
Meski sudah nampak salah tingkah, Rushqi masih bersikeras menunjukkan wibawanya. Tetap keberatan dengan sebutan pak dariku. Bahkan bilang jika akan menutup pintu gerbang rapat-rapat hingga Denis gagal mengantarkan coklat untukku.
Namun, tidak kutakuti ancamannya. Tetap kupanggil pak meski lelaki kekanakan itu terus bilang keberatan padaku. Yang ternyata pun, gerbang pagar yang tinggi itu tetap terbuka lebar untuk kedatangan Denis dan coklatnya. Bahkan kami mengobrol bertiga dengan seru hingga malam hampir larut.
🕸
Semangat bekerjaku kian menipis dan mungkin sebentar lagi akan habis. Hari ini, kembali tidak kubuat warning letter meski ada defect sebesar gajah yang melenggang di depan mataku.
Sudah kuduga, mbak Ita menyampaikan pesan miss Yong padaku agar menemuinya sebelum istirahat makan siang. Sedang menuju ofice QC demi memenuhi panggilan miss Yonglah kini aku sekarang berjalan.
"Permisi, miss Yong memanggil saya?" sapaku sopan saat kubuka ruang pribadinya yang serupa aquarium.
"Hemm," itulah gaya favorit miss Yong jika disapa bawahannya, sama persis dengan Rushqi.
"Ada apa, miss?" tanyaku dengan sopan.
Namun rasa debar juga gentar sama sekali tak kurasa. Jika dulu memang ada, sebab bisa dipastikan jika miss Yong memanggil, pasti ada kesalahan data dari tulisanku yang terdeteksi olehnya. Yang lalu dicuci bersih dengan mulut tajamnyalah aku akhirnya.
"Kemarin, kenapa tidak kamu buat high light satu defect pun?" tanya miss Yong dengan tatapan tajamnya padaku.
"Tidak kujumpai defect di seharian kemarin," sahutku dengan datar. Miss Yong nampak memicing mata dengan sikapku yang santai.
"Apa seluruh line mesin di back end area demikian sempurna?!" tanya miss Yong mulai dengan nada dan suara yang melengking. Sudah kuduga dengan lanjutan reaksinya begini. Sempat ragu jika sakit ginjal itu masih menyiksa tubuhnya.
"Kuanggap jika seluruh mesin dan seluruh produk sedang sangat sempurna, miss Yong," sahutku dengan lancar dan santai. Bersit harap akan ada kejadian penting untukku kali ini. Tanpa susah susah berbicara dengan pegawai di HRD.
__ADS_1
"Mesin bekerja dengan sempurna??? Orang-orang back end itu juga bekerja dengan sempurna?? Mungkinkah?? Itu tidak mungkin, Velingga!!" Miss Yong menjerit dengan melotot mata padaku.
Sah sudah, miss Yong telah benar-benar naik darah kali ini. Wanita itu anti menerima bantahan atau jawaban pembelaan diri sepatah kata pun dari kami.
"Tidak bolehkah tanpa reminder sehari saja?" tanyaku asal yang padahal aku paham benar dengan aturan yang ditetapkan miss Yong sejak dulu kala.
"Apa kau siap kupotong gaji sebab kuanggap tidak melakukan pekerjaan apapun, Velingga??!" tanya miss Yong melengking padaku, tentu dengan bola mata yang kian melotot.
"Jika Anda memotong gaji tanpa mengomeliku seperti ini, aku lebih rela tidak menulis defect sama sekali. Tapi jika anda sudah mengomel seperti ini dan kemudian potong gaji, tentu saja aku sakit hati," sahutku menjelaskan dengan lancar.
Wanita berkulit putih dengan wajah kurus dan tirus itu bertambah jadi merah padam sekarang. Kurasa sangat terkejut dengan sahutanku di setiap lengkingannya. Wanita yang mengapresiasi bukti kerja dari banyaknya defect yang di high light, pasti tidak menduga jika diriku tiba-tiba membangkang.
"Velingga! Sudah berapa reminder yang kau buat hingga tengah hari ini??!" tanya miss Yong yang seperti sudah tidak mungkin bicara rendah padaku. Suaranya terus melengking membahana.
