Not To Be Angel

Not To Be Angel
Episode 48


__ADS_3

Wajah Olin yang tadinya ceria seketika sedih.


"Gue lupa belom cerita ke lo." ucapnya wajahnya terlihat sangat sedih. Mario kebingungan sebenarnya ada apa.


"Emang lo mau cerita apa?"


"Gue bakal pindah," setelah mengucapkan itu Olin menunduk.


"Maksud lo pindah gimana?" tanya Mario,


"Gue bakal pindah rumah plus pindah sekolah, mar." jawab Olin. Air matanya tergenang di pelupuk mata.


Mario kaget, "Lo serius?" Olin mengangguk singkat dia kembali menunduk.


"Gue nggak bakal ketemu lo lagi, seandainya..." gadis itu tidak melanjutkan lagi ucapannya.


"Seandainya apa, lin?"


Mata Olin berkaca-kaca, air mata itu sudah siap meluncur bebas di pipinya. Begitu juga dengan Mario, cowok itu khawatir akan berpisahnya dia dengan Olin. Mereka berdua baru saja dekat dan bersahabat. Apakah harus secepat itu berpisah?


"Lin..."


"Seandainya gue bilang 'mau' gue sekarang nggak akan ketemu lo. Berhubung gue ngomong 'nggak mau' jadi gue masih sekolah di sini." ucapnya. Wajah yang tadi mendung, air mata yang siap meluncur dan bibir yang tadi mengisyaratkan kesedihan seketika berubah.


Olin tertawa lepas. Mario masih belum sadar akan penjelasan yang baru saja dia dengar. Butuh waktu beberapa detik untuk Mario sadar.


"Maksud lo?" tanya Mario masih tidak paham.

__ADS_1


Olin menghentikan tawanya, "Jadi kemarin, mama minta gue dan abang-abang buat pindah ke rumahnya, dan otomatis gue juga harus pindah sekolah, awalnya sih kita tertarik, tapi setelah di pikir-pikir, enakan disini. Gue punya banyak teman, begitu juga bang Davi dan bang Raven. Akhirnya mama mutusin buat ikut tinggal di rumah kita." jelas Olin panjang lebar.


"Syukurlah, gue nggak harus kehilangan lo," sorak Mario girang setelah mendengar penjelasan Olin.


"Lebay deh, kan gue masih di sini. Mana mungkin sih gue ninggalin sahabat gue ini."


"Lo udah nganggep gue sahabat?" tanya Mario meyakinkan kembali. Olin mengangguk.


"Thanks." ucap Mario sambil terus tersenyum.


"Lo yakin nggak makan? Pasti lo laper."


Mario menggeleng, masih mempertahankan kebucinannya.


"Dah deh, mar. Makan ayo gue juga laper. Nggak usah sok jaim," ajak Olin sambil menarik lengan Mario.


Mereka berdua pun akhirnya berjalan menuju kantin, menyusul para sahabatnya yang sudah terlebih dulu ke sana.


---------------------------------------------


Mario baru saja sampai di sebuah gereja, jam menujukan pukul 4 sore. Tapi orang yang dia cari belum juga muncul. Dia memutuskan menunggu sambil duduk di kursi kayu panjang di dekatnya.


"Marimar!" teriakan keras itu membuat Mario menoleh.


"Cici!" Mario ikut berteriak.


Cowok yang tadinya mendekati ke arahnya seketika berhenti.

__ADS_1


"Gue gorok kalau lo manggil gue gitu lagi!" sentaknya tak suka.


Mario tertawa renyah, "Sorry." ucapnya.Cowok itu pun kembali berjalan mendekat.


"Lo kok sering kesini sekarang?"


"Gue sadar dosa gue banyak. Mangkanya tiap hari gue ke sini." jawab Chio seenaknya.


"Syukur deh, kalau lo sadar sekarang." ucap Mario di susul tertawa jahatnya.


Chio mencebikan bibirnya, "Jadi lo mau ngajak gue kemana? Nongkrong?"


Mario menggeleng dan mendekati mobilnya, "Ke suatu tempat." ucap Mario lalu memasuki mobil. Chio pun mengikuti apa yang di lakukan sahabatnya. Semenit kemudian mobil itu pun meninggalkan area gereja.


"Gimana sekolah lo?" tanya Chio di tengah perjalanan mereka.


"Iya gitu lah."


"Gitu gimana? Yang jelas kalau ngomong!"


"Lancar."


"Lo kok bisa sih di D.O ke dua kalinya?" tanya Chio yang baru mengerti kabar jika Mario kembali di keluarkan dari sekolah untuk kedua kalinya.


Mario menyalip sebuah truk muatan besar sebelum menjawab.


"Satu rahasia yang orang nggak tau. Gue bukan di keluarin. Tapi gue yang milih buat ngundurin diri."

__ADS_1


Chio mengerutkan keningnya, "Maksud lo?"


__ADS_2