
Olin baru saja mendaratkan kakinya di SMA Garuda. Dia melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya, masih pukul 7 kurang 20 menit. Masih lumayan pagi, dan dirinya tidak akan terkena hukuman akibat telat.
"Olin duluan bang," pamitnya seraya pergi meninggalkan Davi.
Gadis itu menyusuri koridor lantai bawah yang akan membawanya ke tangga menuju lantai dua. Olin melihat sekitarnya, Sudah banyak murid yang terlihat datang hari ini.
langkah Olin terhenti saat melihat seorang pemuda yang tersenyum ke arahnya. entah bagaimana Olin ikut tersenyum lebar ke arah pemuda yang sekarang berjalan ke arahnya.
"Gue kira lo nggak masuk." ucapnya saat sudah berada di depan Olin.
"Lo nungguin gue?" pemuda itu mengangguk.
"Ngapain?" tanya Olin heran, mengapa cowok di depannya harus rela menunggunya.
Mario hanya menggeleng, "Udah yuk ke kelas." ucapnya sambil menggandeng tangan mungil Olin. gadis itu tak berkutik dia masih heran dengan sikap Mario padanya. padahal dirinya selalu bersikap dingin ke pada cowok itu.
Mario dan Olin sampai di depan kelasnya. pandangan Olin terpaku pada kejadian di depanya. Alan dan Anya tengah berlarian saling mengejar.
"Ngapain mereka?" tanya Mario di sebelahnya. Olin hanya mengendikan bahunya tak paham dengan kedua tingkah temannya. mereka berdua melanjutkan langkahnya menuju bangku mereka.
"Temen lu pada ngapain sih?" tanya Mario pada saras yang sedang mendengarkan musik dari ponselnya.
"Biasa, lagi olahraga." jawab Saras cuek.
"Lagi kasmaran mereka," saut Gilang yang bermain game. Mario dan Olin hanya mengangguk paham,lalu duduk di tempatnya.
"Berangkat bareng?" tanya Gilang lagi, namun pandangannya masih tertuju di ponselnya.
"Siapa?" tanya Olin.
"Kalian berdua, berangkat bareng?" tanya Gilang lagi.
"Nggak, cuma kebetulan aja pas banget barengan ke kelas." jawab Olin seadanya. Gilang hanya mengangguk paham.
"Alan balikin nggak hp gue." teriak Anya lumayan keras.
"Nggak mau." ucap Alan masih dengan berlari dari kejaran Anya.
"Gue sumpahin jatoh, biar bibir lo jadi monyong. syukur nggak!" Anya menyumpah serapah Alan dengan sebal.
__ADS_1
"nggak perduli gue, salah lo sendiri selfi nggak ngajak gue."
"Emang muka lo ganteng apa? muka kayak bak sampah aja minta ikut selfi." ketus Anya dengan deru nafas yang mulai terengah-engah.
Alan masih tidak mau berhenti dari berlarinya. dia malah menjulurkan lidahnya mengejek anya di belakangnya.
"Alan balikin." teriak Anya lagi. seluruh murid di kelas itu hanya memandang tingkah dua remaja itu sambil tertawa.
"Apa, balikan? emang kita pernah pacaran?" tanya Alan dengan nada bicara yang di buat-buat.
"Awas aja lo. gue jambak rambut lo kalau kena." ucap Anya masih berlari mengejar Alan.
tontonan untuk penghuni kelas pagi ini, melihat tingkah Anya dan Alan yang saling mengejar tanpa henti sampai bu Anggi datang.
"Heh, kalian berdua ngapain kejar-kejaran kayak anak TK?" ucap bu Anggi berhasil menghentikan acara kejar-kejaran itu.
"Alan ngambil hp saya bu, nggak di balikin." lapor Anya pada bu Anggi.
"Alan, balikin." ucap bu Anggi. dengan wajah polos Alan mengembalikan ponsel Anya.
"Udah sana duduk kalian berdua," Anya dan Alan kembali pada tempat duduk mereka berdua.
"Selamat pagi anak-anak," sapa bu Anggi di depan kelas.
"Ayo anak-anak keluar kan buku paket biolagi bab 5,ibu akan menjelaskan dan setelah itu ibu akan memberikan kuis ke kalian."
"Loh bu, kok mendadak? Kan kita belum belajar." ucap Sirhen salah satu siswi di kelas.
"Ini bukan ulangan, cuma sekedar kuis biasa untuk menambah nilai ulangan kalian jika nanti nilai kalian jelek." jelas bu Anggi.
Semua murid pun mengangguk paham, dan mulai mendengarkan apa yang di jelaskan bu anggi. tak terkecuali mario, murid pindahan itu duduk dengan santai di bangkunya sambil mendengar penjelasan bu anggi.
"Lin." bisik Mario dengan suara lirih.
"Apa?"
"Ini udah mulai kan?"
"Apanya yang mulai?" tanya Olin tak tau maksud dari ucapan Mario.
__ADS_1
"Kesepakatan kita waktu itu." Olin mencoba mengingat kesepakatan apa yang dia buat dengan mario.
"Ohh iya iya gue inget, semua udah mulai sejak kita sepakat di rumah lo kan."
"Berarti kita bersaing?" tanya Mario lagi sambil mengangkat satu alisnya ke atas. Olin mengangguk mantap.
"Deal." ucap Olin sambil menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking mario.
Setengah jam bu Anggi menjelaskan materi di depan kelas. Kini giliran bu anggi memberikan kuis kepada anak muridnya.
"Baik anak-anak, setelah ibu rasa sudah cukup menjelaskan, kini ibu akan menulis kan soal di papan tulis. Tidak banyak hanya lima butir soal saja. Kalian cukup menyiapkan satu kertas kosong dan langsung menuliskan jawabannya disana. Mengerti semua?"
"Mengerti, bu." jawab para murid kompak.
Tes pun di mulai, semua murid nampak santai saja. Apa mungkin semua sudah paham? Ataukan memang karena ini hanya sebuah tes kuis biasa bukan sebuah ulangan yang menentukan nilai sesungguhnya.
Para murid sudah mulai menjawab satu persatu soal yang berada di papan tulis. Mario dan OlinĀ napak tenang menjawab. Sedangkan empat kawannya di belakang sedikit gusar.
Setelah hampir 35 menit menjawab, Mario pun maju kedepan untuk mengumpulkan jawabannya.
Tatapan tak percaya dari seluruh murid di kelas itu pun tertuju pada Mario.
"Kamu sudah selesai?" tanya bu Anggi tak percaya.
"Sudah bu." jawab Mario tenang.
Bu anggi mengangguk, "kamu boleh istirahat." ucapnya kemudian. Mario melenggangkan kakinya keluar kelas.
"Ck, mario dah, pinter banget udah selesai" ucap Alan.
"Mangkannya jadi anak jangan males-malesan biar kayak Mario." saut Anya ketus di sebalahnya.
"Nyinyir mulu, lo."
"Gue nggak nyinyir ya, gue ngomong sesuai kenyataan." ucap Anya lagi.
"Lo itu...."
"Alan, kamu nyontek ke Anya ya?" tanya bu Anggi yang mendengar Alan berbicara.
__ADS_1
"Nggak kok, bu. Saya nggak nyontek."
"Jangan berisik!" ucap bu Anggi galak. Semua murid pun diam tak hanya alan saja. Beberapa menit, olin pun mengumpulkan kertas jawabanya ke depan dan melenggangkan keluar kelas.