Not To Be Angel

Not To Be Angel
Episode 53


__ADS_3

Pertandingan sudah memasuki babak akhir, skor kali ini seimbang. Hanya tinggal satu kesempatan lagi untuk bisa menentukan siapa pemenangnya.


"Yakin menang nih, kelas kita?" tanya Saras was-was.


"Gue nggak yakin, sih." ucap Saras.


"Berdoa aja, semoga skor kali ini tim Mario yang menang," Olin sebisa mungkin berfikir positif.


Bola melambung tinggi di udara, masih terombang-ambing dia antara kedua kubu. Keduanya masih mempertahankan agar bola itu bisa jatuh di area lawan. Mario berusaha memukul benda bulat itu dengan keras. Satu smash yang di lakukan mengakhiri pertandingan sengit hari ini.


"Woy, kelas kita menang!" teriak salah satu siswa.


Sorakan riuh perlahan terdengar lebih keras, tepuk tangan menggema di penjuru tribun. Olin dan teman-temannya pun ikut bertepuk tangan dengan kerasnya. Iya, kali ini kelas 11 Ipa 2 kembali maju ke babak selanjutnya.


"Wah gila, sih. Kelas kita menang lagi!" ucap Saras.


"Mantap baget deh!" ucap Anya tak mau kalah.


Olin melihat Mario dan timnya keluar dari lapangan. Beberapa menit Gilang dan Alan sudah berada di tempat mereka duduk.


"Ayang, selamat ya!" sorak Anya saat Alan datang.


"Makasih ya, berkat semangat dan doa kamu, aku sama anak-anak menang." ucap Alan.


"He'em, tolong kalau mau romantis jangan di sini bisa nggak?" protes Gilang.


"Yaudah sih, gue ke kantin duluan," pamit Alan dan Anya pergi dari tribun.


"Ke kantin juga, ras?" tanya Gilang.


"Ayok, Lin lo nggak ke kantin?" tanya Saras karena Olin hanya diam saja.


Olin menggeleng, "kalian duluan aja." Saras dan Gilang pun mengangguk lalu pergi dari sana.


Olin masih duduk di tempatnya semula, Mario tak datang menemuinya. Entah dimana cowok itu berada saat ini. Gadis itu ingin menunggunya. Tribun sudah sepi sejak 10 menit setelah selesainya pertandingan. Kini sudah 30 menit Olin menunggu, namun Mario masih belum datang menemuinya. Mencarinya saja tidak.


Olin mengecek ponselnya tidak ada pesan yang di kirim Mario. Malah Davi lah yang mengiriminya chat.


Bang davi latian buat besok tanding, kamu pulang sendiri ya', Begitulah isi chat dari Davi.


Olin menghelai nafasnya panjang. Jam sudah menunjukan pukul 11 siang. Dia harus pulang. Para sahabatnya mungkin sudah pulang duluan. Olin tidak mau menganggu kegiatan sahabatnya dengan pacar mereka. Gadis itu memakai sweeter putihnya, membenarkan topi milik Mario yang masih dia pakai. Memanggul tas di pundak kirinya dan berlalu pergi dari tribun. Dia berencana menunggu angkot di halte depan sekolah.


***


Chio tengah duduk di samping motornya, dia celingukan mencari orang dalam foto di ponselnya.


"Seriusan ini gue harus nunggu?" gumamnya lirih.


Dia memasukan kedua tangannya ke dalam saku hoodienya. Menutup kepalanya dengan topi yang tadi di bawa.


"Kalau bukan demi sahabat nggak mau gue kayak gini." cerocosnya lagi. Chio menegakkan tubuhnya saat seorang gadis keluar dari gerbang sekolah. Dia mengeluarkan ponselnya dan melihat foto yang sedari tadi dia amati.


"Dia bukan," ucapnya lirih tepat saat gadis itu berjalan melewatinya.

__ADS_1


Chio trus mengawasi wajah gadis yang sedang berjalan menuju halte di sampingnya.


"Lah iya bener itu." ucapnya lalu mendekati gadis yang sedari tadi dia tunggu.


"Sorry, lo yang namanya Olin ya?" tanya Chio tanpa basa-basi.


Gadis itu memandang Chio dengan tatapan curiga.


"Iya, lo siapa? Kok kenal gue?" tanya Gadis itu tak lain adalah Olin.


"Lo pulang sama gue, ini perintah!" ucap Chio tegas.


"Lah? Emang lo siapa nyuruh gue pulang sama lo? Nggak!" tolak Olin mentah-mentah.


Chio memutar bola matanya malas, dia melepas topi yang sedari tadi dia pakai. "Gue chio temennya mario, gue di suruh jemput lo," lapornya.


Olin masih ragu raut wajahnya benar-benar tidak mempercayai cowok di depannya."Gue nggak percaya." ucap Olin lagi.


