
SMA Garuda sudah terlihat ramai hari ini. Meski jam masih menunjukkan pukul 7. Para murid nampak santai karena hari ini dan satu minggu yang akan datang akan di adakannya class meet. Itu artinya mereka akan merefreshkan pikiran mereka dari tugas dan kuis-kuis yang tidak ada habisnya.
Olin berjalan santai di koridor lantai dua. Tangan kirinya dia hentakan ringan ke tembok pembatas.
Saras dan Anya belum juga kelihatan. Di kelas pun tidak ada murid sama sekali. Karena semua murid kebanyakan berada di lapangan futsal, volly dan juga basket.
Olin menghentikan langkahnya dan menumpukan tangannya di tembok pembatas, pandangan matanya memandang lurus ke arah gerbang sekolah. Maniknya melihat para murid yang baru saja datang.
"Kok sendiri?"
Suara berat itu mengagetkannya. Seketika Olin menoleh ke samping di mana suara itu berasal.
"Mario! Gue kaget dodol," sentaknya pada cowok yang sekarang tertawa di sampingnya.
"Abis, pagi-pagi udah ngelamun."
"Gue nggak ngelamun, cuma lagi liatian orang-orang lewat," jawab Olin, pandangannya kembali ke depan.
"Anya sama Saras belom dateng?" tanya Mario.
Olin menggeleng sambil memandang Mario, "Gue chat juga nggak di bales."
Cowok itu hanya menganggukkan kepalanya berulang. Olin memandang penampilan cowok itu dari atas sampai bawah. Ada yang berbeda.
"Lo mau jadi preman?" tanya Olin tiba-tiba. Mario menoleh ke samping, wajahnya benar-benar blo'on.
"Nggak," jawabnya tanpa dosa.
__ADS_1
"Baju di keluar'in, nggak pakek dasi, ikat pinggang nggak ada, kancing lepas satu, rambut acak-acakan, lo mau jadi badboy ya!?" tuduh Olin sambil berkacak pinggang.
Mario menggeleng, menolak semua tuduhan yang di berikan sahabatnya.
"Oh gue tau, pasti lo lagi belajar jadi cowok sok cool, biar populer dan bisa di gandrungi cewek-cewek kan? Ngaku!"
"Astaga, lo ngomong apa sih, lin?" tanya Mario tidak mengerti. "Buat apa juga gue harus kayak gitu? kalau emang dari lahir wajah gue udah mendukung buat jadi cowok tampan."
"Idih, pede banget lo, sepagi ini?" Olin menggelengkan kepalanya berulang. Kedua tangannya dia lipat ke depan.
"Emang kenapa kalau gue jadi pusat perhatian cewek-cewek lain, lo cemburu? Atau takut gue berpaling?" goda Mario sambil menaik turunkan alisnya.
"Ogah, ngapain gue takut! Kalau ada yang mau mungut, silahkan!"
Mario tertawa melihat wajah gadis di sebelahnya yang nampak sewot.
"Lo tenang aja, sahabat cewek yang paling deket sama gue, cuma lo doang," setelah mengucapkan itu Mario mengacak pelan puncak kepala Olin.
"Mar,"
"Iya?" Mario mengehentikan kegiatannya. Dia mandang wajah Olin. Gadis itu menegakkan tubuhnya.
"Makasih banyak, ya."
"Buat apa?"
"Lo mau jadi pendengar yang baik, padahal kita baru aja akrab," jeas Olin.
__ADS_1
Mario tersenyum lebar, "Hal sekecil apa pun itu akan gue lakuin buat lo, agar lo tersenyum. Lo harus tetep bahagia dengan hidup yang lo jalani saat ini,entah pahit atau manis, meski sebelumnya lo nggak seberuntung anak-anak broken home di luar sana. Gue harap lo nggak pernah lagi menyalahkan orang-orang di masa lalu. Justru lo harus bersyukur, dengan adanya mereka dulu, sekarang lo jadi gadis yang kuat." ucapan Mario sangat dalam di dengar Olin.
Mata Olin berkaca-kaca, dia sangat senang bisa memiliki sahabat dekat yang bisa mendengar keluh kesahnya. Bagaimana cerita kelam hidupnya dulu.
Mario tersenyum lebar, dia mengusap surai hitam Olin kembali, "Sekarang lo harus jalanin hidup baru, hidup bersama sama mama dan abang-abang lo. Membuka lembaran baru bukan berarti melupakan yang lalu, lo hanya di tuntut untuk berdamai dengan apa yang ada saat ini." jelas Mario lagi.
Kini Olin mengangguk patuh. Dia sudah perlahan menjalani lembaran baru itu bersama mamanya. Meski keluarganya tak seutuh saat masih ada almarhum sang papa. Dia masih memiliki dua laki-laki yang sangat sayang dengannya. Yang akan terus melindunginya.
"Senyum dong," printah Mario.
Olin tersenyum manis di hadapan cowok yang kini menjadi sahabatnya itu.
"Nah gitu," ucap Mario setelah berhasil mencibit pipi kiri Olin.
"Ish, bongol banget!" Olin tak terima. Dia memukul lengan kanan Mario dengan tenaga yang dia miliki. Mario meringis seolah kesakitan, padahal dia tidak merasa sedikit pun rasa sakit akibat pukulan Olin yang nampak tak bertenaga itu.
"Iya deh, gue minta maaf," ucapnya, "Nanti liat gue tanding ya?" imbuhnya memohon pada Olin.
"Ogah!" ketus Olin.
"Yaelah, lin. Sahabat sendiri mau tanding lo nggak nyemangatin?"
"Semangat semangat, idup lu ngemis banget. Prihatin gue. Harusnya tuh semangat itu tercipta dari diri lo sendiri. Kalau emang lo niat buat tanding dan bisa jadi juara. Tanpa lo minta di semangatin orang lain pun, lo juga bakal bisa menang." jelas Olin panjang lebar.
Mario berdecak, "bilang aja nggak mau nonton gue tanding,"
"Panas, pak. Males!" jawab Olin singkat, padat, bodo amat.
__ADS_1
Wajah mario seketika memelas, dia berusaha memohon kepada Olin dengan wajah yang dia buat semelas mungkin.
Olin memutar bola matanya malas, "Iya deh," ucapnya yang membuat Mario tersenyum lebar.