Not To Be Angel

Not To Be Angel
Episode 52


__ADS_3

Olin sudah berada di tribun saat ini, dia masih saja sendiri. Entah, dimana keberadaan dua sahabatnya yang masih tidak bisa dia hubungi.


Jam menunjukan pukul 9 namun pertandingan belum juga di mulai. Olin memakai earphonenya, membenarkan topi hitam yang tadi di berikan Mario padanya. Mario sengaja memberikan topi miliknya pada Olin, agar gadis itu tidak kepanasan. Beberapa menit kemudian pertandingan pun dimulai.


Kali ini kelas 11 Ipa 2 melawan kelas 11 Ips 1. Olin melihat Mario yang sudah memasuki lapangan Volly. Sorakan riuh di bangku penonton terdengar. Para suporter kedua kubu yang sangat semangat membuat tribun itu ramai.


Babak pertama pun di mulai. Benda bulat itu membumbung tinggi di udara. Smash demi smash di luncurkan untuk mencetak skor.Teriakan riuh terdengar saat salah satu kubu mencetak skor.


"Wadidau, Mario gila sih!" ucap salah satu siswi di sebelah Olin.


Seketika Olin menoleh melihat gadis yang tadi menyebut nama Mario. Gadis itu ternyata kelas 11 Ips 1. Olin sudah tidak memperdulikannya dia kembali melihat ke arah lapangan. Beberapa menit berlalu ,Skor demi skor mulai di kumpulkan oleh kedua kudu. Sampai di babak kedua, dua kubu semakin bersaing ketat. Skor sementara masih di menangkan kelas 11 Ipa 2.


"Kenapa Mario nggak masuk ke kelas kita sih dulu."


"Tau tuh, mainnya gila banget!"


"Yakin deh kalah kelas kita,"


"Kenapa dia di tim lawan sih, gue kan jadi bingung mau ngedukung siapa,"


Suara bisikan kembali terdengar di telinga Olin. Dia memang memakai earphone tapi benda itu sama sekali tidak dia nyalakan. Olin memutar bola matanya malas. Dia berusaha untuk tidak menggubris ucapan siswa-siswi kelas sebelah. Sampai akhirnya smash yang di lakukan Mario di terakhir pertandingan, sukses membuat kelas 11 Ipa 2 lolos ke babak selanjutnya.


Semua murid 11 Ipa 2 bersorak senang. Kelas mereka akhirnya lolos ke babak selanjutnya. Olin tersenyum lebar saat melihat Mario yang juga melihatnya dengan senyum manisnya.


"Senyumannya itu loh, meleleh gue." ucap salah satu siswi.


"Mario ganteng banget, sumpah."


"Gue mau pindah kelas aja lah."


Olin melihat kearah para siswi tadi dengan tatapan tak suka. "Bisa-bisanya ngomongin lawan di sebelah temennya," gumam Olin selirih mungkin sehingga hanya terlihat seperti menggerakan bibirnya saja.


"Asli, gue habis ini bakal daftar buat jadi pacarnya mario,"


"Gaskeun,"


Olin menahan sesak di dadanya saat mendengar ucapan para siswi tadi. Bisa-bisanya mereka berbicara di samping gadis yang sekarang menjadi sahabatnya Mario. Olin berdecak cukup keras sampai dua siswi tadi melihat ke arahnya dengan tatapan kebingungan.


"Loh Saras, Anya," suara yang tak asing itu membuat Olin menoleh ke belakang.


"Eh hai, Mar." jawab Saras dan Anya bersamaan.


Olin menatap dua sahabatnya yang tepat berada di belakangnya. "Kalian sejak kapan di situ?"


"Sejak awal pertandingan, sampai liat lo sebel gara-gara siswi itu." ucap Anya sambil menunjuk dua siswi yang tadi di samping Olin.


"Olin sebel kenapa?" kini giliran Mario bertanya.


"Yaa...."


"Hay kalian berdua disini, ke kantin yuk. Gue laper butuh asupan." ajak Gilang yang baru saja datang dengan Alan.

