Not To Be Angel

Not To Be Angel
Episode 36


__ADS_3

"Lo nggak ada jadwal latihan?" tanya Olin di sela berjalan mereka menuju parkiran.


Mario menggeleng, "Hari ini libur, nggak tau kalau besok." ucap Mario.


Olin hanya mengangguk, "eh Mar, gue ke toilet bentar."


"Mau gue anter?" tawar Mario. Olin melotot seram ke arah Mario sebelum dia berlari menuju toilet.


---------------------------------------------


"Kamu nggak kuliah, Rav?" tanya Mirna saat melihat Raven rebahan di depan tv.


"Kelas kosong hari ini, bun," jawab Raven tanpa melihat Mirna.


"Em, kamu mau makan sekarang? Biar bunda siapin." ucap Mirna, menawarkan.


"Tadi bunda masak apa?" tanya Raven sambil bangun dari rebahannya.


"Bunda bikin gado-gado kesukaan kamu, mau? Biar bunda ambilin."


Raven mengangguk, "boleh, bun."


Mirna lalu pergi menyiapkan gado-gado yang di inginkan Raven.


Ting tong


Suara bell berbunyi terdengar di telinga Raven.


"Rav, bukain pintunya," perintah Mirna. Raven segera menuju ke pintu depan, melihat siapa yang bertamu di jam 2 siang hari ini.


Raven membuka pintu, pintu terbuka dan Raven terdiam di tempatnya. Dua maniknya menyorot dua manik hitam di depannya. Dia semakin terdiam saat seseorang itu tersenyum lebar sambil terus melihat wajah tegasnya.

__ADS_1


"Raven, siapa yang datang?" tanya Mirna yang sudah berada di belakang Raven.


"Kamu apa kabar, Rav?" tanya wanita itu.


Raven sama sekali tidak membuka mulutnya, matanya pun enggan berkedip untuk sekian detik. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar dan dia lihat.


"Mbak Nilam." ucap Mirna yang hafal sekali dengan suara lembut wanita itu.


Wanita cantik itu tersenyum ramah ke arah Mirna.


"Raven, kamu sudah besar. Wajah mu sangat tegas seperti papa mu dulu," wanita itu terus bersuara meski Raven hanya diam.


Raven mengambil ponselnya dan berlalu dari hadapan wanita itu.


"Rav, kamu mau kemana?" tanya Mirna yang melihat keponakannya pergi menjauh.


"Mbak Nilam pasti capek, ayo masuk mbak." ajak Mirna pada Nilam yang tak lain adalah kakak iparnya.


Raven berada di kamarnya, wajahnya terlihat panik. Dia memencet keyboard di ponselnya. Entah siapa yang dia hubungi yang pasti dia sangat khawatir.


---------------------------------------------


"Jangan bawa olin pulang!"


"Hah? Maksudnya gimana?"


"Jangan bawa olin pulang untuk saat ini. Gue mohon."


"Bang, emang ada masalah apa?"


"Lakuin aja apa yang gue ucapain. Tolongin gue."

__ADS_1


"Oke"


Sambungan terputus di seberang. Mario bingung, mengapa Raven memintanya untuk tidak membawa Olin pulang ke rumah. Ada apa sebenernya.


"Dah, yok pulang." ajak Olin yang sudah dari toilet.


"Lin, gue lupa. Mama pengen ketemu sama lo hari ini." ucap Mario.


Olin memandang Mario, "Trus?"


"Kita kerumah gue dulu." ucap Mario.


"Bang Raven, gimana?" tanya Olin.


"Dia udah gue telvon katanya sih gak pa-pa."


"Lo seriusan?" tanya Olin tidak yakin.


Mario mengangguk mantap. "Gue serius." Olin menyorot manik di depannya. Mario nampaknya tidak menyembunyikan kebohongan.


"Oke."jawab Olin singkat. Mereka pun segera pergi meninggalkan parkiran sekolah.


---------------------------------------------


Raven memakai jaketnya dengan sembarang. Menyambar kunci mobil di atas nakas. Dia keluar dari kamarnya dengan sangat tergesa-gesa.


"Raven, kamu mau kemana?" tanya Mirna yang melihat Raven akan pergi.


Raven melihat Nilam yang sudah duduk di samping Mirna di sofa ruang tamu.


"Siapa yang ngebolehin dia masuk!" nada bicara Raven sangat tidak layak dia ucapkan kepada orang yang lebih tua darinya.

__ADS_1


"Raven!" sentak Mirna marah.


Nilam berdiri dari duduknya. Dia memandang anak sulungnya, raut wajah tegas dengan di selingi rasa kecewa tercetak jelas di wajah Raven.


__ADS_2