Not To Be Angel

Not To Be Angel
Episode 54


__ADS_3

Pagi yang cerah dengan sinar matahari yang sudah menyinari bumi. Menandakan berlangsungnya awal hari baru di mulai. Olin sudah siap dengan dandanannya,tinggal menjalankan sarapan pagi saja.


"Pagi, ma." sapanya saat sudah berada di ruang makan.


"Pagi, sarapan dulu sebelum berangkat." ucap Nilam sambil memberikan sepiring nasi goreng pada Olin.


"Abang-abang kemana kok sepi, ma?" tanya Olin saat tidak menemukan kedua kakaknya di ruang makan.


"Bang Raven udah berangkat katanya ada hal mendadak, bang Davi ada latihan karena hari ini tanding basket." jelas Nilam.


"Trus Olin berangkat sama siapa dong?" Olin cemberut memikirkan nasibnya hari ini.


"Biar di anter pak Tono aja, mama biar bawa mobil sendiri ke kantor." jawab Nilam. Pak Tono adalah supir pribadi Nilam yang sudah bekerja bertahun-tahun lamanya. Olin hanya mengangguk dan melanjutkan makannya. Selesai sarapan, Olin segera keluar untuk menemui pak Tono di depan yang akan mengantarnya.


"Non Olin." ucap pak Tono sambil mendekati Olin yang baru saja keluar dari rumah.


"Kenapa pak?" tanya Olin.


"Itu non, di depan ada temennya non Olin," lapornya.


"Temen?" Olin mengerutkan dahinya, dia lalu tersenyum dan segera berlari menuju depan pagar.


"Mario," ucap Olin girang. Cowok yang di panggil seketika menoleh. Bukan, bukan Mario. Cowok itu adalah Chio sahabat karib Mario.


"Kok lo?" wajah Olin yang tadinya sumringah berubah kecewa.


"Gue di suruh mario buat nganter lo ke sekolah, ayo!" lapor Chio sambil membenarkan resleting jaketnya.


"Mario mana?" Olin masih penasaran mengapa mario tidak menjemputnya. Kemarin saja cowok itu tidak memberi kabar padanya.


Chio menatap wajah manis Olin lekat. "Dia ada urusan," Olin menunduk menyembunyikan sedihnya, dia sudah beberapa hari ini tidak bertemu dengan Mario sejak classmate berlangsung. Rasanya sangat hampa menurutnya.


"Lin, ayo." ajak Chio.


"Bentar gue pamit dulu," Olin pergi dari hadapan Chio dan segera mencari pak Tono. Setelah itu Olin pun menaiki motor milik Chio dan perlahan motor itu pun mulai meninggalkan rumah Olin.


***


Di perjalanan mereka berdua hanya diam. Chio melajukan motornya dengan kecepatan standart.


"Lo sekolah dimana?" tanya Olin saat mereka berdua berhenti di traffic light.


"Sma Pancasila," jawab Chio seadanya. Sebenarnya Chio adalah type cowok yang easy, dia juga ramah, dan perhatian, namun sedikit jail. Dia bersikap cuek dan dingin kepada Olin seperti ini karena ulah Mario, cowok itu mewanti-wantinya agar dia tidak mengoda Olin.


Traffic light pun berubah warna hijau, mereka pun kembali meneruskan perjalanan menuju SMA Garuda.


"Ntar lo gue jemput!" ucap Chio singkat. Tanpa melihat wajah Olin, dia sibuk menyimpan helm yang baru saja di pakai Olin di jok belakang motornya.


Olin tidak membuka suara, dia hanya mengangguk. Dirinya tidak berniat untuk bertanya kenapa Chio yang harus menjemputnya.


"Gue masuk duluan, makasih." ucap Olin lalu pergi dari hadapan Chio. Cowok itu mengangguk.