__ADS_1


Saras dan Anya mengangguk lalu berdiri. "kita duluan ya, Marlin." Mario hanya mengangguk sedangkan Olin terbengong di tempat duduknya.


"Mar, lin. Ntar kalian nyusul kita ya!" teriak Alan sambil berjalan menjauh. Mario mengacungkan jempolnya ke atas sebagai jawaban atas ucapan Alan. Dia lalu melihat ke arah dua siswi yang masih duduk di sebelah Olin.


"Gue boleh duduk di sini, gue mau ngomong sama pacar gue." ucap Mario sambil memegang bahu Olin.


 Dua siswi itu mengangguk dengan wajah sedikit tidak percaya, lalu mereka berdua pun pergi dari sana.


Olin masih terdiam, Mario sudah duduk di samping gadis itu.


"Lo sebel kenapa sih?" tanya Mario.


"Lo sendiri kenapa bilang gue ini pacar lo, ke mereka?" Bukannya menjawab, Olin malah berbalik bertanya.


Mario membenarkan anak rambut Olin yang tertiup hembusan angin. Dia membenarkan topi hitam yang di kenakan gadis di sampingnya."Gue cuma nggak mau lo sebel gara-gara mereka." jelasnya.


"Maksudnya?"


"Dengan gue bilang lo pacar gue, mereka pasti nggak berani ngomongin gue yang macem-macem lagi saat ada lo." ucap Mario.


"Tapi kan mereka bisa ngomongin lo saat gue nggak ada."


"Nggak pa-pa, asal lo nggak denger langsung apa yang mereka omongin. Lagian gue juga nggak mungkin suka sama mereka. Mereka cuma sekedar kagum dengan apa yang gue lakuin saat ini." jelas Mario lagi.


Olin mencoba mencerna semua yang di katakan Mario."Kenapa lo lakuin itu?"


"Biar lo nggak cemburu, biar dada lo nggak sakit, biar lo bisa bernafas lega." ucap Mario dengan di susul senyuman.


"Gue tau,lo sebel gara-gara cemburu. Itu emang resiko kalau punya sahabat ganteng kayak gue ini," setelah mengatakan itu Mario tersenyum lebih lebar. Bukannya membuat Olin senang, malah membuat Olin memukul keras lengannya.


"Lo selalu aja pede!"


"Apa yang bisa gue lakuin selain itu?"


"Buat gue bahagia." setelah mengucapkan itu Olin tersenyum manis.


Mario mengusap kepala gadis itu singkat, "Pasti," jawab Mario serius.


"Ke kantin, gue laper." ajak Mario lalu mengandeng tangan Olin.


***


Sejak Mario sibuk latihan, Olin kembali pulang bersama sang kakak seperti sebelumnya. Setelah dia selesai membersihkan badannya kini Olin berada di ruang kerja sang mama. Nilam menyulap sebuah ruang kosong yang dulu menjadi gudang kini beralih fungsi menjadi ruang kerja untuknya.


Dia juga membeli sepetak tanah kosong di sebalah rumah raven yang kini juga miliknya. Dia ingin memperluas rumah ini, alasanya agar anak-anaknya bisa lebih nyaman. Maklum, Nilam termasuk golongan single parent yang terbilang cukup sukses dalam bidang usahanya. Dia juga termasuk orang berada, hasil kerja kerasnya dulu sampai sekarang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup ketiga anaknya.


Nilam sadar kini saatnya dia membuat tiga malaikatnya bahagia dengan kehidupan yang sesungguhnya. Meski dia harus sendiri tanpa adanya seorang suami di sampingnya. Kejadian masa lalu membuatnya enggan kembali membuka hati untuk laki-laki lain. Menurutnya sekarang yang terpenting adalah kebahagiaan anak-anaknya.


Olin duduk di sofa panjang di ruangan itu. Tangannya tengah stay memegang ponsel kesayangannya.


"Gimana sekolah kamu?" tanya Nilam.

