Not To Be Angel

Not To Be Angel
Episode 17


__ADS_3

"Boleh minta nomor whatsapp lo?" Mario nampak malu. Olin diam sambil memandang Mario.


"Dek udah pulang." suara Raven terdengar dari arah rumah.


Mario melihat ke arah datangnya Raven. "Sore bang." sapa Mario sopan.


"Sore. Lo yang namanya Mario ya?" tanya Raven dengan wajah serius. Olin memandang takut ke arah abangnya. Takut jika Mario dia apa-apa kan oleh sang kakak.


"Iya bang gue, Mario." jawab Mario santai.


"Dek masuk dulu gih. Bersihin badan mu trus istirahat." perintah Raven pada Olin. Gadis itu masih khawatir tapi tetap harus masuk.


Setelah kepergian Olin, wajah Raven tak seserius tadi. "Tadi Davi telvon gue, katanya Olin lo yang nganter. Kemaren juga katanya lo yang nganter Olin ya?" ucap Raven.


"Iya bang. Sorry kemaren gue nggak ketemu lo." jawab Mario jujur.


"Nggak pa-pa kok. Lo sama Olin temen doang kan?" tanya Raven ingin tau.


Mario mengangguk, "iya bang cuma temen doang."


"Lo tau nggak Olin itu susah banget deket sama cowo. Dia juga gak gampang percaya cowok gitu aja. Kecuali sama kedua abangnya aja. Kok bisa dia mau pulang sama lo?" tanya Raven lagi.


"Gue juga nggak tau sih bang, cuma dia emang cuek aja sama cowo." jawab Mario semengertinya.


Raven hanya mengangguk paham, "ada niat buat deketin adek gue nggak?" pertanyaan Raven membuat Mario sedikit berpikir. Salah jawab sedikit saja akan membuat efek yang berkepanjangan.


"Gue nggak tau bang." jawab Mario gugup.


"Kalau lo nggak tau. Itu berarti ada dua kemungkinan." Raven menggantungkan ucapannya.

__ADS_1


Nah kan ******. Batin Mario.


"Emm itu bang...."


"Kemungkinannya adalah lo bakal deketin adik gue, sama lo nggak akan deketin dia." ucap Raven.


"Gue kan murid baru bang. Jadi gue belom kenal Olin juga. Dan niatan buat deket dia juga belom kepikiran." jawab Mario sejujur jujurnya.


Lagi lagi Raven hanya mengangguk. "Kalau lo mau deketin adek gue. Lo tau kan harus berhadapan dengan siapa?"


"Iya bang gue paham kok."


"Syukur deh kalau lo tau. Udah sana balik dan makasih udah nganterin adik gue dengan selamat." ucap Raven lalu menutup gerbangnya.


"Astaga, abangnya serem amat ya." Ucap Mario sambil menaiki motornya dan pergi dari rumah Olin.


"Bang Raven nanyain apa aja ke Mario?" tanya Olin saat keduanya sedang berada di ruang tamu.


"Enggak, cuma tanya aja. Takut kalau dia abang ajak berantem." ucap Olin sambil memakan cemilan.


"Orang nggak salah kok di ajak berantem."


"Iya siapa tau aja lah. Abang kan suka gitu anaknya," Olin nyolot.


"Yang nggak percaya sama cowo itu siapa? Sekarang abang tanya? Kamu percaya siapa lagi kecuali abang sama bang Davi?"


Olin menggeleng, "nggak ada."


"Iya udah dong, kenapa nuduh abang mau ngajak berantem. Kalau dia nggak nyakitin kamu." ucap Raven.

__ADS_1


"Bener juga sih."


"Harusnya tuh kamu mulai membuka hati buat cowok. Mencoba percaya sama cowok yang mau deket sama kamu," Raven menatap adiknya yang juga menatapnya.


"Semua cowok sama bang. Mereka cuma manfaatin ketampanan mereka buat memperdaya setiap wanita." ucap Olin.


"Nggak semua cowok gitu, Lin. Sekarang abang tanya. Kenapa kamu percaya abang padahal abang kamu cowok juga. Kamu nggak takut di sakitin?"


"Kan beda lagi bang. Abang kan kakak kandung aku bukan orang lain. Dan kalau abang nyakitin aku kenapa nggak dari dulu-dulu aja. Kenapa malah mau hidup dan bahagiain aku sampai sekarang." jelas Olin.


"Itu mangkannya, Lin. Setiap orang itu beda. Cowok semua nggak sama, sifat mereka berbeda." Raven mencoba membuat adiknya percaya dengan apa yang dia katakan.


"Abang mau aku di sakitin kayak mama dulu?" entah keberanian dari mana Olin bisa mengucapkan kalimat itu. Seketika Raven terdiam.


"Abang nggak mau kan? Abang udah cukup jaga Olin baik-baik selama ini. Jangan sampai orang lain buat Olin sakit hati."


Kini Raven mengerti kenapa sang adik enggan dekat atau percaya dengan seorang cowok, kecuali dengan kedua kakaknya. Bahkan dengan sang papa saja dia tidak percaya. Alasan di masa lalu Olin yang membuat gadis itu seperti ini.


"Tapi jika ada seorang cowok yang bisa buat kamu bahagia dan bisa jaga kamu dengan baik. Abang akan percaya sama cowok itu. Dan nggak akan ngelarang kamu dekat dan berhubungan baik dengan cowok itu." ucap Raven dengan wajah serius.


"Masih belom ada bang."


"Ada kok."


"Siapa?" tanya Olin bingung.


"Mario," seketika Olin melongo.


"Mana ada sih Mario, bang." ucap Olin tak terima.

__ADS_1


"Iya liat aja ntar" Raven lalu kembali membaca majalah di tangannya. Dan Olin hanya mengkerutkan dahinya masih heran.


__ADS_2