
Mario baru saja sampai di garasi mobilnya, setelah berhasil memarkirkan mobil, dia segera keluar. Mata elangnya melihat mobil sedan hitam mewah keluaran terbaru sudah terparkir rapi di sebalah mobil sang kakak.
"Papa?" gumamnya, lalu pergi memasuki rumahnya.
"Assalamualaikum, Mario pulang." ucapnya keras saat melewati ruang keluarga. Disana sudah ada Indra dan Pandu sedang menonton TV.
"Nggak jawab dosa!" sentak Mario kesal.
"Wa'alaikumsalam, kamu dari mana aja jam segini baru pulang, mar?" jawab Mutia sambil bertanya dari arah meja makan.
"Main, ma. Sama Chio." jawab Mario sambil memasukan sebuah anggur ke mulutnya.
"Itu baju kamu kotor banget, kamu sama chio habis main apa?" tanya Mutia saat melihat baju Mario yang kotor.
"Cat semprot." jawab Mario masih terus memakan buah anggur di meja makan.
"Udah sana mandi, sholat habis itu kita makan malam bareng," perintah Mutia.
"Papa pulang, ma?"
"Iya, papa mu pulang masih di kamar istirahat."
"Yaudah Mario ke atas dulu." pamit Mario setelah mencium pipi kiri mamanya.
...***...
"Mama bener nggak pa-pa, ngebiarin rumah mama kosong?" tanya Davi di sela makannya.
Nilam mengangguk, "Nggak pa-pa, asal mama bisa sama kalian lagi."
"Tapi kan sayang ma, rumah segitu besarnya di biarin kosong." ucap Raven.
__ADS_1
"Iya udah besok biar mama jual," jawaban Nilam membuat ketiga anaknya menoleh kaget.
"Ma, kok di jual sih?"
"Ya habis dari pada kosong kan, sebenernya itu rumah mau mama kasih ke Raven kalau udah nikah, tapi kayaknya kakak kalian belum punya pacar deh."
"Bang raven sibuk ngurus kita, mangkanya jomblo ma," jawab Davi.
"Kok aku yang kena?" raven tak terima
"Kan sekarang ada mama, Raven kamu sekarang boleh kok nyari cewek buat jadi pasangan kamu."
Raven menghentikan makannya, "ma, nggak segampang itu."
"Gampang kok, abang aja yang nggak niat." Olin ikut nimbrung.
Raven berdecak. "Olin, diem!"
"Mama sangat senang kalau kamu punya pasangan, apa lagi seusia kamu kayak gini udah waktunya punya pacar." ucap Nilam lagi.
"Ma, bentar. Nunggu semester 6," jawab Raven.
"Kelamaan." saut Davi.
"Tau tuh, ntar keburu di duluin bang Davi loh." ucap Olin.
"Paan kok abang?!"
"Iya emang kan, bang Davi pacaran mulu,"
"Heh udah jangan berantem, buruan di habisin makanannya." perintah Nilam untuk menghindari perang mulut yang akan terjadi.
__ADS_1
...***...
"Papa pulang kok nggak ngasih tau aku?" tanya Mario di meja makan.
"Surprise." jawab sang papa ceria. Mario berdecak sebal mendengar jawaban papanya.
"Katanya besok kamu mau tanding ya?" tanya Hendry.
Mario mengangguk, "Cuma class meet doang kok, pa."
"Walaupun cuma class meet, setidaknya kamu ngelakuin hal yang baik sebagai pelajar. Bukan tawuran." Hendry sengaja menekankan kata 'tawuran'.
"Nggak lagi kek gitu, pa." jawab Mario.
"Mario banyak berubah, pa. Sejak dia pindah di sekolah ketiganya. Dia jadi lebih baik." Mutia ikut bersuara.
"Tuh, mama aja tau."
"Tapi reseknya tetep mendarah daging." saut Indra di sebelahnya.
Mario melirik tak suka ke pada Indra.
"Kenapa mata lo. Mau gue colok?" ucap Indra galak.
"Lo yang ngatain, lo sendiri yang galak."
"Dasar anoa!" ucap Indra.
"Lo tuh...."
Ucapan Mario terhenti saat Mutia melerai dua kakak beradik itu. "Udah ya kalian ini selalu aja berantem. Pakek acara nyebut nama hewan lagi. Ini ada Pandu loh."
__ADS_1
"Iya maap, ma." ucap Indra dan Mario bersamaan. Mereka pun kembali melanjutkan acara makan malam.