
Anak induk kost tidak mengatakan pasti pukul berapa akan pulang dan bertemu. Bisa jadi akan pulang larut, namun tetap saja ingin berbincang denganku. Berniat tidur menunggu yang kuyakin Rush akan membangunkanku.
Namun, resah gelisah mencegah mataku merasa lelah meski sudah merebah sejak hampir satu jam yang lalu. Harap untuk memejam sejenak kurasa sia-sia.
Kuambil ponsel, barangkali ada pesan dari Rush yang tidak kudengar bunyi masuknya. Tapi tidak ada satu pesan pun yang masuk. Hanya pesan dari Keke lah satu-satunya pesan terbaru di aplikasi chat dan panggilan warna hijau di ponselku ini.
Kubaca berulang kali pesan dari Keke siang tadi. Pesan dengan isi yang sebenarnya memberiku presure sekaligus beban berat tersendiri padaku. Menuntutku untuk menjadi pribadi amanah yang pantas dipercaya.
Keke memang memiliki fantasi menyimpang, tapi dia sangat baik dan itu bukan keinginannya. Aku sangat paham perasaan dan deritanya. Keke sungguh tersiksa dengan kelainan jiwanya, yang dia sendiri pun sangat tak berdaya.
Keke sangat baik, terutama padaku. Sangat menyayangi dan perhatian kepadaku. Keke juga selalu berfikir yang terbaik untukku. Selama masih bersama, gadis itu juga selalu mengutamakan kepentingan dan keinginanku. Satu saja yang kusayangkan darinya. Punya minat sesat padaku. Namun, dia telah jujur dan berusaha menjaga diriku darinya.
Tapi, kini Keke sudah menemukan obat sesatnya. Yakni calon suaminya sendiri. Kali ini Keke telah rela akan berpasrah pada lelaki.
Yang sebelumnya, Keke tidak berminat, belum pernah dan tidak bisa menyukai lelaki. Hati Keke serasa mati pada lelaki. Bukan tidak ada lelaki yang menghampiri, bahkan banyak sekali hingga antri. Keke adalah gadis berkulit putih dan cantik sekali. Yang akan terlihat serasi dengan Errushqi..
🕸
Lampu ponsel menyala disusul bunyi dering yang jauh dari nyaring sebab sudah kuatur bunyi kecil. Sebuah nomor tanpa nama terpajang di layar sebagai alamat pemanggilku.
Segera kuyakini bahwa itu adalah Rushqi yang telah pulang dan kini mencariku. Meski kepalaku sedikit berat sebab tadi akhirnya tertidur. Kupaksa cepat bangun hanya demi menemui Errushqi. Kuteguk sebagian air isi botol agar mataku terbuka sempurna dan segar.
Kurasa tak perlu mengangkat panggilan darinya. Kuabaikan ponsel dengan mengambil kerudung dan lalu kugunakan di kepala. Kutepis ragu dengan melangkah maju meniti tangga dengan laju. Kuharap Rush sudah menungguku di loteng dan bukan aku yang harus menunggunya.
Kuputar kunci di pintu loteng dengan samar debar yang terasa di dada. Kubuka pelan pintu loteng sambil kusambar cepat tombol lampu. Lelaki yang ingin berjumpa dan berbincang denganku sedang berdiri menyandar di pagar loteng menghadap arah pintu. Rushqi tengah memandang ke arahku.
"Kamu tidur, Ling?" tanya Rushqi sambil meluruskan kakinya.
"Iya, sempat tidur sebentar. Kepalaku sedikit pusing," keluhku pada Rush.
"Sorry, Ling. Kupikir kamu tidak akan naik menemuiku. Panggilanku tidak kamu angkat. Kamu tahu itu nomorku? Simpanlah nomorku, Ling," ucap Rushqi. Lelaki itu berjalan mendekat ke arahku.
"Kamu masih mengantuk? Apa kamu buru-buru naik ke loteng?" tanya Rush memperhatikan wajahku.
"Iya, aku cepat-cepat naik ke sini," jawabku sambil mengangguk.
"Apa tidak sempat memakai gincu?" Rushqi tersenyum.
