
Olin berdecak mendengarkan apa yang di katakan Mario barusan. "Ngapain nggak ganti baju kalau udah tau bau?" tanya Olin saat Mario sudah duduk di sampingnya.
"Bentaran lah, nggak bau-bau juga kok. Buktinya lo masih bisa nyium bau parfum gue." ucap Mario.
"Eh habis ini kita pulang ya?" ucap Mario.
Olin memandang wajah cowok di depannya. "Kan belom jam pulang?"
"Alah udah nggak pa-pa, ayok." tanpa aba-aba Mario pun menarik tangan Olin. Mengajaknya meninggalkan sekolah dan menuju ke tempat di mana hadiah Olin berada.
Beberapa menit kemudian, dua remaja itu sudah sampai di depan rumah kosong sang selama ini sering Mario dan Chio kunjungi.
"Ini tempat apaan, Mar?" tanya Olin sambil memandang rumah megah tak terawat di depannya.
"Udah, lo diam aja. Ikut gue." ajak Mario. Olin masih terdiam di tempatnya. Dia ragu untuk memasuki rumah itu.
"Kenapa lagi? Lo takut gue neko-neko?" ucap Mario spontan. Olin seketika melotot mendengar ucapan Mario yang terlalu jujur.
"Bicaramu!" sentak Olin.
"Iya habis mikirnya jelek. Gue nggak ngapa-ngapain loh. Kan kita sahabat." ucapnya dengan senyuman lebar. Olin berdecak.
"Udah, gue punya hadiah buat lo. Sekarang lo tutup mata." printah Mario.
"Tutup mata doang?" tanya Olin.
"Iyalah, masa iya tutup usia juga." Entahlah Mario kalau sedang capek bahasanya begitu nyleneh. Olin menuruti perintah cowok itu. Dia menutup matanya rapat.
"Jangan ngintip!"
Olin di tuntun berjalan oleh Mario. Mereka menuju tempat di mana mural itu terdapat.
"Sekarang, buka matanya," perintah Mario lagi. Olin perlahan membuka matanya. Dia melihat sebuah gambar mural di tembok yang kusan itu. Sangat indah.
"Itu gue?" tanya Olin dengan memandang mural di depannya.
Mario mengangguk,"Iya, lo suka?"
Olin mengangguk senang, "Lo yang bikin?"
Mario kembali mengangguk. Seketika Olin memeluk Mario di sampingnya. Cowok itu hanya diam, dia membalas pelukan Olin.
"Terimakasih, ya," ucap Olin bahagia.
"Sama-sama, ini hadiah dari gue. Gue harap kalau lo sedang sedih tempat ini yang bakal jadi penghibur lo." ucap Mario sambil mengelus surai hitam gadis di pelukannya.
"Gue seneng banget, ada cowok yang begitu perduli sama gue."
"Kan gue udah janji bakal trus buat lo bahagia. Lo nggak boleh sedih lagi ya,"
Olin mengangguk lalu melepaskan pelukannya. "Tapi kenapa ada wajah lo sih, kan jelek!" protes Olin sambil menujuk mural yang menampilkan wajah Mario.
Mario terbengong mendengar ucapan Olin. "Iya udah besok gue hapus." jawab Mario melas.
Olin terkikik, "Bercanda, Bagus kok." Ucapan itu membuat Mario tersenyum. Lalu mengacak puncak rambut Olin.
"Tapi lusa, lo harus menang lawan sekolah lain. Oke?"
Mario mengangguk, "Gue bakal berusaha semaksimal mungkin."
"Bagus dong!"
"Tapi lo harus liat gue tanding," ucap Mario sambil membenarkan poni Olin. Gadis itu mengangguk patuh. Sekarang mereka bukan terlihat seperti sahabat. Lebih tepatnya seorang pasangan. Mario yang begitu mencintai Olin dan berharap suatu saat nanti gadis itu menganggapnya lebih dari sahabat.
Namun, semua impiannya akan sedikit lebih lama. Melihat Olin yang tidak mudah di dapatkan hatinya membuat Mario harus bersabar.
"Kayaknya gue bakal sering kesini," ucap Olin yang membuat Mario tersadar dari lamunannya.
"Harus, apa lagi kalau kangen sama gue. Lo harus kesini." ucap Mario.
"Ck, gue nggak akan bisa kangen sama lo!"
"Kenapa?"
"Ya, buat apa kangen cowok jelek, resek, nyebelin kayak lo ini." jawab Olin tanpa sungkan.
"Tolong di ralat yang kata jelek, gue ganteng ya," ucap Mario tak terima.
"Dih, pede." Olin memalingkan muka. Nampaknya Mario emosi mendengar jawaban Olin. Wajahnya mulai memerah.
