
"Becanda kali, Mar. Baper banget." ucap Alan.
Semuanya hanya tersenyum kecuali Mario. Dia masih saja cemberut dengan ulah Alan. Tapi acara makan siang itu tetap lancar.
"Kita pamit dulu ya, Mar. Thanks buat makanannya." pamit Gilang di depan gerbang rumah Mario.
"Iya sama-sama, kalian hati-hati di jalan. Bawa anak gadis orang." ucap Mario mewanti-wanti layaknya ayah ke anak.
"Siap." ucap Alan sambil menstater motornya.
"Mario, salamin ke mama lo. Makasih." ucap Saras yang sudah duduk di boncengan motor Gilang.
"Iya, ntar gue bilang ke mama."
"Oke Mar. Bye." ucap mereka berempat kompak dan mulai meninggalkan rumah Mario.
Mario memasuki rumahnya. Dia melihat Olin yang sedang membantu Mutia beres-beres. Mario tersenyum tipis melihat keakraban dua hawa yang baru saja bertemu.
Olin nampak berbincang dengan Mutia sambil membereskan piring kotor untuk di cuci. Mereka berdua baru saja bertemu, namun Olin sepertinya sudah kenal lama dengan Mutia. Olin sangat berbeda sikapnya saat bersama seorang laki-laki dia akan bersikap cuek. Namun jika bertemu dengan perempuan dia sangatlah ramah seperti gadis pada umumnya.
"Ma pesenan mario tadi, udah?" tanya Mario sambil menghampiri mamanya.
"Udah mama siapin, di kantung plastik warna putih di meja sebelah lemari es." jawab Mutia. Mario lalu mengambil bungkusan tadi.
__ADS_1
"Lin, gue anter lo pulang sekarang ya. Nanti takutnya abang lo khawatir." ajak Mario yang di setujui oleh Olin.
"Tante, Olin pamit pulang dulu ya," pamit Olin sambil mencium tangan Mutia.
"Iya. Lain kali kamu maen kesini ya. tante masih pengen ngobrol sama kamu."
"Emm pasti tante" jawan Olin sambil tersenyum.
"Mario, nganter Olin dulu ma. Assalamualaikum." pamit Mario lalu pergi.
mario segera menuju garasi dan membuka pintu penumpang untuk Olin.
"Kok naik mobil?" tanya Olin heran.
"Biar aman aja. Jalanan kalau sore rame." jelas Mario sambil mempersilahkan Olin masuk.
Di sepanjang perjalan, dua remaja itu hanya diam. Tidak ada yang membuka suara terlebih dahulu. Jalan sore ini tidak terlalu ramai sehingga tidak membuat kepala Mario pusing jika bergelud dengan macetnya jalanan kota.
"Tadi ngomongin apa sama mama. Seru banget." tanya Mario tiba-tiba.
"emm cuma ngomongin hobby, karena hobby kita sama."
"Berkebun, ngoleksi berbagai macam bunga anggrek dan krisan." ucap Mario sambil melirik ke arah Olin.
__ADS_1
Olin tersenyum tipis, "Iya. Mangkannya obrolan gue dan mama lo nyambung. Dan kita terlihat akrab." Mario hanya mengangguk paham.
Mobil Mario berhenti melaju. Bukan karena sudah sampai di rumah Olin, namun dia berhenti dia sebuah kolong jembatan.
"Kita ngapain berhenti?" tanya Olin pada Mario yang mengambil bungkusan plastik tadi.
"Gue ada urusan. Bentaran doang lo tunggu sini aja." ucapnya lalu turun meninggalkan Olin sendiri di dalam mobil.
Mata Olin terus berpusat pada Mario yang berjalan menyusuri kolong jembatan itu. Sampai dia bertemu seorang anak dengan pakaian compang-camping, di badannya penuh dengan debu, dan satu tangannya memegang gitar kecil.
Anak itu nampak berbincang akbar dengan Mario. Bahkan Mario sampai tertawa cukup lama. Meski Olin tidak bisa mendengar tapi dia yakin Mario tertawa lepas mendengar anak itu bercerita.
Setelah berhenti dengan tawanya, mario memberikan bungkusan itu pada anak tadi. Si anak nampak girang dan senang. Lalu dia memeluk mario erat.
Mario sama sekali tidak menolak. Dia membalas pelukan anak tadi. Tanpa merasa jijik atau pun risih. Setelah selesai dan anak itu pun pergi. Mario kembali memasuki mobil.
"Nunggu lama ya, sorry." ucap Mario lalu menstater mobilnya.
"Itu tadi siapa?" tanya Olin penasaran.
"Oh, itu temen gue." jawab Mario dengan santainya.
Olin hanya mengkerutkan dahinya tak paham. Yakin? orang setampan, sepintar dan sekaya Mario berteman dengan anak dengan dandanan lusuh dan compang-camping seperti tadi?
__ADS_1
Sungguh tidak mungkin. Tapi Olin melihatnya sendiri, bagaimana sikap Mario pada anak tadi. Begitu sangat menyayangi.
Olin hanya diam, tidak mempertanyakan lebih lanjut pada Mario. Walaupun sekarang dia mulai penasaran dengan seorang Mario, murid baru yang di DO dari sekolah karena sikapnya yang arogan. Dan sekarang malah Olin melihat cowok arogan itu berhati malaikat.