Not To Be Angel

Not To Be Angel
Episode 9


__ADS_3

Mario sudah sampai di kelas bersama Gilang dan Alan di belakangnya. Di bangkunya sudah ada Olin yang duduk manis sambil bermain ponsel.


Olin hanya melirik Mario sekilas saat cowok itu duduk di sampingnya.


"Oh iya, nih buku paket dari pak Hendra buat lo. Tadi orangnya nitip ke gue buat ngasih ke lo," lapor Olin sambil menyodorkan tumpukan buku paket ke hadapan Mario.


"Lo bawa buku sebanyak ini sendiri?" tanya Mario. Olin mengangguk singkat.


"Makasih." ucapan Mario tidak di balas oleh Olin. Gadis itu hanya diam masih bermain ponsel.


Mario sedikit memutar otaknya agar bisa berbicara dengan Olin.


"Emm Lin, sebagai tanda terimakasih gue. Ntar ke kantin barengan ya, gue mau traktir lo." ucap Mario sedikit canggung. Karena jujur baru pertama kalinya dia di cuekin oleh cewek.


Olin mengkerutkan dahinya sebentar. "Gue ntar sama mereka berdua." ucap Olin sambil menunjuk Saras dan Anya di belakangnya.


"Nggak masalah lo boleh ajak mereka." ucap Mario, Olin mengangguk.


"Selamat pagi anak-anak," sapa seorang guru yang baru saja masuk ke kelas. Suasana yang tadi ramai seketika sepi. Pelajaran pun di mulai.


---------------------------------------------


Olin, Saras dan Anya memasuki kantin. Mereka akan mengisi perut yang sudah mulai keroncongan.


"Siapa yang mau pesen?" tanya Saras.


"Lo aja." ucap Anya.

__ADS_1


Saras akhirnya pergi dari hadapan kedua sahabatnya untuk memesan makanan.


"Annnnnyyaaaa!" sapa seorang cowok yang di buat-buat. Olin melirik tiga cowok yang sudah berdiri di belakang Anya. Ada Mario, Gilang dan Alan.


"Lo mau manggil gue apa mau nyanyi sih?!" tanya Anya tak habis pikir dengan kelakuan Alan.


"Kan, gue maunya sama elo," goda Alan lagi.


"Gue yang nggak mau!" tolak Anya mentah-mentah.


"Lin, boleh kita gabung disini?" tanya Mario pada Olin yang dari tadi hanya diam sambil bermain ponsel.


"Boleh." jawabnya singkat.


Mario, Gilang dan Alan pun duduk satu meja bersama Olin dan teman-temannya.


"Eh sejak kapan nih tukang parkir indo3 ada disini?" tanya Saras yang baru saja datang dengan membawa nampan berisi makanan.


"Ada. Nih kalian bertiga."


"Astaga, jahatnya."


Olin sudah tidak memperdulikan ucapan teman-temannya dia memilih memakan bakso yang dia pesan. Mario melihat semua aktifitas Olin di depannya. Gadis itu benar-benar jutek. Dia sama sekali tidak perduli akan keberadaan Mario.


"Mar, kedip. Liatinnya gitu amat," sindiran itu membuat Mario menoleh ke arah Gilang. Teman-temannya yang lain pun ikut memandang Mario. Kecuali Olin tentunya.


"Cewe kalau lagi makan itu emang cantik, kok." ucap Alan lagi.

__ADS_1


"Kalian pada ngomongin siapa sih?" tanya Saras yang tidak paham dengan apa yang di bicarakan dua cowok itu.


Gilang berbisik di telinga Saras yang tepat di sampingnya.


"Mario naksir olin!" suara super keras Saras membuat Olin tersedak. Bukan cuma Olin, penghuni kantin pun juga menoleh ke arah meja mereka berenam.


sontak Mario yang berada di depan Olin menyodorkan segelas es teh di depan olin yang sedang tersedak.


"Kenapa pakek tereak, jaenab. Kan gue udah ngomong jangan teriak." ucap Gilang marah karena Saras berteriak.


"Gue kaget." ucap Saras.


"Seriusan lo naksir Olin, Mar?" tanya Anya.


"Nggak, omongan Gilang aja lo percaya." ucap Mario cuek.


Olin menatap Mario di depannya dengan wajah datar. Lalu dia kembali menikmati makanannya.


Benar-benar cuek nih anak. Gue jelek apa? Cuma dilirik doang loh. Batin Mario dalam hati.


Suasana kembali hening seperti semula. Mereka berenam memilih menikmati makanan masing-masing.


"Dek." sapa seorang cowok dengan tubuh tinggi, berkulit tidak terlalu putih, dengan sedikit kumis tipis di wajahnya. Olin kenal suara itu. Dia menoleh.


"Kenapa bang?" tanyanya pada Davi, abangnya.


Semua orang di meja itu menatap kesumber suara dimana Davi berdiri. Yang di pandang hanya menatap datar.

__ADS_1


"Nanti pulang sendiri bisa? Kalau nggak gitu nebeng Saras atau Anya? Abang ada jam tambahan hari ini. Mendadak banget soalnya jadi nggak bisa pulang bareng kamu," lapor sang kakak.


"Bang Raven nggak bisa jemput?" tanya Olin.


__ADS_2