__ADS_1
Olin melirik Mario yang masih memandangnya dengan diam. Seketika Olin berjinjit dan berbisik di telinga Mario, cowok itu membiarkan kegiatan Olin saat ini.
"Maaf," ucap Olin sebelum mencium pipi kiri Mario. Cowok itu terbelalak kaget dengan apa yang di lakukan Olin. Dia tidak menyangka Olin akan melakukan itu padanya.
Mario tersadar dari kagetnya saat menyadari pelaku yang membuat jantungnya berhenti berdetak beberapa saat sudah hilang dari sana.
"Olin...." teriaknya menyusul Olin yang sudah berlari entah kemana.
Nampaknya, ramalan Mario tentang mimpinya meleset. Dia tidak akan membutuhkan waktu lama untuk mencapai mimpinya memliki Olin. Sebentar lagi kata sahabat akan terganti dengan kata pasangan. Itulah yang di harapkan Mario saat ini.
***
"Mau kemana rapi amat?" tanya Indra yang sedang berada di depan TV ruang keluarga.
"Makan sama temen-temen," jawab Mario cuek sambil duduk di sofa sebelah kakaknya.
Indra sudah tidak bertanya apa-apa lagi pada adiknya. Dia sibuk melihat acara TV.
"Ndu, itu gandengannya sama itu." ucap Mario sambil menunjuk puzzel yang sedang di mainkan oleh Pandu.
"Bukan, ini cocoknya sama ini." pandu ngeyel.
"Lah, nih anak dibilangin ngeyel. Yang di tangan kiri kamu itu harusnya di taruh di atas. Bukan di samping." ucap Mario tak sabar.
"Ah abang nggak tau sih!" Pandu ngotot dengan pendiriannya.
Mario melotot memandang adiknya, "Astaga, adik siapa sih ini," ucapnya sambil menggelengkan kepala.
"Adik abang," jawab Pandu. Indra tersenyum tipis melihat kelakuan kedua adiknya.
"Pakek acara jawab lagi. Ah abang mau ke toilet dulu." setelah mengucapkan itu Mario pergi.
Bell berbunyi menandakan ada tamu yang datang. Mutia segera membuka pintu depan.
"Selamat malam, tante." sapa seorang cowok tampan yang memakai kemeja warna biru muda.
"Malam, kamu Chio ya?" tanya Mutia langsung karena dia merasa kenal dengan teman anaknya.
"Iya tante, saya Chio temennya Mario." jawab Chio sopan.
Mutia tersenyum, "Tante denger banyak dari Mario tentang kamu."
"Kamu nyari Mario kan? Sebentar ya tante panggilin, silahkan masuk." ajak Mutia.
Chio menggeleng, "nggak usah tante, saya di sini saja." tolakny halus. Mutia tersenyum dan berlalu memanggilkan Mario.
Beberapa saat Chio menunggu, datanglah sang sahabat dengan mamanya.
"Mario pergi dulu ma," Pamit Mario sambil mencium pipi kiri sang mama.
Mutia tersenyum hangat, "hati-hati ya,"
Chio yang melihat adegan itu hanya diam di tempatnya. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Ayok," ajak Mario membuyarkan lamunan sahabatnya.
"Saya permisi, tante." pamitnya lalu menyusul Mario yang sudah berjalan di depannya.
"Gue yang nyetir." ucap Mario lalu menerima kunci mobil dari Chio. Tidak butuh waktu lama, mobil itu pun melesat meninggalkan debu tipis di jalan yang sepi.
***
"Lo kemana aja di telvon baru di angkat?" tanya Chio.
"Tadi gue sama Olin, nggak tau kalau lo telvon."
"Berduaan mulu lo. Kasmaran ya!?"
Mario senyum-senyum tak jelas di samping Chio. Cowok itu memandang heran sahabatnya.
"Kenapa, mar?" tanyanya.
"Tau nggak?" Chio langsung menggeleng.
"Belom!" semprot Mario.
"Iya iya, tau apaan emang?"
Mario masih senyum-senyum sendiri mengingat kejadian tadi siang. Saat dirinya bersama Olin.
__ADS_1
"Nggak deh." sambungnya lagi. Chio berdecak sebal mendengar jawaban Mario barusan. Dia sudah kepo malah Mario mempermainkanya.
"Eh, Mar." Mario hanya menjawab dengan deheman.
"Kok lo tadi deket banget sama mama lo,padahal dulu lo benci banget sama dia?" tanya Chio penasaran.
"Kan gue udah bilang waktu itu. Saat lo tau semuanya sendiri, lo bakal kaget." jawab Mario dengan senyuman.
"Kamus hidup lo berubah?"
Mario semakin melebarkan senyumnya, "Gue nggak pernah merubah kamus hidup gue. Yang gue lakuin hanya sekedar merefisi apa yang sebenarnya nggak pantes gue lakuain."
