
Tetaplah menjadi pemilik hatiku meski semesta tak menginginkan kita tetap bersatu
Sinar mentari mulai terlihat di ufuk timur. Cahayanya mulai menerobos ke dalam kamar yang di huni seorang gadis cantik. Gadis itu masih saja asyik di depan cerminnya. Tangan kanannya masih memoles bedak tipis di kedua pipinya. Tak lupa memoleskan liptin ke bibir mungilnya.
"Adek, buruan sarapan." Seruan keras itu terdengar dari arah meja makan.
"Iya bentar, bang." mendengar bahwa dirinya sudah di panggil oleh saudaranya. Gadis itu segera menuju ke sumber suara.
"Jangan lelet kalau jadi cewek," omel seorang cowok dengan postur tubuh tinggi, yang masih memakai celmek di tubuhnya sambil menyiapkan makanan.
"Iya maaf, bang," ucap gadis itu sambil mengambil nasi di hadapannya. Suara hentakan kaki dari arah tangga terdengar sangat gaduh.
"Davi, telat ya?" tanya seorang cowok yang baru saja turun dari tangga,dengan menenteng tas dan sepatunya.
"Udah tau masih aja nanya. Buruan sarapan jangan sampai telat ke sekolah," omel cowok bertubuh tinggi itu lagi kepada kedua adiknya.
"Olin, nanti berangkat sama bang Davi ya." gadis itu mengangguk paham.
__ADS_1
"Yahh bang tapi kan...."
Cowok yang di panggil abang oleh kedua remaja itu menatap cowok bernama Davi, "Nggak ada protes,"
Cowok bernama Davi itu menghelai nafas pasrah. Apa pun yang di katakan sang kakak tidak boleh di bantah.
"Tapi nanti bang Raven yang jemput aku?" tanya Olin sang adik bungsu.
Cowok bernama Raven menggeleng, "Nanti tetep pulang sama bang Davi. Bang Raven harus kerja soalnya." Olin mengangguk paham dengan ucapan sang kakak.
"Olin, juga." pamit dua kakak beradik pada saudara tertuanya.
"Iya hati-hati jangan ngebut, Dav," ucap Raven mewanti-wanti adik laki-lakinya.
Davi hanya mengacungkan satu jempolnya ke atas. Dan tak berapa lama motor cowok itu pun menghilang dari hadapan Raven.
***
Seorang cowok berdiri tepat di depan gerbang sekolah barunya. Pandanganya begitu susah di artikan sekarang. Antara senang atau sedih tidak ada yang tau perasaan cowok itu.
__ADS_1
"Mama harap, kamu bisa lebih baik di sekolah kamu yang baru ini. Jangan bandel, jangan suka berantem, apa lagi bikin bonyok anak orang," ucap seorang wanita paruh baya di samping cowok itu.
Ucapan sang mama membuat cowok itu menghembuskan nafasnya pasrah. "Ma Rio tuh nggak bikin bonyok anak orang,"
"Kata siapa nggak bikin bonyok. Si Fery sampai masuk rumah sakit gara-gara kamu tonjokin." sang mama mencoba membuat sang anak mengingat memori yang dia lupakan secara sengaja.
"Ya, tapi kan itu salah Fery sendiri ma, cari gara-gara ke aku. Lagian dulu bang Indra juga perna kan nonjokin anak orang trus di DO juga,"
"MARIO. Bisa-bisanya kamu ngungkit masalah abang kamu dulu. Kamu tuh bener-bener ya." nampaknya sang mama sudah kehilangan kesabaran. Dia menjewer telinga sang anak dengan gemas.
"Maa maa udah ma, maa malu di lihatin murid lain ma. Ma lepasin. Iya Rio minta maaf deh," ucap sang anak memelas.
"Udah buruan masuk.awas sampek kamu bikin onar lagi. Mama bakal masukin kamu ke pondok pesantren kalau kamu di DO lagi," ucap mamanya dengan wajah memerah.
"Iya nggak kok. Mario masuk dulu ma," ucap sang anak sambil mencium tangan sang mama.
"Eh Mar." langkah Mario terhenti. "Ntar pulangnya di jemput pak Slamet ya." Mario hanya mengangguk lalu melanjutkan langkahnya mencari ruang kepala sekolah.
__ADS_1