Beberapa siswi yang baru saja datang mencuri pandang ke arah Chio berada. Itu wajar, karena wajah Chio sebelas duabelas dengan Mario, alias sama-sama tampan. Bedanya, Chio sedikit chinese. Jika Mario dengan kelopak mata yang lebar, Chio memiliki kelopak mata lebih sipit. Yang di payungi dengan alis yang sedikit tebal. Chio segera memakai helmnya dan pergi dari sana.


Hari ini kelas 11 Ipa 2 hanya bertanding di bidang futsal. Karena di pertandingan basket mereka kalah, dan di volly baru besok mereka melawan kelas 12 Ips 2 yang menjadi penentu siapa yang akan mewakili sekolah di ajang pertandingan persahabatan nanti.


Olin berjalan gontai memasuki kelasnya yang lumayan sepi penduduk. Dia melihat Saras dan Anya yang duduk di bangku belakangnya.

__ADS_1


"Yang di tungguin akhirnya datang juga." ucap Anya memberi sambutan.


"Kenapa muka lo?" tanya Saras yang melihat wajah sahabatnya berbeda dari biasanya.


"Nggak," jawab Olin malas. Lalu duduk di bangkunya.


"Pasti kangen Mario kan, kan?" tebak Saras.


"Nggak tuh," elak Olin berbohong, yang sebenarnya merindukan Mario.


"Omg, lin, liat nih. Ini lo kan?" tanya Anya heboh sambil memperlihatkan layar ponselnya di hadapan Olin.


"Iya itu gue kenapa?" tanya Olin polos.


"Ini siapa?" tunjuk Anya kepada foto seorang cowok dengan jaket warna armynya.


"Oh, itu Chio. Temennya Mario yang tadi nganter gue," jawab Olin biasa saja.


Anya melongo sambil menatap wajah Olin tak percaya. "Apa sih?! liat-liat!" Saras ikut kepo.


"Bjir, ganteng amat." ucap Saras ikut kaget.


"Lo dapet foto itu dari mana?" tanya Olin. Anya nyengir kuda.


"Dari grup ciwi kelas 11 Ipa, jadi kalau ada gosip soal cogan. Gue tau." jawabnya sambil cengengesan. Olin hanya menggeleng pelan.


"Kok gue nggak lo ajak ikut grup itu sih?" ucap Saras.


"Lo nggak bilang," jawab Anya cuek.


"Eh lin, tapi kok bisa sih, cowok itu nganter lo?" Saras bertanya dengan ke kepoan tingkat agung.


"Anak sekolah mana, lin?" tanya Anya.


"Sma Pancasila, kenapa lo naksir?" Olin bertanya curiga ke sahabatnya yang satu ini. Anya mengangguk dengan binar mata takjub.


"Seandainya aja kalau Alan nggak ada, gue bisa naksir tuh cowok." jawab Anya blak-blakan.


Olin mengangguk, "Tapi kayaknya susah deh,"


"Kenapa?" tanya Saras penasaran.


"Kalian beda." ucap Olin.


"Maksudnya dia ganteng gue jelek gitu?"


Olin menggeleng, "keyakinan kalian yang beda." jelas Olin.


"Yahhh, susah banget kalau itu mah." ucap Anya sedih. "Tapi nggak apa-apa deh, gue masih punya Alan."


"Nah gitu aja, Setia!" ujar Saras.


"Eh, anak-anak volly nggak masuk?" tanya Olin sambil celingukan.


"Tuh lan bener, kangen Mario. Tadi aja ngelak sekarang nyariin lagi," olok Anya dengan suara kerasnya.


"Nggak gitu,"

__ADS_1


"Anak volly libur, soalnya besok mereka kan tanding lawan kakel." saut Saras.


"Sepi dong hari ini," ucap Olin dengan nada sedih.


"Sabar, yang penting kita pulang jam 11," sorak Anya girang.


"Prasaan beberapa hari juga pulang jam segitu, lebay!" ucap Saras. Anya hanya mencebikan bibirnya lalu sibuk dengan ponselnya. Sedangkan Olin dia mulai membaca novelnya.


