Not To Be Angel

Not To Be Angel
Episode 41


__ADS_3

"Lo harus tetep maafin kedua orang tua lo, gimana pun keadaannya. Kesalahan berhak mendapat maaf dan kesempatan,jika hidup lo pengen berlanjut dengan bahagia tanpa beban." ucap Mario.


Olin terdiam, apa yang di katakan Mario benar. Dia harus memaafkan jika ingin kehidupannya kembali membaik.


"Coba berdamai dengan kenyataan yang ada, lin. Setiap hujan deras juga pasti akan reda pada waktunya," jelas Mario lagi.


Olin mengangguk yang jelas tidak di ketahui Mario di belakangnya. Karena jaket yang mario rentangkan di atas kepala Olin.


"Kita pulang ya, hujan semakin deres dan hari udah petang," ajak Mario.


"Gue nggak mau pulang kerumah. Gue pengen menangin pikiran," Mario paham dia harus membawa Olin kemana.


"Oke, ayok," ajaknya lalu memapah gadis itu menuju mobil.


Bell terdengar di telinga Mutia saat dia selesai menunaikan sholat magrib.


"Pandu, siapa yang datang hujan-hujan gini?" tanyanya pada anak bungsunya yang sedang bermain di ruang tengah.


"Nggak tau, ma." jawab Pandu dan kembali sibuk dengan mainannya.


Mutia membuka pintu depan lebar-lebar. "Mario, Olin kenapa?"


"Pingsan, ma."


"Cepat bawa ke kamar," perintah Mutia. Mario membawa Olin ke kamarnya.


"Biar mama yang urus. Kamu ganti baju dan sholat, keburu masuk angin nanti," perintah Mutia lagi. Mario mengangguk dan segera melakukan apa yang di perintahkan mamanya.

__ADS_1


"Siapa ma?" tanya Indra yang mendengar keributan di kamar Mario.


"Temennya mario, kamu bisa jaga Olin sebentar ,ndra? Mama mau ambil baju di kamar mama sama ambil minyak kayu putih." tanya Mutia.


"Bisa, ma." jawab Indra.


Mutia segera mengambil pakaian di kamarnya untuk Olin. Sementara itu Indra yang menjaga Olin sementara.


Beberapa menit berlalu akhirnya Mutia pun datang. "Kamu keluar dulu, mama mau ngurus Olin," perintah Mutia agar Indra keluar. Cowok itu mengangguk.


Setelah menutup pintu kamar Mario, si empunya kamar pun datang.


"Olin gimana?" tanyanya khawatir.


"Di dalem, masih di urus mama." jawab Indra sambil memandang adiknya. Wajah Mario begitu khawatir takut jika terjadi apa.


"Doain." ucap Mario singkat. Indra mengangguk.


Pintu kamar terbuka dan muncullah Mutia.


"Olin, gimana ma?" tanya Mario.


"Nggak pa-pa kok, dia cuma pingsan. Tadi dia udah bangun tapi mama suruh tidur lagi. Biarin dia istirahat."


"Mario boleh liat Olin, ma?" tanya Mario.


"Boleh, tapi pintu di buka lebar-lebar." ucap Mutia dengan melotot.

__ADS_1


"Astaga ma, nggak sempet mikirin ke situ." ucap Mario lalu memasuki kamarnya.


Indra dan Mutia pun pergi dari depan kamar Mario. Membiarkan cowok itu menjaga Olin.


Mario duduk di sisi ranjang. Dia memandang wajah pucat di depannya. Cekungan hitam terlihat di bawah mata gadis itu. Dia terlalu banyak menangis hari ini.


Mario menggenggam tangan Olin. "Gue yakin lo bisa lewatin ini." ucapnya.


Ponsel mario di atas nakas berdering. Dia segera mengangkatnya.


"*Hallo bang?"


"Olin sama lo?"


"Iya, dia di rumah gue, tadi udah gue suruh pulang, tapi dia nggak mau,katanya pengen nenangin pikirannya dulu"


"Sekarang dia gimana?"


"Dia baik-baik aja sekarang dia tidur bang, mungkin dia capek"


"Syukurlah, tolong jaga Olin ya, sorry gue ngerepotin lo."


"Nggak kok bang, gue bakal jaga Olin. Kalau kondisi mentalnya membaik, gue bakal bujuk dia biar pulang, lo jangan khawatir disini ada mama gue yang ngurusin olin*." jelas mario di sambungan telvon.


"*Oke, gue percaya sama lo, sekali lagi thanks ya."


"Iya bang*,"

__ADS_1


Mario menutup telvonnya saat suara Raven sudah tidak terdengar lagi. Dia memandang Olin cukup lama, lalu beranjak pergi keluar kamar.


__ADS_2