Not To Be Angel

Not To Be Angel
Episode 19


__ADS_3

"Kenapa lin?" tanya Mario menghampiri karena tidak mendengar suara Olin.


"Oh, itu piagam sama piala milik lo semua?" tanya Olin sedikit penasaran.


Mario mengangguk "Nggak semua tapi. Ada yang milik bang Indra, Pandu sama punyanya papa." jelas Mario.


"Lo pinter juga ya." ucap Olin sambil menatap piala besar di depannya.


"Nggak kok, cuma dulu kebutalan aja pinter. Sekarang mah nggak lagi."


"Ini lo dapet juara satu olimpiade matematika kelas 9 antar sekolah." ucap Olin membaca tulisan yang tertera di piala itu.


"Iya." jawab Mario singkat.


"Hebat," pekik Olin kagum.


"Tapi dulu. Sekarang udah nggak sepinter itu." jawab Mario yang membuat Olin melihat ke arahnya.


"Masa iya? Gue nggak percaya." ucap Olin.


"Gue beneran." jawab Mario meyakinkan.


Olin mengangguk paham, "kalau gitu gue bakal nantang lo."


Mario sedikit kaget dengan ucapan Olin. "Hah!??"


"Kita bersaing. Siapa yang nilai ulangannya paling tinggi dia yang menang. Dan yang menang bakal nraktir makan. Gimana?"


Mario sedikit berpikir dengan tawaran Olin kali ini. Momen ini adalah momen yang tidak boleh dia lewatkan. Kerena apa? Dengan dia menyetujui tantangan Olin, dia akan lebih dekat dengan gadis itu.


"Boleh." ucap Mario mantap.

__ADS_1


"Deal." dua tangan itu saling berjabatan untuk mencapai kesepakatan. Olin tersenyum lebar di depan Mario untuk pertama kalinya. Mario hanya memandang dengan senyuman yang juga tercetak di bibirnya.


"Yaudah kita mulai hari ini." ucap Mario dan di jawab anggukan oleh Olin. Mereka pun kembali mencari buku untuk referensi.


---------------------------------------------


Mutia baru saja sampai di rumahnya. Langkah kakinya terhenti, saat melihat empat anak SMA yang sedang duduk di atas karpet di ruang tamu sambil berkutat dengan buku masing-masing.


"Eh temen-temennya Mario ya?" sapanya pada ke empat anak remaja berseragam itu.


"Iya tante. Kamu temannya Mario." jawab Gilang sopan.


"Wah temennya Mario ganteng dan cantik-cantik ternyata." ucap Mutia dengan senyuman lebarnya.


Ke empat remaja itu hanya tersenyum ramah. "Saya mamanya Mario"


"Salam kenal tante, saya Gilang." ucap Gilang sambil mencium tangan Mutia.


"Saya Alan, tante." Alan juga tak mau kalah dengan Gilang.


"Itu yang cewek siapa?"


"Saya Saras. tante." ucap Saras ramah.


"Trus yang pakek bandana itu siapa?"


"Saya Anya. Tante." ucap anya sambil memamerkan giginya.


"ohh iya-iya, semoga tante nggk lupa ya." gurau Mutia.


"Trus anak tante kemana?" tanya Mutia yang tidak melihat anak tengahnya.

__ADS_1


"Masih di perpus lantai atas, tante. Nyari buku." jawab Saras.


Mutia hanya berohria "eh tante tadi udah masak banyak loh buat kalian. Pasti kalian pada laper ya. Ayo makan dulu." ajak Mutia sambil menggiring empat remaja itu seperti bebek.


"Nah, ini tadi tante masak banyak. Soalnya tadi pagi sebelum berangkat sekolah, Mario bilang, katanya nanti ada tugas kelompok di sini sama teman-temannya. Yaudah tante masak banyak deh." jelas Mutia dengan riang.


"Sebenernya nggak usah repot-repot, tante. Nggak pa-pa kok." ucap Anya.


"Halah, nggak repot. Sekalian ini tanda terimakasih tante ke kalian. Yang udah mau jadi temannya Mario setelah kepindahannya." ucap Mutia dengan tersenyum.


Mereka berempat hanya bisa tersenyum ramah. Menjaga image yang biasanya bar-bar sekarang harus sopan di hadapan orang tua.


Acara makan pun di mulai. Mereka berempat menikmati masakan Mutia.


"Loh mama udah pulang." tanya Mario yang datang dengan Olin di belakangnya sambil membawa beberapa buku.


"Eh ayo sini makan." ajak Mutia pada Mario dan Olin.


"Ini siapa?" tanya Mutia sambil memandang Olin.


"Olin, tante." jawab Olin dengan senyum di bibirnya.


"Haduh, kamu cantik banget sih. Sini-sini ayo makan bareng sama temen-temen kamu." Mutia mempersilahkan Olin duduk di samping Mario.


"Ayo yang mau nambah, silahkan nggak usah malu atau sungkan. Anggep rumah sendiri." ucap Mutia begitu ramah.


"Berarti kalau di jual nggak pa-pa, tente?" Alan selalu saja bertingkah tidak memiliki adab. Anya yang di sampingnya pun menginjak keras kaki Alan. Sang empunya kaki pun hanya meringis menahan sakit.


Sedangkan Mutia hanya tersenyum lebar mendengar ucapan Alan.


"Lu kira bisa seenaknya jual rumah orang. Rumah lo mau gue jual juga." yang tak terima adalah Mario. Dia melihat Alan dengan wajah garang.

__ADS_1


__ADS_2