
Beberapa menit berlalu..
Memang sama sekali tidak takut dan waswas lagi. Namun, posisi aman yang kupikir akan membuatku merasa tenang dan nyaman, justru resahlah yang sedang kurasakan.
Beberapa adegan baper di layar lebar itu tidak bisa lagi kuikuti. Merasa kikuk dan malu sendiri pada pria di sebelah yang sudah ibarat rival bagiku. Ya, seakan Rushqi sedang mengamatiku dengan perasaan stabil penuh benci.
Tapi,,, sebetulnya lelaki itu telah bersikap perhatian padaku. Bahkan, sudah beberapa kali melakukan tindakan baik padaku malam ini. Meski dengan caranya yang kasar dan sikap nya yang acuh padaku. Prasangka akan kebencian Rush yang sangat padaku, mulai memudar sendiri kurasakan.
"Aku akan tidur. Tontonan kekanakan ini hanya cocok dilihat oleh gadis yang suka pacaran sepertimu. Bangunkan aku jika sudah habis," bisik Rush tiba-tiba.
Bisikan Rush yang sangat lirih di telingaku, serasa menghentikan degup jantung dalam dada. Kaget sekali diriku. Dia kembali melempar bola api kebencian padaku.
Rushqi, dendam sekali kamu padaku. Hanya masalah kerja yang kamu bawa hingga di luar. Tapi, jangan harap aku akan diam dan tidak membalas pedasnya bicaramu, Rushqi!!
"Kamu memang sudah tua. Film sebagus inipun tidak menarik bagimu. Kurasa film dokumenter Ge tiga puluh es pe ka i sangat cocok untukmu. Atau film horor yang dibintangi almarhum bu Suzanna kah yang kamu suka? Keduanya adalah film zaman old, cocok untuk generasi tua sepertimu," bisikku puas pada Rush.
__ADS_1
Mata dengan bulu mata lentik panjang yang telah terpejam itu membuka kembali dengan memandang tajam padaku.
"Aku tidak suka film horor yang dibintangi artis yang tinggal nama itu. Bahkan filmnya lebih norak dan vulgar dari film yang sedang kamu tonton di layar depan itu," bisik Rushqi sangat lirih membalasku.
"Kamu perlu menonton film yang bagimu vulgar-vulgar itu. Agar tidak menjadi generasi tua yang kosong. Bukankah kamu sedang merilis pernikahan??" tanyaku berharap agar Rushqi sakit hati dan tersinggung.
"Jadi aku yang tidak pacaran dan tanpa pengalaman ini kamu anggap kosong dan bodoh?" tanya Rushqi sambil menjelingku nampak kesal.
"Apa kamu sudah merasa pintar yang vulgar-vulgar?" tanyaku mengejar ingin tahu. Melupakan rasa maluku yang tersingkir.
"Tentu saja aku sangat pintar,," sahut Rushqi dengan masih ingat untuk terus berbisik sangat lirih.
"Zamanku saat seusiamu telah lama berlalu. Bayangkan, betapa sangat pintarnya aku sekarang. Kamu sudah paham?" tanya Rush kembali berbicara.
Tapi Rushqi telah meletak rebah dirinya di sandaran. Matanya telah memejam dengan cepat kembali. Kurasa sudah saatnya berdamai dan bergencatan senjata sementara di antara kami berdua malam ini.
__ADS_1
Kulirik Denis yang sangat anteng dan fokus pada layar lebar di depan. Kurasa, Denis benar-benar menyukai layar lebar modern, dengan segala cerita yang diputarnya.
Aku pun ikut menyandar dengan pandangan lurus ke layar lebar di depan. Coba kuikuti jalan cerita yang sudah ketinggalan cukup panjang. Kepala ini juga tidak terlalu paham akan rentetan alurnya. Hanya memandang kosong ke depan tanpa adanya kedalaman feel cerita yang bisa kurasakan sedikit pun.
🕸
Denis baru saja berlalu dengan mobilnya. Kugegas masuk pagar meninggalkan Rush yang berjalan lambat di belakangku. Berharap jangan sampai ada percakapan lagi di antara kami berdua malam ini. Merasa sudah lelah dan tak ada mood lagi mendebatnya.
Anak kunci yang kuputarkan di lubang kunci mendadak kuhentikan. Merasa ada yang tertinggal dan itu adalah baju batik baru yang dibelikan Rush di butik. Di mana benda itu, aku lupa di mana kuletak, di mana juga kutinggalkan. Apa di gedung bioskop? Sakit sekali kepalaku.
Ah, bagaimana ini... Rush pasti sangat kecewa dengan sikap lupaku. Seperti tidak menghargai sama sekali pemberian anak lelaki induk kos itu padaku. Bagaimana ini...
Sebab tidak memiliki nomor ponsel Rush, pergi ke dapurlah jalan ninjaku. Berharap bertemu dengan lelaki bermulut tajam itu.
Namun kali ini, bahkan sudah hampir setengah jam kutunggu dengan teh hangat manis, Rush tidak kunjung datang muncul. Bisa jadi lelaki itu sudah terbang melayang di kamarnya. Aku pun bergegas pergi dari dapur. Mencoba abai dengan baju batik milikku. Berharap salah satu dari dua orang itu telah menyimpankannya untukku. Entah Rushqi,, entah Denis..
__ADS_1
🕸🕸🕸