
"Nggak bisa. Masih ada urusan kampus."
"Olin biar pulang sama gue, bang." ucapan Mario mendapat tatapan tak percaya dari teman-temannya dan juga Davi.
"Emang lo siapa?" tanya Davi sangat cuek. Olin menatap Mario yang dengan barani menawarkan diri untuk mengantarnya. Padahal selama ini tidak ada cowok yang berani mengantarnya pulang.
"Gue Mario,bang. temen sebangku Olin," jawabnya sambil berdiri dan mengelurkan tangannya kedepan Davi.
Davi menyambut jabatan tangan dari Mario. "Oh lo anak baru itu ya?" Mario mengangguk.
"Yauda, Olin ntar tolong anterin pulang." ucapan Davi sudah seperti bos ke bawahannya.
Gilang, Alan, Saras dan Anya melongo atas ucapan Davi. Tumben sekali cowok itu mempercayai Olin pada cowok lain selain dirinya.
"Oke bang."
"Jangan mampir kemana mana, langsung pulang." ucapnya lagi. Mario mengangguk.
"Yaudah gue cabut dulu," pamit Davi. Mario kembali duduk, namun baru beberapa langkah Davi kembali lagi.
"Eh bentar deh. Gue kayak perna liat lo?" tanya Davi lagi.
Olin mengkerutkan dahinya, apakah sang kakak sudah kenal Mario sebelumnya.
"Abang kenal dia?" tanya Olin. Davi berpikir keras, mencoba mengumpulkan ingatannya.
"Lo yang waktu itu nemuin dompet gue yang jatoh, kan? Di depan indo3?" tanya Davi. Kini raut wajahnya tak sesagar dan segarang tadi. Malah lebih ke friendly.
"Iya bang itu gue."
"Wealah makasih ya. Makasih banyak loh. Mungkin tanpa lo dompet sama isinya udah raib deh. Walaupun isinya gak seberapa." ucap Davi cengengesan.
Semua yang di meja itu bengong. Mereka benar-benarĀ tidak percaya. Baru kali ini Davi bersikap layaknya teman kepada adik kelas. Apa lagi ini murid cowok. Jarang dan momen langka.
__ADS_1
"Iya bang sama-sama kok." ucap Mario sambil tersenyum.
"Kalau gitu tolongin gue bener-bener ya. Jagain Olin, nanti bawa dia pulang tanpa ada luka atau lecet sedikit pun." ucap Davi sambil tersenyum.
Senyuman Davi kali ini begitu lebar dan tulus. Tidak seperti biasanya, dia selalu tersenyum mengejek pada adik kelas.
"Pasti, bang." ucap Mario mengerti.
"Yaudah gue duluan."
Setelah kepergian Davi meja itu masih sepi. Tidak ada yang membuka percakapan terlebih dahulu.
"Mar." ucap Alan.
"Hmm."
"Lo pakek susuk ya?"
"Hah?"
"Ya enggak lah. Ngaco lo. Kalau gue pengen memikat ya bukan bang Davi lah. Olin aja langsung." Olin menoleh ke arah Mario. Olin kaget. Mario kaget. Semua yang di meja itu juga kaget.
Mereka semua diam, kaget dengan ucapan Mario barusan.
"Gimana gimana, Mar?" tanya Anya.
"Mar, jelasin tolong." ucap Saras masih dengan wajah kaget.
"Emm itu...." ucapan Mario terpotong.
"Gue balik ke kelas duluan." Olin pergi meninggalkan para teman-temannya yang masih kaget.
"Lah lah,Lin!" teriak Saras lalu pergi mengejar Olin.
__ADS_1
"Lin, tungguin. Eh kita bertiga belom bayar loh." ucap Anya tersadar.
"Biar gue bayarin." ucap Mario. Anya mengangguk lalu mengusul kedua sahabatnya.
---------------------------------------------
"Olin, tunggu!" ucap Saras yang berlari mengejar Olin.
"Lo... kenapa... sih... pakek... acara... lari, gue capek... ngejar tau." Saras berbicara dengan nafas yang tak beraturan.
"Lah lo ngapain ngejar gue?" Olin berbalik bertanya.
"Ya habis lo ninggalin gue gitu aja di kantin. Kenapa sih lo pergi? Gara gara omongan Mario tadi ya?" tanya Saras ingin tau.
"Nggak. Gue pergi karena udah mau bell juga."
"Lo salting ya, Lin?" tanya Saras lagi.
"Salting apaan sih. Nggak lah!"
"Emm yang bener?" tanya Saras sambil menggoda Olin.
"Iya."
"Masa?"
"Iya."
"Boong, kan."
"Iya." jawab Olin asal nyeplos.
"Nah kan boong lo. Huh dasar lo." ucap Saras mengejek.
__ADS_1
"Bu Ema dateng gaes." Anya datang dengan setengah berlari melewati Olin dan Saras yang berada di ambang pintu kelas. Anya langsung ngacir pergi ke bangkunya. Olin dan Saras pun mengikuti karena benar, bu Ema sudah berjalan ke arah kelas mereka.