Chio berdecak dan mengacak rambutnya frustasi.  Dia lalu memperlihatkan ponselnya di depan wajah Olin. "Masih nggak percaya?"


Olin membaca chating Mario dan Chio disana. Lalu mengangguk pelan. "Yaudah ayo, gue anterin lo pulang,"


"Emang mario kemana? Kok nyuruh lo jemput gue?" tanya Olin di belakang Chio.


"Dia ada urusan mendadak. Nih pakai helm." Chio menyodorkan helm untuk di pakai Olin. Setelah selesai dengan kegiatannya. Olin pun menaiki motor Chio dan mereka pun pergi.


Chio sudah sampai di depan rumah Olin. Gadis itu turun dari motor milik Chio.


"Thank's ya," olin berterimakasih sambil memberikan helm kepada Chio.


"Kalau lo ketemu Mario, suruh dia hubungi gue ya," pinta Olin.


Chio memandang wajah Olin, "kenapa nggak lo chat dia duluan?"


Olin menggeleng, "Nggak bisa,"


"bisa, lo cukup ngucapin selamat ke dia atas kemenangan hari ini. Gue yakin dia bakal seneng," ucap Chio menyarankan. Olin mengangguk paham.


"Lo suka mario?" tebak Chio asal. Olin seketika menggeleng kaget.


"Nggak kok," jawabnya. Chio hanya mengangguk seolah percaya atas ucapan Olin.


"Yaudah gue balik duluan," pamit Chio lalu pergi dari depan rumah Olin.


"Adek kok udah pulang, bang davi kemana?" tanya Nilam menyambut kedatangan Olin.


"Abang latihan, ma. Tadi olin di anterin temen." jawab Olin.


Nilam pun hanya mengangguk, "Yaudah sana bersihin badan trus makan." perintah Nilam.


Olin mengangguk, "Olin masuk dulu ma," Nilam hanya mengangguk, dia masih sibuk mengawasi pekerja yang sedang merehab rumahnya.


***

__ADS_1


Chio baru saja sampai ke tempat tongkrongan barunya bersama Mario. Dia juga sudah membawa satu plastik ukuran sedang berisi makanan dan minuman.


"Mar, minum dulu," ucap Chio menawarkan.


Mario turun dari tangga dan menghampiri Chio. "Udah jemput Olin?" tanyanya.


"Udah, doi lo cantik juga ternyata," jelas Chio sambil menyesap rokoknya.


Seketika Mario menjintak kepala Chio keras, "gue buat muka lo nggak utuh kalau berani godain Olin!" ucapnya serius.


Chio meringis kesakitan, "Becanda, mar. Yaelah,"


"Gue yang serius." ucap Mario lalu meminum minumannya.


"Rokok?" tawar Chio yang di balas gelengan kepala oleh Mario.


"Tumben,"


"Tobat," jawab Mario singkat. "Tadi lo anterin sampai mana?" tanyanya lagi.


"Depan rumahnya." mario hanya mengangguk.


"Oh iya tadi dia pesen, kalau gue ketemu lo katanya lo harus hubungin dia."


Mario berhenti dari kegiatannya, dan memandang wajah sahabatnya.


"Ngechat dia?"


Chio mengangguk lalu menghembuskan asap rokoknya ke udara. "Tadi udah gue suruh dia buat chat lo dulu tapi katanya dia nggak bisa."


"Cewek mah gitu, gengsian." ucap Mario kembali menggambar.


"Sebenernya kalian itu apa sih, heran gue." tanya Chio ingin tau.


"Sahabat, tapi gue suka sama dia."


"Kenapa nggak nyatain aja perasaan lo ke dia. Dengan gitu kan lo bisa lega udah ngomong apa yang lo rasain selama ini." Chio menyarankan.


Mario menggeleng, "Gue nggak mau salah langkah, jadi sahabatnya aja udah seneng."


"Iya sih, ya tapi nggak selamanya kan lo nyimpen ini trus-trusan."


"Doain yang terbaik aja lah." ucap Mario.


Chio mengangguk lalu tersenyum. Dia melihat sahabatnya yang sudah setengah menyelesaikan gambar mural itu.


Terlihat betapa cintanya Mario dengan gadis bernama Olin itu. Chio baru kali ini melihat sahabatnya sangat mencintai seorang gadis dengan tulus. Sampai-sampai dia mengambar wajah gadis itu untuk di jadikan mural.


Kali ini Mario seperti kembali mendapatkan genggamannya. Genggaman yang dulu sempat hilang dan baru saja dia temukan pada diri Olin.


Gadis yang baru dia kenal, gadis yang juga memliki kisah hidup sepertinya. Sepertinya semesta sengaja mempertemukan mereka berdua. Meski akhir dari pertemuan itu belum memiliki titik akhir.


...Sepertinya semesta sengaja mempertemukan kita, untuk saling mengisi dan melengkapi kekurangan satu sama lain 💐...

__ADS_1


...See you next part guys💕...


__ADS_2