan malam bersama Rush, kupergi ke kamarku. Melepas kerudungku dengan hanya memakai gamis rumahan dari bahan katun yang lembut.


Yang terkadang, akan ku ganti baju tidur yang lebih nyaman lagi, alias dress tidur serba pendek saat benar-benar pergi tidur. Meski ada mesin AC di kamar, aku jarang menyalakannya. Sedang Batam, sangat gerah dan lengket hawanya tiap hari.


Sholat isya sudah kutunaikan. Saat pulang kerja, langsung mandi dan membersihkan segalanya, termasuk mencuci pakaianku. Rasanya terasa lapang saat menuju meja makan dengan tanpa hutang dan tanggungan. Hanya perlu gosok gigi saja sebelum pergi tidur.


Aku akan naik ke atas loteng memandang bintang sambil menelepon teh Rani, teman QC yang sedang jaga malam. Ada satu tanggungan kerja yang lupa belum kutamatkan hari ini.


Meminta teh Rani untuk mengambil penimbang yang kuletak di mixer, lupa tak kubawa dan kuletak lagi di ofis. Khawatir jika hilang dan miss Yong akan menyemprot telingaku. Anak mixer terkadang suka usil pada QC. 


Bukan masalah mudah mengganti dengan membeli lagi di toko elektronik di luaran. Tapi, seluruh barang milik QC telah diberi kode seri dan tanda tangan dari miss Yong. Akan mudah baginya untuk mendeteksi jika itu adalah barang original milik QC atau bukan.


Meski misal barang pengganti jauh lebih bagus dan mahal daripada inventory QC yang hilang, miss Yong tetap saja akan murka. Dia itu sebegitu savednya pada barang inventory. Sungguh dia itu adalah atasan killer yang sangat meresahkan.


"Assalamu'alaikum. Halo, Ke,,," sapaku pada Keke, gadis berdarah Aceh dan Jawa, teman serumahku di asrama. Suara cemprengnya telah menyambut kaget panggilanku.


"Wa'alaikumsalam,, eh Velingga,,! Apa kabar kamu??!" seru Keke dari seberang. Sangat terkejut dengan panggilanku. 


"Baik, Ke.. Kamu apa kabar?" tanyaku pada Keke di seberang. 


"Alhamdulillah, Ling. Tumben kamu nelponin aku. Biasanya aku yang susah nelpon kamu. Aku nih kangen, kamu tahu nggak sih, Ling?!" kata Keke sangat seru di seberang.


"Iya, Ke. Aku juga kangen sama kamu. Ke, ada dengar kabar kapan auditnya di asrama nggak?" tanyaku pada Ike yang sedang menyimak.


"Dua minggu mendatang. Lama lagi, Ling. Nanti kukabari hari H nya. Kamu nyantai aja, ya.." Ike menerangkan dengan jelas padaku.


"Thanks, Ke. Jangan lupa ya.." tegasku pada Ike.

__ADS_1


"Iyaa sayangkuu… Don't worry deh, Ling," jawab Keke dengan nada melembut menjanjikan.


"Ya udah ya, Ke. Aku tadi lembur, lelah minta ampun. Kututup ini ya?" aku bermaksud ingin segera berpamitan.


"Dih,, tunggu, Ling. Bentar lagi aja. Kamu banyak lembur kan banyak duit. Seneng doong,," ucap Keke bersemangat padaku.


"Ke, nanti kalo pulang ke Asrama, kita makan bareng ya. Kutraktir,," janjiku pada Keke. Tak sabar ingin menyudahi panggilanku.


"Bener nih, Ling? Aku nggak minta yang muluk, ke Putra Solo aja ya, darling," ucap Keke kembali terdengar lembut bersemangat.


"Iyaa, siap. Tapi jangan lupa, nginfo," ucapku mengingatkan. Kusimpan suara tawaku dari Keke.


"Iya, iyaaa,," sahut Keke empat lima.


Akhirnya aku berpamitan juga pada Keke. Dan kututup sehabis jawaban salam darinya untukku. 