Pertanyaan Rushqi mengejutkanku. Untung ini malam di loteng dengan penerangan yang ala kadarnya. Jadi tidak akan jelas dilihatnya pias malu di wajahku. Hatiku mulai laju berdebar lagi di depannya.
"Kenapa diam, Ling? Apa sudah tidak mengantuk lagi?" tanya Rushqi tersenyum meledekku. Aku pun tersenyum, dia hanya bermaksud menghempas rasa ngantuk dan sakit kepalaku. Kuakui, caranya manjur sekali.
__ADS_1
"Iya. Kamu berhasil, aku sudah tidak mengantuk," sahutku tersenyum.
"Kenapa, apa yang ingin kamu bicarakan di loteng malam-malam denganku?" tanyaku pada Rush on point. Tidak ingin mengulur waktu lebih lama. Sudah pukul sepuluh lebih.
"Ceritakan dengan jujur, seperti apa hubungan kamu dengan Keke? Apa sama dengan hubungan kamu dengan Putra?" tanya Rush dengan tajam dan tak kalah on point padaku. Tidak kusangka jika Rushqi berkesimpulan secepat ini. Kelebat Keke hadir di benakku. Bagaimana ini..
"Aku dan Keke adalah teman akrab. Kenapa bertanya yang tidak pantas seperti itu?!" tegurku sengit pada Rush, meski sebenarnya aku tidak marah. Hanya kupikir keras tentang Keke.
"Aku tidak buta dan tidak bodoh, Lingga. Jujur sajalah padaku." Rushqi berbicara sambil berjalan maju mendekatiku Aku pun bergerak mundur menghindari badan besarnya dariku.
"Keke adalah gadis sangat baik. Apa menurutmu sikap Keke aneh?" tanyaku pada Rush dengan gugup. Badannya kian dibawa seperti akan menerjangku.
"Keke memang gadis baik. Dia sangat baik padamu. Hingga hal kecil tentangmu pun dia peduli. Tapi, kenapa kamu tidak sebaik itu pada Keke, Ling?" tanya Rushqi tajam padaku.
Pertanyaan Rushqi seperti menjebak. Rupanya lelaki ini benar-benar membuat penelitian akan aku dan Keke kemarin. Yang Rush memang bukan lelaki bodoh.
"Jujurlah, seperti apa hubunganmu dengan Keke?" Rushqi terdengar tidak sabar saat mengulangi tanyanya.
Hanya kudongak wajahnya dengan kakiku yang terus berjalan mundur. Hingga tubuhku membengur pagar loteng yang tingginya hampir sedadaku. Rush tak peduli dan kian maju merapat padaku.
"Mas Rushqi, stop di situ. Mundurlah sana, jangan seperti ini padaku!" seruku lirih. Jujur aku merasa waswas. Dadaku berdebar laju karenanya. Suara kami sangat jelas di tempat tinggi yang terbuka dan saat malam seperti ini. Risau jika bu Yanti memergoki.
"Kenapa tidak kamu tanyakan saja pada Keke. Dia calon istrimu. Kenapa justru mendesakku?" Aku memang merasa berat untuk jujur atau membuka aib Keke. Yang mungkin juga aibku.
"Saat ini aku hanya ingin bertanya padamu, Lingga. Sebab aku merasa lebih mengenalmu daripada Keke. Jujur saja padaku," desak Rushqi yang kembali memajukan dirinya padaku. Dia nekat sekali.
"Mundurlah, kenapa kamu jadi tidak sopan seperti ini?" protesku. Rushqi tengah mencondongkan tubuh ke arahku. Menopang kedua tangan di pagar.
"Katakan, atau kamu ingin kurapati?" Rushqi bertanya dengan suara beratnya. Membuatku kian resah dan panik. Sepertinya ucapannya tidak main-main dan kurasa aku tak ada pilihan lagi sekarang. Maafkan aku, Keke..
"Keke,, Keke lesbian," ujarku. Seperti batuk rejan saja rasanya saat kukatakan fakta Keke pada Rushqi, calon suaminya.
"Tapi mas Rushqi jangan khawatir. Dia telah berubah setelah dikenalkan denganmu," ujarku demi Keke. Tapi tiba-tiba Rushqi memajukan sedikit dirinya padaku. Kami hampir bersentuhan. Ah, lelaki lurus ini kurasa sudah jadi bengkok sekarang.
