
Mario duduk di anak tangga memandang kearah pintu kelasnya. Dia melihat Olin yang baru saja keluar. Tanpa ba-bi-bu, Mario segera mengejar Olin yang hilang di persimpangan koridor.
"Heh, mau kemana?" ucap Mario sambil mencekal tangan Olin. Gadis itu kaget dan spontan menghempaskan tangannya.
"Ihh Mario, gue kaget."
"Sorry-sorry, habis lo jalan cepet banget. Mau kemana?" tanyanya lagi.
"Mau ke toilet kenapa? Ikut?" tanya Olin.
Mario meringis lalu menggeleng, "gue tungguin di sini aja deh." ucapnya membiarkan olin memasuki toilet perempuan.
Kira-kira sepuluh menit Mario menunggu Olin, akhirnya gadis itu pun keluar. Tanpa aba-aba mario segera menggandeng tangan olin pergi.
"Lo ngapain ngajak gue kesini, nggak ngerti panas apa." omel Olin saat dirinya dan Mario sudah berada di pinggir lapangan basket.
"Manja." ucap Mario sambil mengambil bola basket dan mulai memainkannya.
Olin hanya berdiri di tempatnya, memandang cowok yang saat ini sibuk dengan bola di tangannya. Mario sudah tidak memperdulikan keberadaan Olin lagi. Dia tetap berlari dan memasukan bola ke dalam ring.
"Tadi ngajak, sekarang di cuekin." ucap Olin lalu mendekati Mario.Bola di tangan Mario di ambil paksa oleh gadis itu.
"Heh, ngapain?!" tanya Mario heran.
"Ya main basket lah. Lo kira mau apaan." jawab Olin ketus. Dia mulai mendribell bola orange itu.
__ADS_1
"Emang bisa? Tinggi lo aja cuma 145,Lin. Mana nyampek," ejek Mario yang sedang berkacak pinggang sambil memandang Olin, dengan keringat yang sudah bercucuran di wajah tampannya.
Olin tak memperdulikan ocehan mario, dia terus mendribell bola dan berusaha memasukan ke dalam ring. Namun, nihil. Bola itu sama sekali tidak mencapai ring. Mario tersenyum tipis melihat kejadian itu.
"Di bilang nggak nyampek. Masih aja nekat." ejeknya, dan mengambil alih bola basket itu.
"Ish" Olin mulai sebal. Dia pergi dari tengah lapangan.
"Heh, mau kemana?!"
"Kantin." ucap Olin lalu melenggang pergi meninggalkan Mario.
"Sini aja dulu, di kantin masih sepi belom bell.ntar lo sendirian lagi," Mario berusaha mencegat Olin agar tidak pergi.
"Mending gue sendiri dari pada harus sama lo. Ngeselin!" ucap Olin lalu pergi.
"Ngambek nih?" tak ada jawaban.
"Lin, gue nggak ngatain lo. Sorry deh." Olin tetap diam.
"Olin." gadis itu masih diam sambil terus berjalan.
"Iya di maapin."
Mario tersenyum mendengar jawaban Olin, "Ntar pulang sekolah, gue anterin ya." ucap Mario yang sudah berada di depan olin sambil berjalan mundur.
__ADS_1
"Nggak usah."
"Gue maksa, gimana?"
Gadis itu menatap wajah tampan di depannya dengan sebal. "jalan lo di benerin, nabrak orang ntar."
"Nggak akan, gue ahli."
"Mar...."
Brukk
"Sorry ya temen gue kalau jalan gak pakek mata." ucap Olin kepada adik kelas yang tidak sengaja di tabrak oleh Mario tadi.
Adik kelas itu hanya mengangguk singkat, lalu pergi dari hadapan Olin dan Mario.
"Di bilang juga apa kan, sini." Olin menyodorkan tangan kanannya untuk membantu Mario berdiri.
Mario menerima uluran itu sambil tersenyum tipis.
"Makasih, Olin." ucapnya berterimakasih.
"Sama-sama."
"Jadi, pulang gue anter kan ya." tanya Mario lagi.
__ADS_1
"Terserah." jawab Olin sambil terus melangkah. Mario tersenyum lebar tanpa Olin ketahui.