Not To Be Angel

Not To Be Angel
Episode 55


__ADS_3

Mario sudah sampai di rumah Olin. Sesuai janjinya pada Chio kemarin, hari ini Mario yang menjemput Olin. Hampir 15 menit dia menunggu, gerbang di depannya belum juga terbuka. Dia sudah berusaha memencet bell berkali-kali, namun tidak ada hasilnya.


Mungkinkah Olin masih tidur? Namun sebelum berangkat tadi Mario sudah menelvon gadis itu dan sambungan terhubung.


Mario menoleh ke arah gerbang saat putus asanya telah di ambang batas. Akhirnya yang di tunggu pun datang, olin terseyum manis sambil berjalan kearah Mario.


"Ayok," ajaknya tiba-tiba tanpa rasa berdosa sudah membuat Mario menunggu. Mario melihat wajah ceria gadis di depannya.


"Lo nggak minta maaf?" tanya Mario.


Dahi Olin mengerut, "Emang gue ada salah?" tanyanya dengan nada sedikit dingin.


Mario bisa merasakan adanya perubahan mod dari gadis itu, seketika Mario menggeleng. "Nggak, lo nggak ada salah." jawab Mario cepat. Raut wajah Olin dari datar kembali tersenyum ceria.


"Yaudah, ayo berangkat," ajaknya yang di jawab anggukan kepala oleh Mario. Beberapa detik pun, motor itu pun pergi meninggalkan depan rumah rumah Olin.


***


Suasana begitu ramai di Sma Pancasila pagi ini. Semua murid saling berkerumun di lapangan outdoor saat ini. Mereka semua melihat ketegangan para tim dari perwakilan setiap kelas yang sedang bertanding.


Bukan hanya Sma Garuda saja yang akan mengikuti pertandingan persahabatan tahun ini. Namun, Sma Pancasila pun turut mengikuti.


Di saat murid lainnya antusias melihat pertandingan. Sangat berbeda dengan satu siswa ini. Siswa itu tengah duduk di bangku kayu di taman belakang sekolah yang sepi. Tidak ada satu orang murid pun yang menemaninya, kecuali komik yang tengah berada di tangannya.


Cowok itu menikmati suasana sepi sendiri, dia selalu senang dengan keadaan ini. Dimana tanpa adanya kebisingan yang mengganggu konsentrasinya.


Dulu di bangku ini selalu ada dua cowok yang bersendau gurau tanpa lelah. Namun, sekarang hanya tinggal dirinyalah yang masih duduk Setia di sini setiap harinya. Tepukan di pundak membuatnya berjingkat kaget.


"Bisa nggak sih nggak usah ngagetin!" ketusnya pada gadis yang sekarang berada di depannya.


"Maap," jawabnya santai.


"Ada apa?" tanya Chio, nada bicaranya sangat datar.


Gadis itu tersenyum centil, "Lo tau kan Mario sekarang sekolah dimana?" tanyanya sok manis.


Chio menggeleng cepat, "Nggak!"


Raut wajah gadis itu segera berubah sebal, "Ck, lo jangan bohong ya, gue tau."


Chio memutar bola matanya malas, "buat apa sih lo tanya-tanya kek begituan."


"Iya gue pengen tau lah kabar pangeran gue." jawabnya penuh dengan rasa percaya diri tinggi.


"Sa, lo tuh cuma mantan. Nggak usah lah deketin mario lagi." sentak Chio pada Sasa.


"Kenapa? Nggak boleh?"


"Mario tuh risih, asal lo tau aja dia juga udah punya cewek. Stop buat ngejar dia lagi." tegas Chio dengan tatap tak suka pada Sasa.


"Liat aja. Gue bakal bisa nyari keberadaan Mario sendiri. Dan gue bakal bisa dapetin dia lagi." setelah mengucapkan itu Sasa pun pergi.


Chio menggeleng, "Cewek stress emang!" gumamnya dan kembali membaca komik.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Chio tidak berniat untuk menoleh.


"Chi," panggil seorang cowok.


"Ada apa?" tanya Chio pada cowok bernama Ervan.