"Aku tidak buta dan bodoh, Lingga. Katakan padaku, apa kamu juga sepertinya?" tanya Rush tajam padaku. Cepat-cepat kugelengkan kepalaku.
"Tidak pernah terlintas ingin sepertinya," jawabku seperti sangat susah. Rush begitu dekat denganku.
"Kenapa kamu bisa dekat dengannya?" tanya Rushqi dengan posisi yang sama.
"Mundurlah dulu. Aku sesak, gerah," protesku pada Rush. Rasanya memang jadi susah bernafas dan berbicara, lelaki itu hampir menyentuhku.
__ADS_1
"Jawab dulu semua ingin tahuku," ujar Rush tidak mau mengalah.
"Aku dan Keke bisa dekat karena kami memang sudah terlanjur dekat. Aku pun tidak menyangka dia seorang yang sakit. Kurasa sangat kasihan dengannya. Dia juga ingin sembuh, tapi masih proses. Bantulah dia, mas Rush," ujarku lembut pada Rushqi. Berharap agar dia tidak terlalu detail bertanya.
"Sejauh apa yang sudah Keke buat padamu?" tanya Rushqi nampak belum puas.
"Seperti yang sudah kamu lihat," ujarku cepat dengan jengah. Kurasa dia mulai mengorek lebih lagi.
"Memeluk?" tanyanya lagi. Rushqi menatapku lekat seperti memintaku terus jujur. Aku tak sadar mengangguk.
"Memeluk seperti yang kamu lihat," sahutku.
"Menciummu? Mencium apa saja?" tanya Rush lagi dengan nada dingin menusuk.
"Seperti yang kamu lihat," ucapku jujur memandangnya.
"Hanya pipi?" Aku kembali mengangguk.
"Ini?" tanya Rush lagi sambil menunjuk bibirku dengan matanya. Reflek kugeleng kepala cepat-cepat.
Rushqi sangat tidak sopan, tapi terasa tak ada daya untuk marah dan menolak tanyanya. Berada hampir rapat dengannya, membuatku lemas dan berdebar seperti sehabis berlari kencang yang jauh.
"Apa Putra sering mencium inimu?" tanya Rush lagi, namun dengan tokoh yang berbeda.
"Kamu tidak perlu menanyaiku tentang apa saja yang sudah kulakukan dengan Putra. Kamu ini menanya tentangku apa tentang Keke?" protesku keberatan.
"Jadi Putra sudah sering menciummu?" Rushqi kembali bersikap mengesalkan. Aku terdiam merasa sakit hati. Dia menyibuk sekali dengan urusanku.
"Kurasa Keke lebih bersih darimu, Lingga," ucap Rushqi lirih, namun itu menyakiti perasaanku. Dia memang kolot menyebalkan.
"Terserah jika bagimu Keke lebih baik segalanya dariku. Itu sama sekali tidak penting. Lagian kalian akan menikah. Kalian harus bisa saling mempercayai," ucapku tulus demi Keke. Meski ada gores luka dengan ucapanku sendiri pada Rushqi. Juga anggapan Rushqi yang buruk padaku.
"Tapi Lingga, aku tetap ingin menikah denganmu." Rushqi yang berkata tegas dan lembut itu sangat mengjutkanku. Seperti tak percaya saja mendengarnya.
"Kamu jangan main-main. Keke sudah menyukaimu. Orang tua kalian sudah sangat bahagia dan berharap. Jangan bicara begitu lagi. Ucapanmu itu seperti doa, mas," ucapku menimpali. Rushqi adalah pria yang penuh kejutan bagiku.
"Ini memang doaku, Lingga. Ini belum terlanjur. Ini belum apa-apa. Aku juga berhak hidup bahagia. Menikahlah denganku saja,Lingga." Rushqi berkata lembut merayuku. Rasanya dia kembali meminta sungguh-sungguh.
Membuatku terkatup diam tak berkata. Membuatku kebingungan dan nelangsa. Posisiku ini terasa serba salah. Harus bagaimana aku dengan keinginan mereka. Antara harapan Errushqi dan juga harapan besar Keke untuk kembali ke jalan lurusNya.
🕸🕸
__ADS_1