
"Lo pindah ninggalin banyak perkara tau nggak."
"Kenapa emang?"
"Fans sama mantan lo pada patah hati level tinggi, udah bukan warrior lagi. Semua pada gila waktu lo pergi."
Mario tertawa, "gue udah nggak ngurusin mereka lagi."
"Maksud lo?"
"Yakan lo tau, sejak gua pindah sekolah nomor ponsel gue ganti. Semua medsos gue juga gue off'in sementara."
"Kenapa kok gitu?" lagi-lagi pemuda di seberang penasaran.
"Gue nggak kayak dulu. Gue pengen berubah."
"What?! Becanda kan lo?"
Mario tertawa mendengar sahabatnya kaget disana, "gue serius, gue pengen tobat. Lagian presepsi gue slama ini juga salah"
"***** dah, Mario dirganata mahendra bisa berubah? Kali ini jadi apa setelah jadi buaya? Mau jadi godzila? Iya."
Mario tersenyum lebar, "gue bakal jadi mario yang dulu. sifat asli gue yang nggak ada orang yang tau."
__ADS_1
"Mar, bentar. Lo kok bisa kek gini. Lo dapet hidayah lewat apa? Lo habis kecelakaan lagi?"
Lagi-lagi Mario tertawa, "udah deh diem. Lain waktu gue bakal cerita ke lo."
"Oke lah kalau itu mau lo. Its okay. Gue tungguin loh."
"Iya gitu dong jangan tanya mulu."
"Hahaha yaudah deh gue mau keluar bre. Bye."
Sambungan telvon di tutup sepihak di seberang sana. Mario tersenyum simpul setelah mendengar suara sahabatnya yang dulu satu sekolah dengannya.
Jika di ingat kembali kenangan mereka berdua saat masih satu sekolah sangatlah menyenangkan. Setiap hari ada saja yang akan di lakukan oleh keduanya. Sampai-sampai harus bolak balik memasuki ruang BK.
"Mario." suara Mutia terdengar memanggil mario.
"Iya ma." ucap Mario meletakan kembali buku itu dan turun ke lantai dasar.
"Ada apa ma?" tanyanya saat sudah berada di depan sang mama.
"Habis ini jemput pandu ya. Mama sama abang mu mau jemput papa."
"Papa jadi pulang?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Iya jadi. Ini mama mau berangkat ke bandara." ucap Mutia, "yaudah ya mama berangkat. Jangan lupa jemput Pandu." Mutia pun meninggalkan Mario sendiri. Tanpa menunggu lama Mario segera bergegas menjemput adiknya.
Saat setelah berhasil mengeluarkan motornya, mata elang Mario tak sengaja melihat mobil sedan putih yang terparkir di pinggir jalan depan rumahnya.
"Ada apa, mas?" tanya pak slamet sopir pribadi nya.
"Itu mobil siapa pak?"
"Nggak tau mas, dari sebelum mas Mario pulang sekolah udah ada di situ. Paling punya tetangga sebelah." jawab pak slamet.
Mario hanya mengangguk mengerti lalu pergi dari rumahnya. Namun tak berselang lama mobil sedan putih itu pun ikut pergi, setelah pak slamet menutup kembali gerbangnya.
---------------------------------------------
Mario telah sampai di ruang tunggu sebuah tempat les, dimana Pandu sang adik berada di sana. Rupanya pandu belum turun terlihat juga orang tua teman pandu yang juga masih menunggu di lobby.
"Mahen, kamu di sini juga?"
Mario mendongakkan kepalanya, melihat siapa yang baru saja menyapanya.
"Sa." ucap Mario dengan wajah kaget.
"Iya, kamu apa kabar. Udah lama banget kita nggak ketemu." ucap gadis itu riang. Tangannya bergelayutan di lengan mario.
__ADS_1
"Baik." jawab mario singkat. Raut wajahnya benar-benar datar.