Ervan menyerahkan sebuah kertas yang di lipat layaknya surat. "Gue mau, lo ikut tanding besok,"


Chio tidak menerima kertas itu, dia melihat wajah Ervan dengan tatapan datar. "Kenapa gue harus ikut?"


"Kita butuh lo," sambung Ervan lagi.

__ADS_1


Chio menggeleng lalu berdiri dari duduknya, "Sorry, tapi gue udah nggak minat." jawabnya.


Ervan menghelai nafasnya panjang. "Plis kali ini aja," Ervan memohon.


Chio menatap lekat manik cowok itu. "Gue nggak pernah ikut latihan dan dengan percayanya, lo nyuruh gue ikut tanding?"


"Gue percaya lo bisa, tim kita butuh lo. Sejak lo keluar, rasanya kita kehilangan jantung dalam tubuh." Ervan mengucapakan dengan nada sesedih mungkin.


Chio tersenyum mengejek, "Bukannya lo seneng saat gue mutusin keluar dari tim? Apa lagi Mario juga keluar untuk selamanya? Bukannya bahagia lo berlipat-lipat setelah kejadian itu?"


Ervan menggelang cepat, "Lo salah paham, Chi. Kita butuh lo. Pertandingan persahabatan ini bener-bener berarti buat kita semua. Bukan cuma nama tim, tapi juga tentang nama sekolah kita." ucap Ervan serius.


"Lo yakin percaya sama gue?" tanya Chio lagi meyakinkan.


"Skil lo nggak perlu di raguin. Gue dan anak-anak percaya penuh sama lo." jawab Ervan.


Chio mengangguk, "Trus siapa lawan kita nanti?" tanya Chio penasaran.


"Sma Garuda." jawab Ervan mantap.


Chio terkejud, dia terdiam untuk beberapa saat. Itu adalah sekolah baru Mario saat ini. Dan cowok itu sekarang adalah ketua tim volly di Sma Garuda. Tandanya, tim Ervan akan melawan tim Mario jika hari ini Mario memenangkan pertandingan. Ini bukan kabar bagus untuk Chio dan Mario. Pasalnya Ervan adalah musuh bebuyutan Mario.


"Chi, gimana?" suara Ervan mengagetkan.


Chio tersadar dari lamunannya, dia memandang lagi wajah Ervan. Jika cowok itu tau Mario lah lawannya nanti. Maka dia tidak akan tinggal diam. Ervan akan menghalalkan beribu cara untuk menjatuhkan kembali Mario. Dan Chio tidak ingin itu terjadi.


"Mana suratnya." ucap Chio mengambil surat pernyataan yang sedari tadi di bawa oleh Ervan.


"Jadi, lo mau ikut?" tanya Ervan penuh harapan.


"Gue pikirin dulu," jawab Chio.


Ervan mengangguk paham, "Oke, besok gue tunggu jawaban lo. Kalau lo mau ikut cukup tanda tangani surat pernyataan itu dan kembali'in lagi ke gue." ucap Ervan dengan senyum kelegaan.


'di harapakan untuk saudara Christian Diovani Gumilang mengikuti pertandingan persahabatan yang mewakili sekolah dengan tim vollynya pada hari...'


"Oke, besok gue temui lo." ucap Chio yang di balas anggukan oleh Ervan.


"Gue tunggu kabar baiknya." setelah menepuk pundak Chio, Ervan pun pergi. Kepergian Ervan membuat Chio panik. Dia segera menghubungi Mario.


"Ayo, Mar. Angkat telponnya," gumam Chio tak sabar karena telvonnya tidak di angkat oleh Mario. Dia terus menghubungi sang sahabat namun nihil.


"Ah, ****!" geramnya lalu pergi dari taman.


***


"Kalau kali ini seri lagi, bisa dapet piring cantik kita." ucap Alan disela istirahat pertandingan.


Mario menghelai nafasnya, sudah 2 babak dia dan tim lakukan, namun hasilnya tetap seri. Jika di babak ini seri lagi. Entahlah, bagaimana nasib mereka nanti.


"Berdosa ya kita ngalahin kakel?" Tanya Raja.


