
Usaha untuk menarik tangan dari genggaman eratnya terus saja sia-sia. Sejenak mengalah membiarkan, tidak ingin nampak mencolok dan menguras perhatian banyak orang.
"Lepaskan dulu tanganku," ucapku memohon dengan lirih. Bu Yanti dan keluarga pak haji kurasa telah menyimak hal ini. Merasa segan sebab ini adalah acara kehormatan yang diadakan tuan rumah.
Lelaki itu sadar cepat dan cukup tahu diri untuk segera melepaskan tanganku.
"Maaf, Ling," ucap lelaki itu dengan mendekatkan sedikit wajahnya padaku. Mata ini nanar dengan dada berdebar kencang sebab panik yang terrasa diam-diam.
Lelaki yang sangat kuhindari, lelaki yang sudah teramat menyakiti hati, tak kusangka menjumpaiku di sini malam ini. Keberadaanku di muka bumi yang mulai nyaman selama ini, kembali terasa terguncang. Kuharap Putra, lelaki mantan pacarku itu tidak akan paham akan tinggalku di sini. Oh, ya Rabb, jauhkanlah diriku darinya.
Putra telah bersalam dengan bu Yanti dan kini bersembang sapa dengan pak haji dan bu haji. Sedang beberapa orang lelaki yang tadi datang bersama putra, telah duduk di kursi meja yang tersedia di depan panggung. Sepertinya Putra cukup kenal dekat dengan papanya si Rushqi, alias pak haji Harjo.
"Saya merasa lega jika Lingga ternyata tinggal di sini, pak Harjo," ucap Putra tersenyum sambil menolehku. Ah, dia pun tahu, serasa lunglai rasanya.
"Bagaimana bisa kamu sebagai calon suaminya tidak tahu di mana Velingga berada?" tanya pak Harjo.
Ingin kulempar sendal high heelku saja rasanya. Percaya diri sekali Putra mengakuiku sebagai calon istri. Kurasa Putra telah berubah menjadi seorang psikopat, lelaki berpribadi ganda. Ah, mimpi apa aku ini semalam? Ya Tuhankuuu..
"Dia pindah dari asrama saat saya pergi ke Canberra, pak. Nomor ponselnya pun sudah ditukar, ha,,ha,," ucap Putra sambil tertawa pada pak Haji dan kemudian kembali menolehku.
"Kenapa dia terkesan lari darimu, mas Putra?" tanya pak Harjo lagi dengan tersenyum.
"Velingga sedang marah dan kecewa padaku, pak. Sebab, saya terpaksa meninggalkannya sejenak ke Australia. Velingga tidak sabar menunggu saya hingga kembali dan kemudian menikahinya," ucap Putra begitu yakin sambil tersenyum menampakkan giginya yang rapi dan putih. Ucapan lelaki itu membuatku emosi.
Kuakui, lelaki itu memang penuh dengan seribu pesona rupa dan kharisma. Wanita mana yang tidak akan menoleh dan merasa ingin memilikinya?
Namun, tidak untuk sekarang. Kini sangat kusesali bahwa hatiku sempat terjatuh gila pada lelaki itu saat dulu.
__ADS_1
"Maaf, pak Harjo dan bu Harjo. Apa boleh saya berbincang sebentar dengan Lingga?" Putra kembali menolehku sejenak setelah berbicara pada kedua induk kosku.
"Oh, silahkan, mas Putra. Asal Velingga bersedia, saya tidak keberatan." Pak haji Harjo mengangguk bersetuju pada Putra. Hatiku berdegub sebab kesal yang sangat pada lelaki pegawai pajak yang sesuka hatinya. Kini dia telah melangkah bergeser kembali ke arahku.
"Lingga, kita harus bicara. Bagaimana jika kita keluar sebentar di rumah makan di ujung gang?" Putra sudah di depanku lagi dan sedang bertanya sangat lembut padaku. Dia memang seperti itu. Bahkan dengan gaya lembutnya, beberapa kali aku hampir sukses dirayu.
"Aku tidak ingin ke mana pun denganmu. Lagipula ini sudah malam," ujarku tegas pada Putra yang terlihat kecewa di wajahnya.
"Sebentar saja, Lingga. Aku janji," ucap Putra mencoba merayu.
"Aku tidak mau. Tolong berhentilah memaksaku ," ujarku kesal. Sebab lelaki itu memang akan selalu keras berkehendak padaku.