***


Jam 4 sore Chio menemui Mario di tongkrongan baru mereka. Iya, di rumah kosong ini lah mereka berada. Sudah beberapa hari ini Mario dan Chio berada di tempat ini setiap sore.


Tujuannya masih sama, Mario belum menyelesaikan muralnya dan Chio belum selesai untuk menemani sahabatnya itu.


"Besok, lo nyuruh gue lagi nggak buat jemput Olin?" tanya Chio yang duduk di bawah.


"Nggak usah, gue besok yang bakal jemput dia. Gue kangen," ucap Mario sambil terus menggambar.


Chio mengangguk mengerti meski Mario tidak melihatnya, karena cowok itu membelakanginya. "Lukisan ini buat apa sih sebenernya?"


"Kado buat Olin." jawab Mario.


"Emang dia ulang tahun?"


Mario menggeleng, "Gue bikin ini untuk nunjukkin rasa sayang gue ke dia. Dia yang udah bisa berjalan lagi." jelas Mario.


"Kapan lo ngasih tau ke dia tentang ini?"


"Besok, setelah juara final di umumkan. Entah kalah atau menang, kado ini tetep akan gue tunjukin. Gue berharap,saat dia sedih akan dunianya,tempat ini yang jadi pelarian. Tempat yang akan selalu buat dia tersenyum meski gue nggak ada di sisinya." jelas Mario lagi. Chio terdiam.


"Gue pengen dia selalu bahagia, karena pada dasarnya dia berhak bahagia," lanjutnya lagi.


"Dia pasti seneng, gue yakin itu." ucap Chio trus memandangi kegiatan Mario dari belakang.


Lukisan mural itu sudah 70% jadi. Bukan hanya wajah Olin yang berada di sana, namun wajah Mario juga ada. Dalam lukisan itu mereka berdua saling menatap,saling tersenyum bahagia.


"Trus sampai kapan lo nyembunyiin semuanya, mar?" tanya Chio tiba-tiba. Mario menghentikan kegiatannya, Dia menunduk.


Tatapannya begitu kosong.


"Lo nggak berencana nutupin itu semua kan dari dia? Bukannya kalian berdua sudah jadi sahabat, itu tandanya satu sama lain harus saling tau?" Chio terus saja melontarkan pertanyaan. Dan semakin banyak pertanyaan, semakin diam juga Mario.


"Mar, cepat atau lambat dia bakalan tau siapa lo sebenernya. Saran gue mending lo cerita tentang masa lalu lo. Kalau emang kalian berdua pernah ngalamin hal yang sama. Biar kalian nggak salah faham nantinya,dan lo juga nggak akan kehilangan dia." ucap Chio menyarankan.


Mario menyerna setiap kata yang di katakan sahabatnya. Semua yang dikatakan Chio memang benar. Dia harus jujur meski semua itu menyakitkan.


Mario menatap Chio yang masih duduk di lantai. Cowok itu lalu tersenyum pada sahabatnya.


"Akan gue coba." ucapnya mantap.


"Gitu dong, berani ambil resiko. Apa pun yang terjadi nanti lo harus siap." mario mengangguk paham.


"Kelihatannya Olin juga udah mulai suka sama lo, kelihatan banget dari wajahnya tadi saat gue jemput. Dia ngira kalau lo, ternyata gue yang datang. Dia sedih banget." jelas Chio.


"Oh ya?" Mario tidak percaya, karena mustahil sekali Olin sedih saat tidak bertemu dengannya. Padahal dulu gadis itu selalu bertingkah acuh.


Chio mengangguk, "kayaknya habis ini ada yang bersatu," ejek Chio pada Mario. Mario melempar botol cat semprot yang kosong kearah Chio.

__ADS_1


"Woy, kena pala gue benjol, ogeb!" sentak Chio menghindari lemparan.


Mario tertawa sambil melanjutkan kegiatannya. Di belakangnya Chio juga ikut tersenyum lebar, melihat sahabatnya sedang kasmaran. Mario dan Chio pun masih saja di rumah kosong itu sampai matahari terbenam di ufuk barat.


__ADS_2