Not To Be Angel

Not To Be Angel
Episode 57


__ADS_3

Davi baru saja menyelesaikan kegiatannya. Dia tidak bisa tidur alhasil dia berinisiatif membuat roti bakar yang biasanya dia buat. Cowok itu teringat akan adiknya. Olin sangat menyukai setiap makanan yang di buat oleh Davi.


Cowok itu mengetuk pintu kamar Olin berulang. Namun, tidak ada sahutan. Apakah adiknya sudah tidur?


Davi memutar knop pintu dengan tangan kirinya. Tidak di kunci. Dia mencari sang adik yang tidak ada di kasur. Davi melihat pintu balkon yang terbuka. Nampaknya Olin sedang berada disana. Dengan membawa sepiring roti bakar yang masih hangat, Davi mendekat ke arah balkon.


Benar, Olin sedang berada disana sambil melihat langit biru penuh bintang. Davi berdehem untuk menunjukan bahwa dirinya berada disana.


"Oh, bang Davi!" saut Olin memandang sang kakak.


"Belom tidur?" tanya Davi sambil mendekat ke arah dimana Olin duduk. Dia mengambil kursi di dekat Olin dan duduk disana.


"Belom, abang ngapain kesini?" tanya Olin balik.


Davi meletakan sepiring roti bakar di atas meja, "Tadi abang gabut, trus bikin ini. Mau?"


Olin mengangguk, dia mulai mengambil sepotong roti bakar dan memakannya.


"Abang nggak bisa tidur ya?" Davi mengangguk.


"Kamu sendiri kenapa nggak tidur? Besok kan ada acara pertandingan persahabatan di sekolah." Davi berbalik bertanya pada Olin.


"Nggak kenapa-napa bang, asik aja lihat bintang pas langit cerah kek gini. Lagian besok kan Olin cuma jadi penonton bukan yang ikut tanding," jelas Olin sambil trus memakan roti bakar yang tinggal setengah.


"Katanya Mario ya, yang mewakili tim volly sekolah buat acara besok?" tanya Davi menebak gosip yang reedengar pagi tadi.


Olin mengangguk, "Besok dia tanding lawan SMA Pancasila." jelas Olin memberitahu.


"Kasian, yang seminggu ini nggak ketemu Mario," ejek Davi pada adiknya. Olin langsung menatap mata kakanya dengan tajam.


"Ketemu tuh, tapi sebentar," jawabnya memelas.


Davi tersenyum simpul, "Mario baik banget ya anaknya, Dia kelihatan tegar padahal sebenernya banyak tekanan,"


"Kenapa abang tiba-tiba bilang gitu tentang Mario?"

__ADS_1


Davi menatap langit, "Nggak tau, tiba-tiba abang ngerasa ada yang beda sama dia. Abang ngerasa kesepian tiap kali menatap mata Mario. Abang kayak ngerasain semua derita yang abang alamin itu ada pada diri Mario."


"Sebelumnya, bang Davi nggak pernah kenal Mario kan?" tanya Olin.


Davi menggeleng, "Seinget abang awal kita ketemu itu, waktu dompet abang jatuh dan adiknya yang nemuin. Tapi nggak tau kenapa, abang berasa pernah lihat dia. Dan abang nggak tau dimana."


"Itu mungkin perasaan abang aja kali." ucap Olin. Davi mengangguk tak yakin dengan semuanya. Tapi memang, dia seperti tidak asing dengan wajah Mario. Meski mereka berdua baru saja kenal.


"Iyaudah, ini udah malem kamu tidur ya?" perintah halus Davi pada adiknya.


"Iya bang, Olin tidur kok habis ini." jawab Olin. Davi mengangguk paham dan berdiri dari duduknya.


"Oh iya, besok tolong ambilin laundryan jaket sama hoddy milik abang ya, di langganan kita." pinta Davi sebelum pergi.


"Okedeh," jawab Olin ceria. Davi pun tersenyum dan keluar dari kamar sang adik.


***


Jam menunjukan pukul 9 malam, Chio sudah sampai di tempat tujuannya. Di depannya berdiri terdapat sebuah rumah tongkrongan. Rumah warna namanya. Rumah itu adalah markas di mana bersarangnya para playboy sekota untuk membahas masalah cewek. Mobil dan motor berjajar rapi di sana.


