
Suasana hangat tercipta di ruang keluarga rumah Mario saat ini. Dia, Indra dan sang mama tengah duduk menikmati acara televisi.
"Tadi gimana, Mar?" tanya sang mama.
"Apanya ma?" Mario berbalik bertanya karena tidak paham dengan maksud sang mama.
"Rencana tawurannya." jawab sang mama, pandangannya masih melihat ke arah televisi.
"Belum ada rencana tawuran sih ma. Temen baru Rio masih dua doang. Kurang kalau buat geng berantem." jawaban Mario membuat sang mama menoleh kearahnya sambil melotot.
Mario ikut menoleh melihat wajah seram sang mama di depannya. "Kenapa ma?"
"Mario bener bener ya kamu ini. Di bilangin jangan berantem masih aja bandel. Mau,mama masukin kamu kepondok?" suara Mutia meninggi.
"Dah lah, ma. Masukin pondok aja si Mario dia mah gak ada kapoknya," saut Indra sang kakak.
"Diem lu." ucap Mario ketus. Sedangkan Indra hanya menjulurkan lidahnya, mengejek sang adik.
Mario beralih pada mamanya. "Mario nggak bakal berantem lagi ma, beneran. Sekolah Rio ini nyaman kok. Temen sekelas Rio juga baik-baik anaknya." jelas Mario.
"Udah ada cewek idaman belom di sekolah baru?" lagi-lagi Indra ikut nimbrung.
"Diem deh bang. Ikut-ikut aja sukanya." jawab Mario tak suka.
"Mama ingetin lagi ya ke kamu, Mar. Ini terakhir kamu di D.O. habis ini mama nggak mau denger laporan dari guru kamu bikin rusuh. Kalau sampai itu terjadi mama jamin 100% kamu bakal masuk ke pondok pesantren," ancam sang mama dengan wajah seriusnya.
"Iya ma, Mario janji ma ini terakhir. Lagian dulu juga bang Indra...."
__ADS_1
"Apa? mau ngungkit kejadian abang kamu juga. Mau nyari temen buat di salahin," sang mama memotong ucapan Mario.
Mario menghembuskan nafasnya pasrah "Iya deh nggak." ucap Mario pasrah dengan wajah memelas.
Sedangkan di depannya Indra sang kakak. Menahan tawanya susah payah. Mario melotot kearah Indra dan mengepalkan tangannya ke atas. Indra masih saja mengejek.
"Ndr, habis ini kamu jemput Pandu les ya." perintah Mutia pada anak sulungnya.
"Lah ma nggk bisa. Habis ini Indra mau ke temen ada tugas yang harus di kerjain." ucap Indra.
"Alah ma bohong itu abang, paling juga mau kencan," kini Mario berganti yang mengolok sang kakak.
"Gue serius juga," Indra tak terima dengan tuduhan Mario.
"Lah trus gimana dong adik kamu? Mama mau ketemu kolega soalnya habis ini."
"Ya sudah kalau gitu, mama mau siap-siap dulu. Jangan sampai lupa jemput adikmu ya." ucap sang mama lalu pergi meninggalkan kedua anaknya.
"Mau belanja apa Mar? Gue nitip sabun cuci muka dong sama pomete. Punya gue udah habis," bukanyanya menjawab Mario malah meyodorkan tangannya ke arah Indra.
"Apa?" tanya Indra bloon.
"Uang dungu. Biasanya kalau lo nitip selalu pakek uang gue. Mana nggak perna di balikin lagi. Setan emang." ucap Mario kesal.
"Iya iya astagfirlloh peritungan banget sama abang sendiri," setelah mengucapkan itu Indra mengambil beberapa lembar uang 50ribuan.
"Nih cukup kan?" ucapnya sambil memberikan ke Mario.
__ADS_1
"Cukup. Yaudah gue jemput Pandu dulu," Mario berdiri dari duduknya, kemudian mengambil jaket di kamar lalu pergi meninggalkan rumahnya untuk menjemput sang adik.
---------------------------------------------
Dokk dokk dokk
"Dek?" suara Davi terdengar di balik pintu. Dia memanggil sang adik dari tadi. Namun tidak ada sahutan, nampaknya Olin masih pulas dalam tidurnya.
Davi memutar knop pintu kamar Olin. Ternyata tidak di kunci,Davi melihat sang adik yang terlelap di atas ranjang. Dia mendekat lalu mencium kening Olin singkat.
"Abang tinggal dulu." ucapnya lalu berlalu pergi.
Jam menunjukan pukul 4 sore, Olin mengerjapkan matanya berulang. Dia melirik jam dindingnya, sudah sore batinnya.
Dia menuruni anak tangga, dan segera menuju dapur. Olin mengambil segelas air putih dingin untuk di minum. Suasana rumahnya begitu sepi.
"Bang Davi." Olin mencoba mencari di mana sang abang berada. Tidak ada sahutan. Olin melirik kertas yang di tempelkan di lemari es. Dia mengambil dan membacanya.
'*Abang keluar ada urusan. Tadi udah pamit ke kamu tapi kamu tidur. Gerbang depan sama pintu tadi udah abang kunci, kamu hati-hati di rumah. Selalu kunci pintu
Bang Davi*'
Olin meletakan kembali kertas itu di meja makan. Lalu pergi menuju ruang keluarga. Yang dia lakukan sekarang adalah bertapa. Olin memandang foto di atas nakas yang berada di ruang keluarga.
Olin memandang bingkai foto yang berada di didepannya cukup lama. Terbesit rasa rindu saat melihat foto kedua orang tuanya disana. Saat itu mereka tengah tersenyum bahagia. Apakah saat ini masih sama meski mereka semua telah berpisah???
Air mata Olin enggan untuk menetes untuk saat ini. Mungkin karena dirinya sudah terlalu lelah, sudah terlalu sering dirinya menangis waktu itu. Sekarang dia hanya ingin bahagia bersama kedua kakaknya. Dua orang pemuda yang dengan susah payah membuat Olin bahagia sampai saat ini.
__ADS_1
Sang kakak sulung yang selalu memberikan pelukan hangat, dan kakak bungsunya yang selalu memberikan perhatian. Mereka berdua lah yang sudah membuat Olin menjadi lebih kuat dan tegar dari sebelumnya. Dua pemuda itu juga yang sudah melindungi Olin dengan sepenuh hati.