"Baiklah, tapi bagaimana jika di mobil saja, Ling?" Putra tidak putus asa mencoba mengajakku.
"Tidak. Aku tidak ingin ke mana pun denganmu," sahutku kukuh menolak.
Tidak, tidak, tidak! Wajah tampan itu sungguh mengancam seperti seorang penyihir. Tapi aku tak sudi lagi terseret dalam mantra sihir Putra. Hatiku sudah terlanjur pernah kecewa dan sakit olehnya. Tidak ingin ada peluang lagi untuk Putra membawa hatiku kembali.
"Bagaimana, Ling?" Putra terus saja bertanya. Ah, risih sekali kurasa. Jika terus didesak, aku takut akan kembali tergoda.
"Ehem, maaf. Saya terpaksa menengahi." Rushqi tiba-tiba berbicara. Aku dan Putra sama-sama menoleh dan memandang terheran pada Rushqi.
"Begini, mas. Berhubung Lingga sedang terlibat di acara keluarga saya, termaksud orang tua saya, serta Lingga keberatan untuk ikut bersama saudara, lebih baik saudara tunda sementara dulu keinginan untuk berbincang dengan calon istri saudara," ujar Rushqi dengan suara beratnya yang tegas pada Putra.
"Apakah saudara adalah putra pak Harjo?" tanya Putra sopan pada Rush.
"Benar. Kenalkan, nama saya Errushqi," sapa Rush dengan ramah pada Putra.
__ADS_1
"Saya bernama Putra," sahut Putra dengan hangat.
Sebab tadi sudah saling bersalaman saat awal masuk. Kini, Putra dan Rushqi hanya saling mengangguk menghargai.
Sepertinya Putra telah cukup memahami maksud Rushqi. Lelaki mantan pacarku itu sudah mengerti bahwa Rushqi adalah bagian dari acara yang harus di segani dan dihargai.
"Baiklah, Lingga. Aku akan datang lagi lain kali. Kuharap, saat itu kamu tidak menolakku lagi untuk membawamu berbicara." Putra memandangku sambil berbicara dengan tenang. Lalu menoleh pada Rushqi dan sedikit tersenyum.
"Maaf, sudah merepotkan. Saya permisi dulu untuk bergabung dengan teman-teman saya di meja," pamit Putra pada Rushqi yang dibalas dengan anggukan dan senyum sopan oleh Rush.
Putra telah duduk di antara para teman datangnya dari instansi perpajakan. Nampak gelisah dengan sesekali menoleh ke belakang ke arahku.
"Ehem!" dehem Rushqi yang sudah sangat kuhapal di sampingku. Kutoleh wajah Rusqi yang nampak masam seperti kembali mencemooh diriku.
"Mas, terimakasih ya." Kuabaikan masam wajahnya. Kuharap dia mengerti tujuanku berterimakasih.
"Aku tak paham dengan sikapmu, Ling. Apa kamu tidak merasa rindu dengan kekasihmu? Diakah yang katamu di luar negeri?" tanya Rushqi lirih, mungkin ingin mengungkit.
"Maaf, aku tidak ingin membahas urusan pribadi di acara yang terhormat seperti ini, mas Rushqi."
Kukatakan tegas pada Rushqi. Kupalingkan pandangan ke arah lain, berharap dia tidak lagi berbicara yang bisa menyinggungku.
"Aku hanya heran dengan sikapmu yang abai pada calon suamimu," bisik Rushqi lirih dekat telingaku. Hanya kudongak wajahku sejenak padanya. Tapi kupilih bungkam tanpa ingin memberi jawaban.
Kupahami rasa herannya. Yang kenyatannya, Putra bukanlah siapa-siapaku lagi. Memang tidak kumengerti kenapa Putra masih menganggapku bukan orang lain. Masih mengakui jika aku calon istrinya. Kurasa akupun memang perlu bicara hal ini dengannya. Tapi tentu saja bukan sekarang.
Selain moment yang tidak tepat, tapi aku juga tidak siap. Perlu menenangkan hati untuk bicara berdua dengan Putra. Sedang perjumpaanku dengan lelaki itu kali ini, sangat tidak terduga. Aku tidak ingin hatiku kembali terseret olehnya begitu saja.
__ADS_1
🕸🕸🕸