Not To Be Angel

Not To Be Angel
Episode 13


__ADS_3

"Jangan pulang malem." ucap Mutia mengingatkan Mario yang kalau main bisa sampek malam dan lupa waktu. Mario hanya mengacungkan jempolnya ke atas.


"Woy anoa, mau kemana?" tanya Indra yang baru saja datang bersama Pandu.


"Pergi nyari rumput." ucap Mario sambil mengeluarkan motornya dari garasi.


"Mobil lo bisa minggir dikit nggak sih, nyet" ucap  Mario protes dengan mobil indra yang menghalangi jalannya.


"Lo aja yang bikin susah sendiri." Indra tak menghiraukan ucapan Mario dia malah memasuki rumahnya.


"Monyet emang!" teriak Mario keras.


Suara langkah kaki terdengar gaduh "Mar, ada apa sih teriak gitu? ini bukan di kebun bintang ngapain teriakin nama monyet segala." Mutia datang dengan Pandu di sampingnya.


"Tadi bang indra sama bang Mario. Ejek ejekan nama binatang, ma. Satunya manggil anoa satunya manggil monyet." lapor Pandu.


Mario yang masih repot mengeluarkan motornya berlagak tidak mendengar ucapan adiknya.


"Kamu jangan ikut-ikutan abang kamu ya. Mereka itu salah." ucap Mutia menasehati Pandu.


Mario masih saja berlagak budek, "Mario berangkat." ucapnya lalu pergi.


---------------------------------------------


"Ayo pesen, Mar." ucap Gilang semangat.


"Mana pelayannya?" tanya Mario sambil celingukan.


"Oh itu. Mas!" tangan Mario melambai ke arah pelayan cowok yang kebetulan lewat.


"Mas mau pesen." ucap Mario. "Loh bang Davi?"  Mario kaget saat siapa yang menjadi pelayan itu.

__ADS_1


"Mario, kan?" tanyanya kaget.


"Iya bang, Mario. ini Gilang sama Alan." ucap Mario memperkenalkan. Davi mengangguk.


"Lo kok bisa di sini bang?" tanya Alan.


"Emm ntar aja gue jelasin. Habis ini gue pulang kok. Gue catet dulu pesenan kalian." ucap Davi.


Tak butuh waktu lama Davi mengantarkan pesanan ketiga adik kelasnya itu. cowok itu sudah berganti setelah sudah tidak menggunakan seragam kerja lagi.


"Nih pesenan kalian." ucap Davi.


"Thanks bang."


"Lo kok ada disin, bang?" tanya Alan lagi.


"Gue kerja disini." jawabnya yang membuat ketiga cowok itu melongo.


"Jangan bilang ke Olin ya. gue nggak mau dia kepikiran."


"Gue cuma beralibi, karena hari ini gue kerja siang."


"Lo kok bisa kerja bang? Kenapa?" tanya Mario.


Davi menghembuskan nafasnya dalam. Dia harus bercerita saat ini. Meskipun dia harus bercerita kepada adik kelasnya yang tak lain teman adiknya sendiri.


"Gue kerja karena...." Davi menggantung kan ucapannya.


"Gue kerja karena pengen bantu bang Raven. Dia selama ini udah ngorbanin banyak waktu mudanya untuk buat adiknya bahagia Dia kerja paruh waktu untuk nyukupi kebutuhan gue dan Olin. Lama-lama gue mikir gue harus bisa bantu bang Raven gimana pun caranya. Akhirnya gue coba buat nyari lowongan dan ketrima disini."


"Gue kerja juga paruh waktu. Pagi sampai siang gue sekolah. Dan sore sampai malam gue kerja. Itu kenapa gue sering telat berangkat ke sekolah." jelas Davi dengan wajah seriusnya.

__ADS_1


"Trus, lo kenapa masuk siang hari ini?" tanya Alan.


"Temen gue cuti jadi gue yang harus ganti'in dia masuk siang."


"Lo udah lama bang kerja disini?" tanya Mario.


"Udah ada tiga bulan ini. Walaupun masih sebentar gue bersyukur bisa bantu bang Raven. Setidaknya biaya sekolah, uang jajan dan kebutuhan pribadi gue , bisa gue urus sendiri. Jadi bang Raven cukup fokus sama kuliah dan biaya sekolah Olin." jalas Davi lagi.


Mario, Gilang dan Alan saling diam. Mereka tidak menyangka jika Davi, senior yang terkenal belagu dan tengil malah berkepribadian lain jika di luar sekolah. Memilih bekerja paruh waktu untuk mencukupi kebutuhannya sendiri.


"Bang Raven tau lo kerja bang?" tanya Gilang.


"Bang Raven baru tau beberapa minggu ini. Dia sempet kaget kenapa gue malah ikut kerja. Kenapa nggak fokus aja ke sekolah. Tapi apa pun itu gue berkeinginan buat membantu beban bang Raven. Dia udah cukup tersiksa selama ini. Sekarang mungkin udah waktunya gue harus bantu dia."


"Gue mohon ya sama kalian. Jangan ceritain ini ke Olin. Gue bener-bener mohon." ucap Davi dengan raut wajah memohon.


"Kita jaga rahasia lo kok, bang." ucap Mario.


"Thankyou ya. Gue harus balik duluan." pamitnya kepada ketiga cowok itu.


Kepergian Davi menyisakan tanda tanya besar kepada ketiga cowok itu.


"Hidup Olin dan para abangnya sebenernya ada apa sih?" tanya Gilang.


"Mereka bertiga nampaknya baik-baik aja. Tapi kok bang Davi sampek kerja?" ucap Alan.


"Gue juga nggak tau. Apa lagi gue anak baru. Kalian anak lama yang udah dua tahun ini sama Olin gak tau latar belakang keluarganya?" tanya Mario.


Alan dan Gilang kompak menggeleng tak tau. "Mereka itu saling tertutup, rumahnya Olin aja nggak ada yang tau kecuali si Saras sama Anya. Dan mungkin cuma lo juga." ucap Gilang sambil menunjuk Mario.


"Semua terlihat baik-baik aja. Olin yang ceria, Davi yang tengil dan Raven yang tegas. Nggak perna nunjukin kalau mereka ada masalah. Bahkan perna ada masalah besar di hidup mereka bertiga." ucap Alan menjelaskan.

__ADS_1


"Tadi bang Davi bilang kalau masa remaja bang Raven hilang gara-gara harus kerja buat hidup adik-adiknya? trus orang tuanya kemana?" tanya Mario penasaran dengan kisah hidup Olin.


Gilang dan Alan menggeleng tak tau, "Udah deh Mar, nggak usah terlalu di pikir. Itu urusan pribadi mereka. Kita cukup jaga aja rahasia bang Davi dari Olin." Gilang mencoba membuat Mario tidak memikirkan keluarga Olin. Tapi itu justru membuat Mario kepikiran.


__ADS_2