
"Lin, bangun udah pulang." ucap Mario sambil menepuk pipi Olin ringan.
"Hmm."
"Lin, bangun ayo pulang." ajak Mario lagi. Olin membuka perlahan kedua matanya. Dia masih mengumpulkan nyawanya kembali.
"Kok sepi?" tanya Olin saat sadar ruang kelas begitu sepi hanya ada dia dan Mario saja.
"Udah pulang semua." lapor Mario yang membuat Olin melotot.
"Kok lo gak bilang sih. Abang gue pasti nungguin." Olin langsung saja menyaut tas dan pergi melewati mario namun tas itu malah nyangkut di bangkunya yang membuat dia hampir jatuh untung Mario menangkapnya.
"Hati-hati, Lin." ucap Mario sambil memegang lengan Olin. Gadis itu masih kaget cukup lama dia diam.
"Makasih ya." ucapnya grogi.
"Udah ayo pulang. Gue udah telat latian vollynya."ucap Mario sambil mengandeng Olin lembut. Gadis itu hanya menurut tanpa melontarkan pertanyaan.
Sampai di lapangan volly Mario sudah di tunggu teman-temannya di tengah lapangan. Sejak kepindahannya disini Mario memilih mengikuti beberapa ektra olahraga, seperti basket, volly dan juga futsal.
__ADS_1
"Lin, lo tunggu sini aja ya. Gue mau latihan." ucap Mario lalu berlalu akan ganti baju. Namun tangan Olin mencegah.
"Lah ngapain gue disini. Gue kan mau pulang sama bang Davi" ucap Olin polos.
Mario tersenyum "lo pulang bareng gue. Bang Davi tadi yang nyuruh. Udah ya tenang aja. Lo tunggu di sini gue mau latihan volly." ucap Mario lalu pergi.
Olin hanya pasrah saja. Dia menunggu Mario selesai dengan kegiatannya dia tengah lapangan yang panas akibat cahaya matahari sore ini. Dua jam Olin mengawasi pergerakan cowok itu dari jauh.
Olin mencoba mendeskripsikan seorang Mario saat ini di dalam pikirannya, cowok dengan tubuh tinggi, berwajah tampan nan rupawan, alis tebal dan juga sedikit kumis tipis di wajahnya, serta menguasai beberapa olahraga. Tak ada yang kurang dari seorang Mario. Tak heran banyak yang menyukai cowok itu saat ini.
"Lin, minum gih." ucap Mar sambil menyodorkan sebotol air mineral ke arah Olin. Gadis itu menerimanya dan membuka tutup botol dengan sedikit kesusahan.
"Lo pasti nggak ada tenaga mangkannya nggak bisa buka tutup botol." ucap Mario. "Nih."
"Makasih." ucap Olin lalu meminumnya. Mario hanya melihat Olin dari samping.
"Lo kok nggak minum?" tanya Olin.
Mario menggeleng, "tadi udah, habis ini cari makan ya. Gue tau lo laper." Olin hanya memandang Mario dengan tatapan heran. Kenapa cowok pindahan ini begitu perhatian padanya.
__ADS_1
Kenapa perhatian banget sih sama gue, pulang di anterin, di suruh minum, di ajak makan. Bentar lagi di ajak nikah. Gumam Olin dalam hati.
Eh gaboleh baper, gue gak boleh percaya sama cowok gitu aja, ini pasti modus. Gue harus hati-hati. Gumam Olin lagi.
"Kita langsung pulang aja, Mar. Takut bang Raven nungguin." ucap Olin.
"Yakin nggak makan dulu?" tanya Mario, Olin menggeleng lagi.
"Yaudah, gue ganti baju dulu trus kita pulang. Bentar ya." setelah itu Mario pergi meninggalkan Olin di tribun sendiri.
---------------------------------------------
"Makasih, Mar." ucap Olin sambil memberikan helm pada Mario.
"Sama-sama." ucap Mario sambil tersenyum. Olin lalu pergi memasuki pelataran rumahnyam
"Eh Lin." langkah Olin terhenti.
"Kenapa?" tanya Olin heran.
__ADS_1