
Suasana di kantin sangatlah ramai, banyak sekali murid yang bergerombol di satu meja di tengah kantin. Dan mayoritas adalah kaum hawa.
"Itu ada apa, sih?" tanya Olin tak mengerti.
"Ada yang ngebagiin skincare gratis kayaknya." ucap Anya.
"Wah, ayo ikut kesana yuk. Gue juga pengen skincare gratis," tanpa banyak kata, Saras langsung saja menarik kedua tangan sahabatnya untuk mendekat ke meja yang di kerumuni para ciwi.
"Eh eh ada apa, sih?" tanya Saras pada salah satu siswi.
"Oh itu ada anak baru dari kelas 11 IPA 2. Anak anak pada minta kenalan. Abis ganteng banget sih."
"Mario!" ucap Saras dan Anya barengan.
"Balik yuk, lanjut makan aja. cowok kek gitu aja kok di kerumunin. Kalau kita kesana juga laper kita nggak bakal hilang." ajak Olin. Kedua sahabatnya hanya mengangguk.
Setelah membeli makanan dan minuman ketiga gadis itu duduk di meja paling pojok di kantin.
"Mario emang ganteng sih. Nggak heran kalau banyak yang suka." ucap Anya sambil melihat ke meja Mario, Alan dan Gilang yang sempat di kerumuni para kaum hawa.
"Kelemahan sekolah yang mayoritas ketampanan cowoknya bernilai 70 ke bawah emang gitu. Ada cowo bening dikit udah pada heboh." ucap Olin sambil memakan es batu.
"Bener juga sih kata Olin, Tapi kan wajar gitu, Lin buat cewek cewek kayak kita gini, ada cowok cakep langsung gas ajak kenalan,"
"Gue heran deh sama Olin. Dari tadi di kelas dia juga B aja gitu sama kehadiran Mario." ucap Saras heran mengapa satu sahabatnya itu bersikap B aja dengan seorang cowok. Kecuali dengan kedua abangnya.
"Ya trus gue harus lari keliling lapangan basket gitu? Kan engga. Lagian masih cakep bang Davi kali," Olin mencoba membanggakan ketampanan abang keduanya.
"Kalau itu sih nyata, Lin. Bang Davi itu the one and only, Tapi bang Raven lah yang tetep di hati." ucap Anya dengan binar mata kagum.
"Eh, ngomongin bang Davi. Dia masih pacaran sama Monic nggk, sih?"
__ADS_1
"Katanya sih masih. Gue nggak rela aja bang Davi sama si Monic itu.dia kan cabe." ucap Anya.
"Jangan-jangan bang Davi di pelet lagi sama Monic," Saras menakut-nakuti.
"Heh, kalian berdua nggak ada sungkan emang. Malah ghibahin abang gue loh," Olin tak terima karena dari tadi Saras dan Anya menggunjing abangnya.
"Hehe lupa Lin kalau lo adiknya bang Davi," Saras dan Anya cengengesan tak berdosa.
---------------------------------------------
"Lo kok bisa sih di D.O?" tanya Gilang ingin tahu.
"Habis mukulin anak orang." jawab Mario santai sambil memakan snack di depannya.
"Hah, berantem maksud lo?" tanya Alan heran. Mario mengangguk sekilas lalu meminum es jeruknya.
"Udah biasa sih gue kayak gitu, dua kali di D.O dari sekolah yang berbeda malah."
"Kok bisa? alasannya apa?"
"Yah cuma bikin anak orang masuk rumah sakit doang. Nggak yang lain," lagi-lagi Mario menjawab dengan nada santai.
"Masalah apa? Kan nggak mungkin lo tiba-tiba ngebonyokin anak orang tanpa alasan." ucap Alan.
"Gue nggak suka kalau ada cowok mainin perasaan perempuan, ngelecehin harga dirinya. Apa lagi sampai bikin dia sakit hati. Gue nggak suka itu." jelas Mario. Gilang dan Alan saling pandang.
"Seperduli itu lo sama perempuan?" Mario mengangguk.
"Mereka layak buat di hargai. Bukan di sakiti." ucapan Mario membuat kedua temannya heran.
"Lo tau kan perempuan itu cuma dandanan penuh tipuan, Mar. mereka punya seribu topeng untuk menipu setiap orang." ucap Alan.
__ADS_1
"Nggak semua kok. Masih ada yang baik di antara yang terburuk. Kita nggak boleh nyalahin mereka. Karena pada dasarnya setiap manusia sama aja. Entah laki-laki atau perempuan mereka memiliki topeng cadangan masing-masing. Tapi semua kembali lagi pada individu itu sendiri, mau mempergunakan untuk hal baik atau nggak." jelas Mario yang membuat kedua temannya mengangguk mengerti.
"Eh Mar, lo udah kenalan sama Olin belom?" tanya Alan.
"Cewek yang sebangku sama gue?"
"Iya dia cantik ya, tapi sayang cuek." jawab Gilang.
"Gue tadi udah tau namanya.dia yang nganterin gue sampai ke kelas. Dia pendiem banget kayaknya." ucap Mario.
"Kata siapa Olin pendiem? Elo belom kenal aja sama tuh anak. Dia petakilan anaknya. Sering telat lagi sama kayak kita. Tapi dia paling pinter se kelas." ucap Gilang menjelaskan.
Mario hanya mengangguk "Cuek ya?"
"Emang gitu si Olin, dia mah bodo amat anaknya."
"Menarik." ucap Mario.
"Mau deket sama dia?" tanya Alan.
Mario menggeleng. "Gue Cuma anak baru, masih polos." ucapan Mario tadi membuat kedua cowok di sampingnya tertawa.
"Lo polos? Dari mananya? Jangan bercanda deh lo." ucap Gilang yang masih tertawa.
"Berandal model lo kok polos. Nih usus gue sampek ketawa ****, saking nggak percayanya," Alan yang tertawa terpingkal-pingkal membuat anak-anak di area kantin melihat kearah mereka bertiga.
"Heh, udah deh diem malu di liatin orang. Setidaknya gue di sekolah ini biar nggak terlihat bad lah." ucap Mario memohon.
"Oke oke paham maksud lo kok gue, tenang aja. Biar pamor lo tetep baik kan. Oke siap." ucap Alan.
"Udah yuk ke kelas," ajak Mario.
__ADS_1