
"Bawa gue pergi!" mario pun mengangguk, dia menstater mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Olin. Terlihat dari kaca spion Raven dan Davi mengejar mobil Mario namun sia-sia.
Di dalam mobil Olin menangis sejadi-jadinya. Mario tidak tau harus berbuat apa. Dia hanya mampu melirik Olin lewat kaca spion tengah.
"Kita mau kemana,Lin?" tanya Mario.
"Taman lama." Mario pun melajukan mobilnya menuju tempat yang di maksud.
---------------------------------------------
Disini lah dua remaja itu berada, duduk di bangku kayu yang berada di sudut taman lama. Olin masih menangis dengan kencangnya. Mario hanya bisa memandangi gadis itu.
Dia tidak tau persis masalah yang sedang terjadi dengan gadis di sebelahnya.
"Lin?" Mario mencoba membuka suara.
Olin masih diam, lalu dia melihat wajah cowok disampingnya.
"Gimana perasaan lo, mar? Kalau tau orang yang sangat lo nantikan kehadirannya pulang?" tanya Olin tiba-tiba. Raut wajahnya begitu sayu tatapannya pun begitu kosong.
"Gue bakalan seneng,"jawaban Mario bukan membuat Olin tersenyum atau apa, malah membuat gadis itu kembali menangis.
__ADS_1
Semenit kemudian Olin tertawa hambar. "Begitu menyedihkan gue sekarang." ucapnya yang membuat Mario bingung.
"Lin, gue nggak tau persis masalah yang lo alamin sekarang. Gue nggak tau apa maksud lo." ucap Mario.
Olin memandang cowok itu sebentar dan kembali memandang matahari yang hampir separuh terbenam.
"Mama gue pulang." jawabnya, setetes air mata meluncur di pipi kanan Olin.
"Mama?"
"Mama kandung gue, orang yang sangat gue rindukan," Olin menjeda ucapannya.
Dia menunduk, "Orang yang juga gue benci sejak 7 tahun lalu!" Mario terdiam membiarkan Olin melanjutkan bicaranya.
"Orang tua gue bercerai, mar,"
Degg
Jantung Mario serasa berhenti seketika. Ternyata ini masalah yang Olin dan kedua abangnya alami selama ini.
"Hidup gue dan kedua kakak gue sebelumnya baik-baik aja. Kita bertiga nggak akan merasa kelaparan semua pasti tercukupi, tapi semua berubah saat wanita itu datang. Mama gue di tipu sama papa gue, ralat papa gue yang di tipu wanita ****** itu," Olin sesegukan sambil bercerita.
__ADS_1
"Papa gue selingkuh sama sekertarisnya sendiri, awalnya mama nggak tau semuanya, tapi lo ngerti kan sepandai-pandainya kita menutupi bangkai, bakal tercium juga. Semua terbongkar saat keuangan perusahaan menurun. Mama mulai curiga, dia turun tangan buat nyari akar masalah sebenernya. Papa ternyata menyembunyikan perselingkuhan hampir 2 tahun, dan hebatnya mama nggak tau. Wanita ****** itu memeras semua uang papa. Uang perusahaan, perusahaan yang slama ini susah payah papa dan mama bangun dari awal hancur gara-gara wanita ****** itu." Olin kembali menangis. Mario mencoba menenangkan dia mengelus pundak Olin.
"Dan sejak saat itu gue benci papa. Gue nggak perna mau ketemu sama dia. Sampai akhirnya dia meninggal karena serangan jantung." jelasnya lagi.
"Apa itu alasan lo nggak percaya sama laki-laki mana pun?" tanya mario.
Olin mengangguk, "Laki-laki itu hebat, mereka bisa menipu orang yang benar-benar tulus dengan memanfaatkan ketampanan mereka. Tapi mereka juga bodoh, saat mereka di atas puncak keberhasilan, mereka akan mudah di jatuhkan hanya karena uang dan wanita." ucap Olin ,sorot matanya begitu menampakan kebencian.
Mario paham sekarang, apa yang menjadi alasan gadis di sampingnya begitu tidak percaya dengan laki-laki manapun kecuali dua kakak kandungnya. Olin membenci papanya yang selama ini telah menipu mamanya. Itu mengapa dia berperilaku seperti ini kepada laki-laki.
Langit mulai gelap ,senja juga sudah mulai terlihat. Mendung yang tadinya masih berupa awan ,kini jatuh di bumi berupa air hujan.
Mario segera berdiri melepas jaket yang dia pakai untuk menutupi kepala olin dari derasnya air hujan. Sedangkan Olin, gadis itu tidak beranjak dari duduknya.
"Nggak seharusnya lo benci semua laki-laki yang lo temui, semua orang beda, lin." ucap Mario.
"Lo bilang kayak gitu karena lo nggak pernah ngerasain apa yang gue rasain selama ini, mar." suara Olin terdengar lirih di kalahkan oleh suara hujan.
Mario menunduk, pandangannya menatap dalan ke tanah. Air hujan bercucuran di sela-sela rambutnya yang basah. Dia menghembuskan nafas berat.
"Lo nggak bakal tau gimana rasanya tiap malam harus mendengar suara barang yang di banting secara sengaja. Pertengkaran yang selalu saja menjadi pengantar tidur gue. Seolah itu tanda awal mimpi buruk itu terjadi." jelas Olin lagi. Air matanya sudah bercampur dengan air hujan.
__ADS_1
"Lalu kenapa lo benci mama lo?" tanya Mario.
"Sejak perceraian itu mama lebih milih menyelamatkan perusahaan yang masih tersisa. Dia nggak pernah lagi ngurusin gue dan kakak gue. Dia fokus sama perusahaannya dan nggak perna pulang, Sampai-sampai dia nggak tau kalau ketiga anaknya sengsara sejak itu. Gue dan bang Davi pernah ngemis di jalanan, dan bang Raven hampir aja jadi kurir narkoba kalau saja bunda Mirna dan ayah Toni nggak nemuin kita bertiga."