
"Setelah gue buat anak komite sekolah masuk rumah sakit, Gue di suruh minta maaf ke dia kalau gue nggak mau, pihak sekolah memutuskan buat gue tinggal kelas saat taun ajaran baru. Dan gue harus mengakui kesalahan gue di depan seluruh murid. Dan gue nggak mau ngelakuin itu semua, gue lebih baik ngundurin diri"
"Kenapa?"
"Karena gue nggak salah." jawabnya sambil terus menyetir.
"Lo udah bonyokin anak komite sampai masuk rumah sakit, itu nggak salah,ya?"
Mario menggeleng, "Dia berhak dapetin itu."
"Kok bisa, emang dia ngelakuin apa?" Chio penasaran.
"Ngelecehin harga diri seorang wanita." Chio kaget, dia memandang wajah tampan di sampingnya lalu menggeleng.
"Lo nggak salah, mar? Lo juga pernah ngelakuin itu. Lebih parah malah!" Chio menekan kan kata 'lebih parah'
"Jangan bilang lo nuduh gue, udah berbuat macem-macem sama mantan gue yang dulu-dulu," Mario sudah tau maksud dari omangan Chio.
"Tapi rumor yang beredar gitu, setelah lo di keluarin dari sekolah pertama kali."
"Gue keluar dari sekolah pertama karena lo kan tau gue suka berantem, bolos, tawuran. Orang semua gue lakuin juga bareng lo. Dan sekarang lo percaya gue di keluarin dari sekolah karena hal bejat itu?" Mario berbalik bertanya.
"Iya gue sih cuma denger rumor doang, mar." ucap Chio memelas takut Mario marah.
"Lanjut yang tadi, sejak kapan lo perduli sama cewek? Setelah lo macarin beberapa kakel, sama teman seangkatan dalam kurun waktu dua bulan setelah awal masuk SMA?"
__ADS_1
"Banyak hal yang terjadi setelah gue di D.O dari sekolah kita, dan itu akan buat lo kaget," kali ini Mario berteka-teki dengan sahabat karibnya sejak SMP.
Mario memarkirkan mobilnya di pinggir jalan yang sepi. Chio melihat sekelilingnya dia tidak merasa pernah di ajak Mario ke tempat ini.
Di depan mereka berdiri berdiri sebuah rumah, namun sayangnya rumah itu sudah tidak memiliki atap, sisi tembok pun sudah banyak di tumbuhi lumut.
Jika saja rumah itu masih di gunakan sampai sekarang, mungkin bangunan itu adalah rumah paling mewah di antara beberapa rumah yang berada di sampingnya.
Tembok kokoh bercat putih yang kusam itu masih terlihat kuat. Bangunan berlantai dua itu berdiri gundul tanpa ada yang memayungi.
"Rumah siapa, mar?" tanya Chio.
"Orang," jawab Mario cuek, dan terus mengelurkan barang-barang yang tapi dia bawa.
Mario telah mengeluarkan semua chat semprot yang tadi dia bawa di bagasi. Lalu membawanya memasuki rumah yang sudah tidak memiliki pintu dan jendela itu.
Chio hanya mengikuti langkah kaki Mario pergi. Setelah melewati beberapa belokan yang berada di dalam rumah itu, sampailah mereka di sebuah ruang yang cukup luas. Sepertinya ruang itu dulunya kamar.
Mario meletakan semua catnya ke lantai keramik. Dia memandang tembok putih kusam di depannya. Tidak banyak lumut yang tinggal disana, itu tandanya dia tidak perlu berlama-lama untuk membersihkan permukaan tembok itu. Dia mengambil sebuah tangga lipat yang sedikit berkarat,entah dari siapa tangga itu sudah berada di situ.
"Bantuin gue bersihin tembok itu dari lumut." ucap Mario sambil menujuk tembok di depannya.
Chio hanya mengangguk, lalu menerima sebuah alat dari Mario untuk membersihkan tembok di depan mereka.
"Lo kenapa ngundurin diri, mar?" tanya Chio lagi karena dari tadi belum juga mendapat jawaban dari Mario.
__ADS_1
"Gue nggak mau bilang salah, kalau nyatanya gue nggak salah." jawab Mario.
"Iya sih, lo nggak salah, tapi setidaknya kan kalau lo minta maaf ke dia, lo nggak bakal tinggal kelas ataupun mengaku salah di semua murid."
"Pantang buat gue, ngejatuhin harga diri, selagi gue bener dengan apa yang gue lakuin." ucapan Mario membuat Chio geleng kepala.
"Temen gue sekarang udah banyak berubah ternyata."
"Iya lah, lu kira hidup harus gitu-gitu aja? Nggak berwarna dong."
Chio memanggut-manggutkan kepalanya, "iya, deh percaya, sekarang yang udah punya doi, doinya cewek yang bener jadinya gini." ejek Chio.
Mario hanya tersenyum. Cukup lama mereka berdua membersihkan tembok itu akhirnya pun selesai. Chio turun dari tangga tadi.
"Lo mau apain tembok itu?"
"Mural," jawab Mario singkat.
Sudah tidak perlu di ragukan lagi, mario sangat ahli di bidang seni. Selain olah raga dia juga suka hal berbau dengan seni. Entah musik atau seni lukis, dia menyukainya.
Mario mulai mengambil cat semprot berwarna putih, dia menaiki tangga dan mulai menggambar sketsa di tembok tadi.
Chio hanya melihat keahlian sahabatnya sambil duduk di lantai keramik yang kotor itu.
Sketsa yang terlihat di mata Chio adalah seorang gadis dengan tatanan rambut sebahu dengan poni yang menghiasi di wajahnya.
__ADS_1