__ADS_1


"Lancar, ma." jawab Olin seadanya.


"Habis ini kamu ujian ya?"


"Masih kurang dua bulan lagi, ma. Masih lama." jawab Olin.


"Nggak pengen les kayak bang Davi?" tanya Nilam, kini pandangannya beralih dari laptop.


Olin menggeleng, "Nanti aja, ma. Kalau udah kelas 12." Nilam mengangguk mengerti.


"Mama kerja dari rumah kayak gini bisa intensif?" tanya Olin tiba-tiba.


"Mama cuma ngecek aja, kan mama udah bilang bakalan sering di rumah, daripada di kantor. Mama pengen deket sama kalian." ucap Nilam.


Olin tersenyum lebar mendekati mamanya, lalu memeluknya erat.


"Kalau gitu, besok mama yang nganter Olin sekolah ya?"


Nilam mengangguk, "boleh, mama juga besok rapatnya siang."


Olin tersenyum lebar mendengar jawaban Nilam. Dia membayangkan bagaimana rasanya di antarkan sekolah mamanya. Pasti menyenangkan, apa lagi dia sudah lama tidak merasakan hal itu. Olin tak sengaja melihat sebuah pigora foto lawas di meja kerja sang mama.


"Ma, ini foto siapa?" tanya Olin sambil menunjuk foto yang menampilkan dua gadis cantik berseragam SMA.


"Oh, itu temen mama. Dia sahabat karib mama, tapi udah lama nggak perna ketemu." ucapnya dan pandangannya kembali ke layar laptop. Olin hanya mengangguk paham. Dia kembali duduk dan bermain ponsel sambil menunggu sang mama selesai dengan pekerjaan.


***


Hari terus berganti, classmate sudah berlangsung 3 hari. Dan kelas 11 Ipa 2 masih ttus lolos ke babak selanjutnya. Hari ini tim Mario dan kawan-kawan melawan kelas 11 Ipa 1. Lawan yang cukup sengit karena sebelumnya kelas itu selalu memenangkan pertandingan.


"Kali ini kita harus lebih fokus, karena lawan kita nggak main-main, kalau kita bisa  ngalahin mereka kita bakal tanding sama anak kelas 12 lusa nanti. Ngerti kan yang masih bertahan tim kita dan anak kelas 11 Ipa 1. Kita harus nyusun strategis lebih matang lagi kalau kita mau mewakili sekolah di pertandingan persahabatan nanti." jelas Mario saat briefing.


"Kita bakal ngelakuin yang terbaik." ucap Gilang semangat.


"Kita harus menang pokoknya, harus!" ucap Isqi penuh dengan ambisi.


Mario tersenyum lebar, "Oke, kita buktiin hari ini." Mereka pun berdoa sebelum memasuki lapangan volly.


Olin, Saras, dan Anya sudah duduk di tribun yang ramai. Tribun kali ini terlihat begitu sesak, berbeda dari sebelumnya. Mungkin karena yang saat ini bertanding adalah tim paling hebat di kelas 11.


"Lo ngapain bawa popcorn?" tanya Saras pada Anya.


"Iya di makan lah, masak di liatin doang," ketus Anya.


"Iya tapi kan ini kita nonton pertandingan volly, bukan nonton bioskop, Anya..." Saras nampaknya sebal dengan kelakuan sahabatnya. Berbeda dengan Olin yang hanya tersenyum melihat tingkah dua sahabatnya yang tak perna sepaham itu.


"Udah deh tuh lihat udah mulai." ucap Olin melerai kedua sahabatnya. Pertandingan yang di tunggu pun mulai, para suporter terlihat semangat untuk mendukung tim kebanggaannya masing-masing.


...Aku terlalu sibuk memikirkan rasa takut kehilangan,sehingga lupa bagaimana cara mempertahankan, sampai tak sadar yang ku genggam terlalu erat lambat laun akan lepas🍃...


...See you guys 💕...

__ADS_1


__ADS_2