"Tidak ada,,, emmh, belum ada, miss," sahutku dengan setenang mungkin. Aku berusaha tidak terpengaruh dan gentar sedikitpun dengan segala hardikan miss Yong padaku.
"Belum ada,,," ralatku datar yang maknanya tidak sama.
"Belum ada??! Sampai pukul berapa kamu mampu menjumpai defect?! Sebetulnya kamu buat kerja, tak buat kerja?! Kamu coba makan gaji buta??!!"
Miss Yong kian melengking padaku. Memang sengaja kupancing amarahnya. Akan sedikit lain cerita jika aku diam saja atau tanpa bantahan jika dia sedang berbicara.
"Kenapa miss Yong masih ragu pada orangmu sendiri? Bukankah segala record data di tiap line yang sudah terisi sempurna adalah bukti nyata kerja kami juga??" tanyaku tenang agar miss Yong sedikit saja membuka matanya.
"Velingga! Mulai kapan kau pandai bicara, hah??!" lengking miss Yong padaku sekali lagi. Tidak kusahut kali ini, sebenarnya kasihan dengan miss Yong. Ginjalnya yang kambuhlah sedikit membuatku risau.
__ADS_1
"Ikut aku Velingga!" seru miss Yong yang kemudian melangkah keluar. Kuikuti langkah panjangnya keluar dari ruangan. Kami berjalan menuju area produksi di back end.
Miss Yong berhenti di conveyor noodle cake setelah cooling pada salah satu mesin produksi di back end area.
Miss Yong mengambil mie kering beberapa potong tanpa peduli sarung tangan. Padahal itu adalah terlarang dilakukan. Ah, wanita ini munafiknya. Aturan yang ditetapkannya sendiri tinggallah aturan. Hanya warning letterlah yang utama baginya.
"See, Velingga, see!! Kau tak ada mata kah??!" lengking miss Yong membahana di area back end. Wanita itu sedang menimbang. Kupaham sangat maksudnya.
Kulirikkan mata di sekitar. Ada bang Faruq yang diam menyimak dari mesin di seberang. Juga para operator back end yang mencuri pandang kami takut-takut. Belum lagi anak-anak mikser dan leadernya yang menyorot kami dari atas. Memanglah kurasa malu, tapi sudah terlanjur.
"Saya tidak mau, miss Yong. Maafkan aku," tolakku saat miss Yong menyuruhku mendefect dengan warning. Semua dry noodle yang ditimbangnya over weight.
"Velingga!! Apa maksudmu??! Kau tak mau buat kerja, haah??!!" tanya miss Yong melengking.
"Saya ingin bekerja tanpa reminder saja," sahutku berusaha terus tenang. Puncak emosi miss Yong sebentar lagi akan tiba.
"Kau tak mau membuat reminder, maknanya kamu tidak mau jadi QC. Kamu mau berhenti kerja??!!" lengking miss Yong padaku. Inilah yang kutunggu.
"Dulu saya pernah tanya, bisakah saya resign dan berhenti kerja baik-baik, tapi Anda kata tidak bisa. Ijasahku akan hangus. Ternyata anda bohong padaku, miss!" sahutku sedikit keras. Mata sipit wanita itu melotot berkilat-kilat.
"Kau kemasi semua barangmu cepat-cepat. Tidak usah datang kerja lagi. Kau sungguh membangkang,,!!! jerit miss Yong menuding-nudingku seperti kerasukan. Ah, memang susuh memiliki atasan seorang wanita, mudah sekali bapernya.
"Itu memang sudah lama kuinginkan. Terimakasih, miss Yong. Jaga kesehatanmu," sahutku buru-buru, kemudian berbalik badan dengan cepat.
Terkejut sekali, sudah ada manager baru, Errushqi di belakangku. Juga ada Denis dan Nurlahi, supervisor di back end.
__ADS_1
Sempat kuangguk sedikit pada ketiga lelaki yang tiba-tiba sudah ada dan ikut menyimak. Yang entah sejak kapan mereka datang di belakang kami. Sebab sama-sama saling emosi, aku dan miss Yong tidak mendengar langkah kaki apapun dari mereka bertiga di belakang kami.
🕸🕸🕸