
Raven terduduk di kursi panjang yang menghadap ke teman belakang rumahnya. Dia memandang lurus ke kolam ikan tepat di depannya. Cahaya bulan malam ini menerobos di sela-sela daun pepohonan yang berada di sana.
Dia coba menghembuskan nafasnya panjang. Sudah tujuh tahun rupanya dia hidup sendiri dengan kedua adiknya. Bergulat dengan tekanan batin dan kenyataan hidup yang sebenernya tidak bisa dia terima. Kehilangan orang yang sangat berarti membuatnya tegar sampai sekarang, meski terkadang rasa kecewa itu selalu menjadi peluru untuk alasannya terjatuh.
20 tahun umurnya sekarang, dia masih sangat ingat kejadian 7 tahun belakang, dimana awal kehancuran itu datang pada hidupnya dan kedua adiknya. Dia tidak mempermasalahkan itu terjadi pada dirinya, dia hanya memikirkan bagaimana dengan kedua adiknya saat itu. Mimpi-mimpi dan harapan mereka hancur hanya karena sebuah rasa egois yang tercipta dari kedua orang tuanya.
"Bunda kira kamu udah tidur." ucap Mirna yang sudah berada di samping raven.
"Bunda kok belum tidur?" tanya Raven.
"Lagi nggak bisa tidur, jadi bunda cari angin di depan. Tapi lihat pintu kamar kamu yang terbuka dan kamu nggak ada di kamar bunda nyari kamu." jelas Mirna sambil tersenyum.
"Raven masih belom ngantuk,bun." jelas Raven.
"Davi sama olin udah tidur?" Mirna mengangguk.
"Tadi udah bunda cek ke atas, pintu kamar Olin nggak di kunci tapi dia udah tidur, si Davi ngunci pintunya, pasti udah tidur juga adik mu," jelas Mirna.
__ADS_1
"Ada masalah apa?" Mirna coba membuka pertanyaan karena milihat raut wajah Raven yang tidak seperti biasanya.
Cowok itu menggeleng. "nggak ada kok bun, raven baik-baik aja."
"Kamu kalau ada masalah cerita ya, jangan di pendem sendiri. Bunda mau jadi teman curhat kamu." ucap Mirna, dia sangat menyayangi keponakannya seperti anaknya sendiri.
Raven tersenyum sambil mengangguk, "iya bun."
"Kamu udah punya pacar, Rav?" pertanyaan Mirna membuat Raven menoleh kaget kearahnya.
"Ihh orang bunda cuma nanya aja kok."
"Nggak punya, bun." jawab Raven jujur.
"Kenapa nggak punya? padahal kamu ganteng, pinter, baik, masa nggak ada yang suka kamu." ucap Mirna keheranan.
Raven tersenyum, "mungkin ada, tapi Raven nggak sadar aja, Raven masih pengen fokus kerja, kuliah sama ngurusin Olin, bun."
__ADS_1
Mirna melihat keponakan dengan teliti, "Bunda ngerti kok, tapi kamu juga nggak boleh membatasi diri juga, umur kamu udah 20 tahun udah waktunya punya pacar."
Raven terkekeh, "nanti lah bun di pikirin lagi."
Mirna mengangguk mengerti, Raven masih ingin menjaga Olin, satu-satunya perempuan yang amat Raven sayangi. Dia tidak ingin kehilangan Olin. Karena itu akan membuat hidupnya terhenti. Mirna mengambil amplop putih yang tadi dia bawa di sakunya.
"Ini tadi ada titipan buat kamu dan adik-adik kamu." ucap Mirna sambil menyerahkan amplop itu.
Raven sudah tau dari siapa amplop itu berasal, "bilang sama dia, Raven nggak butuh. Raven bisa biayain hidup Raven dan kedua adik Raven. Aku nggak selemah itu, bun." jawaban Raven kali ini membuat Mirna kaget.
"Rav, bunda ngerti tapi coba terima ini."
Raven hanya diam sambil menunduk, menghembuskan nafasnya pajang. Entah dia harus bagaimana.
"Dia pengen ketemu kamu, dia pengen minta maaf," mirna berusaha agar Raven mengerti. Namun, watak Raven yang keras kepala membuatnya kesulitan untuk membujuk cowok itu.
"Buat apa? Setelah sekian lama, kenapa baru sekarang?"
__ADS_1