"Wow," jawab Chio kagum.
Mario terus tersenyum sepanjang jalan menuju cafe tempat favorit mereka menghabiskan waktu bersama. Entah, hatinya begitu senang hari ini. Walaupun terkena sedikit macet dia sama sekali tidak terpengaruh akan hal itu. Bahagianya begitu mengalahkan segalanya.
"Jadi,ada hal penting apa yang mau lo sampaikan ke gue." tanya Mario saat keduanya sudah duduk di bangku pojok cafe.
Chio mengelurkan amplop putih dari saku celananya. Dia memberikannya pada Mario.
"Apa ini?" tanya Mario sambil menerima amplop tadi.
"Baca!"
Mario membaca apa isi dari amplop itu dengan teliti. Alisnya bertautan saat hampir selesai membaca surat itu.
"Lo di suruh balik ke tim?" Chio mengangguk.
"Syukur dong." jawab Mario.
"Ini bukan mimpi indah, mar. Tapi mimpi buruk." ucap Chio dengan wajah serius.
"Maksudnya?"
"Lo tau, lawan pertandingan lo nanti siapa? SMA Pancasila. Dan satu lagi, lo bakal ketemu Ervan dan kawan-kawan." jelas Chio yang membuat Mario kaget.
"Jadi lawan gue nanti Ervan?" tanya Mario meyakinkan kembali.
Chio mengangguk. "Ervan minta gue buat gabung ke timnya di pertandingan lusa nanti. Tapi dia belom tau kalau yang bakal jadi lawannya itu lo. Dia taunya cuma SMA Garuda. Dan lo tau kan saat dia ngerti lawannya adalah musuh bebuyutan dia, cowok itu bakal ngelakuin apa."
"Dia akan merasa ini kesempatan emas buat jautuhin lo lagi. Dia bakal ngelakuin beribu cara supaya lo kalah. Lo tau kan liciknya Ervan," jelas Chio panjang lebar.
Mario berpikir, dia tidak menyangka jika akhirnya akan bertemu kembali dengan musuh bebuyutannya di acara kali ini. Ervan adalah cowok licik, selama ini cowok itu berusaha menjatuhkan Mario dengan segala caranya. Meski berulang kali gagal, namun pada akhirnya dia bisa membuat Mario hengkang dari sekolah lamanya.
"Gue pengen minta saran dari lo. Apa gue setuju dengan ajakan Ervan atau nggak?" tanya Chio karena sahabatnya hanya diam.
"Nggak usah, gue nggak mau lo terlibat dalam masalah ini."
"Mar, bukannya kalau gue ikut. Gue bisa aja menghalang niat busuknya Ervan." Chio berusaha meyakinkan.
"Ada lo atau nggak, jika dia tau kalau lawannya nanti gue, dia tetep bakal nyari cara supaya gue kalah."
"Kalau gitu izinin gue gabung, biar gue bisa ngehalang rencananya. Dan kita main sehat." pinta Chio.
Mario menatap sahabatnya lekat. "Oke, Tapi inget kita main suportif. Lo nggak boleh ada di pihak gue."
Chio mengangguk mengerti. "Kalau gitu, kasih tau kabar ini ke tim lo. Supaya kalian bisa lebih hati-hati."
"Lo tenang aja, gue udah hafal bener gimana cara mainnya Ervan selama ini."
"Oke, lo harus menang kali ini. Gue udah tau soal lo yang di keluarin dari sekolah. Lo di DO bukan karena sering bolos, tapi semua ada campur tangan dari Ervan kan?" ucap Chio.
Mario sedikit tercengang, "lo tau dari mana?"
"Gue cari tau sendiri. Ervan sengaja fitnah lo kan? Tapi sekolah nutupin itu karena di lihat keluarga Ervan berpengaruh dalam keuangan sekolah." jelas Chio yang sudah tau semuanya. Alasan yang sebenarnya Mario di DO dari sekolah pertamanya.
"Kalau lo tau, gue harap lo diem aja." Saran Mario.
Chio mengangguk, "Semua orang haus akan kecukupan gara-gara uang."
Mario tersenyum tipis, dulu papanya bisa saja memberikan sejumlah uang untuk mempertahankan agar Mario tidak di keluarkan. Namun, Mario menolak itu. Dia tidak mau di perlakukan istimewa hanya karena uang.
...Sebenernya di dunia ini yang paling menyeramkan bukan hantu atau iblis...
...Tapi manusia ...
...Mereka akan menjadi monster saat uang yang mengendalikan gaya hidup mereka. ...
...Manusia yang selalu merasa kurang dan serakah!!...
__ADS_1
...🌼 See you next part 🌼...