Dulu Chio dan Mario sering datang kesini, namun sekarang sudah tidak pernah lagi keduanya menginjakan kaki disini. Tapi mereka berdua masih menjadi member tetap rumah warna.


Kedatangan Chio di sambut oleh kepulan asap rokok yang menyeruak keluar saat pintu di buka.


"Woy, Chio!" seru seorang cowok saat Chio mulai memasuki ruang utama.


Cowok itu hanya tersenyum tipis sambil memandang satu persatu cowok yang ada disana.


"Kemana aja lo? Nggak pernah kesini?" tanya seorang cowok yang baru saja keluar dari ruang tengah.


"Banyak urusan," jawab Chio cuek.


"Mario mana? Dia nggak kesini?" tanya seorang cowok yang tengah mengampit rokok di jarinya.


Chio hanya menjawab dengan menggeleng singkat.  "Ervan ada?" tanyanya.

__ADS_1


Cowok yang memiliki rupa paling badboy di antara yang lain pun menunjuk ke ruang tengah. Tanpa kata Chio pun menuju di mana Ervan berada.


Target sedang duduk membelakangi Chio. Tiba-tiba dia melempar surat pernyataan ke atas meja di depan Ervan. Cowok itu tidak kaget. Dia hanya melirik singkat Chio yang berdiri di sampingnya.


"Gue bakal gabung dengan tim," ucap Chio akhirnya.


Ervan tersenyum simpul. "Dhik, kasih Chio seragam kita yang baru," printah Ervan pada Dhikan.


Dhikan memberikan seragam baru yang sudah bertuliskan nama Chio berserta nomor punggung kebanggannya. Setelah menerima itu dia pun pergi dari sana.


"Gue tau kok alasan lo ikut?" ucap Ervan tiba-tiba.


"Mario!" lanjutnya lagi. Langkah Chio terhenti dia menoleh ke arah Ervan yang sekarang menatapnya.


"Iya kan?" tanyanya seolah mencari jawab pasti dari sang pelaku. Chio tidak menjawab dia memandang mata elang cowok di depannya.


Ervan tersenyum mengejek, "Lo nggak perlu takut, gue nggak akan ngelakuin hal aneh ke Mario." ucapnya.


"Gue sama sekali nggak percaya, yang namanya musuh selamanya akan jadi musuh," ucap Chio dengan tenang namun penuh amarah.


Lagi-lagi Ervan tertawa mengejek, "Jujur gue masih belum puas liat dia di D.O, tapi untuk kesempatan kali ini kayaknya gue emang harus bersikap baik ke dia. Gue juga menyesal nggak mengucapkan selamat tinggal," ucapnya dengan tatapan tajam.


Chio tersenyum kecut dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang di katakan cowok di depannya. Mana ada pemburu membiarkan mangsanya lepas di saat ada kesempatan emas untuk menerkamnya.


"Lo punya dendam awal apa sih ke Mario?" tanya Chio tak habis pikir. Ervan berjalan mendekati Chio.


"Lo mau tau kenapa?" cowok itu menjeda ucapannya.


"Karena gue pengen dia ngerasain kehancuran seperti yang gue alamin dulu," ucap Ervan berbisik di telinga Chio.


Chio terdiam, dia melihat raut wajah Ervan yang menampilkan kebencian yang sangat dalam. Beberapa detik kemudian Ervan tertawa.


"Tapi percuma gue ngasih tau lo, semua akan sia-sia. Sampaikan salam gue ke dia, makasih udah buat keluarga gue hancur selamanya!" Setelah mengucapkan itu Ervan pergi dari sana.


Chio berusaha menangkap apa maksud yang di katakan Ervan barusan.mengapa dia mengucapkan terimakasih pada Mario karena sudah membuat keluarganya hancur, ada apa sebenernya dengan mereka?.

__ADS_1


...Maaf mungkin bisa menyembuhkan luka yang menganga......


...Tapi tidak dengan bakasnya, dia akan selalu teringat meski seribu maaf sudah terucap🌷...


__ADS_2