Keke adalah teman asramaku dari Aceh dan lebih dulu dua bulan di asrama daripada diriku. Ternyata, Keke memiliki rumah kontrak bersama temannya untuk tidak menginap di asrama. Dari dialah kudapatkan inspirasi untuk tinggal menyingkir dari rumah kami di asrama. 


Beberapa alasan kenapa rumah di asrama begitu tidak nyaman, akan kujelaskan perlahan kemudian. Yang jelas, aku tak berharap jika perusaahaan akan mengendus bahwa ada tempat lain yang selalu kutinggali.


"Eheemm!!" 


Eh, ya Robb!! Segera kutoleh asal sura. 


"Aaarrgghh,,,!!" teriakku menjerit keras di loteng.


"Linggaaa,,?!" seru lelaki dengan kelebat bayangnya mendekat.

__ADS_1


Segera kusadari jika kelebat lelaki itu adalah Errushqi. Tentu saja aku sangat gugup. Kepalaku sedang tidak mengenakan apapun. Sedang Rush sudah berdiri menjulang di depanku. Rush sedang menunduk menatapku. Rasanya tubuhku ini seperti jadi kaku tiba-tiba. Tapi, aku harus segera menghindar secepatnya.


"Permisi," sapaku dengan sedikit mundur di pintu loteng. Rushqi hanya memandangku dengan acuh tanpa segan. Rasanya ingin marah saja padanya. Dia seperti sengaja mempermalukanku.


Tubuhku berbalik dan dengan cepat kututup serta kukunci pintu loteng. Kuturuni tangga dengan debar laju di dada. Duduk di kursi meja rias sambil kupandangi diriku di sana.


Aku memang belum lama berhijab. Tapi, semenjak kuputuskan berkerudung, tidak sekali pun kubuka hijabku di depan orang. Bahkan di depan sesama perempuan sekali pun. Tiba-tiba merasa nyaman memakainya dan sangat malu jika melepas kerudung dan nampak rambut kepalaku.


Meski sedang mendung dan tanpa bintang, juga tanpa bulan di angkasa, tapi lampu loteng yang remang itu mampu menyorotku dengan jelas. Rush pasti dengan mudah telah menyisirku tanpa kerudung dengan matanya. 


Sebenarnya, bagaimana kelakuan lelaki itu? Benarkah sudah menikah? Tapi kenapa lancang sekali. Hatiku sangat geram pada Rush!


Lelaki itu muncul dari teras lantai dua di rumah induk. Yang sisi ujung teras lantai dua menyatu dengan lantai loteng di kamarku. 


Sepertinya Rush telah membuka tirai bambu yang selalu jadi penyekat. Sebagai pembatas dan pemisah antara teras rumah induk dengan lantai loteng di kamarku. 


Yang selalunya tersegel dan tidak pernah dibuka, tapi Rush telah melewatinya. Mungkin lelaki itu menempati kamar di lantai dua rumah induk. Dan mendengar keseruan bincangku bersama mbak Rani dan Keke di telepon. Lalu ingin tahu dan mencari suaraku.


Memang bukan salah Rush jika merasa kepo dan lalu mengintipku. Sebab ini juga kesalahanku sendiri. Rumah yang selalunya aman tanpa adanya pihak luar di lantai atas, kini sedang ada Rush. Aku lupa akan keberadaannya di rumah ini. Juga sangat menyesal dengan rasa cerobohku sendiri.


Hanya sangat keterlaluan, lelaki itu telah membuka serta melewati tirai dan nekat mendekatiku. Yang rasanya sama dengan diledek dan dipermalukan oleh Rush. Seharusnya, dia tidak usah muncul dan pura-pura tidak melihatku.


Lebih baik mengintip saja dan jangan menampakkan diri, untuk menjaga perasaan dan harga diriku. Tidak bisa dijabar lagi dengan kata, seberapa malu yang sedang kutanggung saat ini.


Rasanya begitu kesal dan kecewa dengan anak lelaki induk kosku. Seperti tidak ingin lagi berjumpa dengan Rush, entah esok hari atau juga kapan saja!


🕸🕸

__ADS_1


__ADS_2