"Iya nggak lah, namanya juga pertandingan." saut Isqi.


"Kita lakuin sekuat yang kita bisa. Kalau pun harus kalah, emang belum saatnya kita mewakili sekolah di acara nanti." ucap Mario selaku ketua tim.


"Kita harus menang. Hari ini kita harus bikin party!" tegas Gilang penuh semangat.


"Nah tuh cakep. Motivasi si Gilang," semua yang berada di sana tertawa singkat.


"Oke, kita harus menang biar malam ini kita party," imbuh Mario dengan senyuman. Semua anggota tim mengangguk kompak. Sebelum memasuki lapangan mereka kembali berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing.


Babak ketiga ini di harapkan menjadi babak penentu. Siapa yang akan mewakili sekolah untuk acara pertandingan persahabatan nanti.


Peluit di tiup dan bola itu mengudara. Terlempar ke sana kemari. Skor demi skor mulai terkumpul di antara kedua tim. Persaingan sengit terjadi di menit terakhir. Dimana tim kelas 11 memimpin skor tertinggi.

__ADS_1


Suara sorakan penonton terdengar menyemangati dengan penuh semangat 45. Strategi demi strategi telah lancar di susun oleh Mario. Kini tinggal mempraktikkannya satu persatu.


Umpan dari Alan yang mulus, seketika di lancarkan oleh Mario pun tidak bisa di hadang oleh lawan. Skor terakhir di menit terakhir pun sukses di miliki tim kelas 11.


Suara peluit panjang terdengar menghentikan pertandingan final hari ini. Tim Mario pun menang. Senyuman lebar penuh kelegaan dan kebahagiaan tercetak jelas di wajah tampan Mario. Keringat yang bercucuran tidak menutupi kebahagiaannya.


"Akhirnya kita menang!" sorak Alan bahagia.


"Kita jadi party!" Gilang tak kalah semangat.


Bangku penonton riuh akan sorakan suporter pendukung tim pemenang. Mereka pun merayakan kemenangan dengan penuh suka cita.


Suara deheman membuat Mario dan kawan-kawan menoleh. Rupanya itu adalah David, kakak kelas meraka.


"Selamat ya." ucapnya sambil tersenyum.


"Makasih bang, sorry kita berdosa udah bikin tim kalian kalah," jawab Mario mewakili teman-temannya.


David tersenyum lalu menggeleng, "Apa yang kalian lakuin udah bener kok. Memang udah seharusnya kita istirahat, kini giliran kalian yang berperang."


Semua tim Mario mengangguk. "Sebagai tanda merayakan kemenangan kalian, gimana kalau malam ini kita bikin acara makan-makan." tawar David lagi. Semua diam dengan ajakan David sang kakak kelas.


"Tenang gue yang traktir," imbuhnya yang ampuh membuat Mario dan semua temannya melotot tak percaya.


"Seriusan bang?" tanya Alan. David mengangguk mantap.


"Tapi dimana?"


"Di cafe milik abang gue!" seru seorang cowok yang baru saja datang. Dia adalah Bimo, sang kakak kelas sekaligus teman setim David. Semua kaget, mengapa tiba-tiba kakak kelas mereka menjadi baik seperti ini.


"Gimana?" tanya David. Tanpa ragu semuanya mengangguk kompak.


"Okedeh nanti malam jam 7. Nanti kita kasih tau alamatnya dimana," setelah mengucapkan itu David dan Bimo pergi.


"Asli hoky bener kita ya," ucap Isqi.


"Iya nih, tumben mereka nggak bawa nama senioritas." ucap Raja.


"Mau lulus, mangkanya tobat. Yuk cabut." setelah mengucapkan itu Alan mengajak teman-temannya pergi dari area lapangan Volly.


***


"Loh mar, mau kemana?" tanya Gilang saat melihat Mario yang akan berbelok di persimpangan koridor.


"Nyari Olin." ucapnya lalu pergi meninggalkan Alan dan Gilang sendiri di kantin.


Mario harus menemui Olin untuk menunjukan hadiah yang sudah di persiapkan Mario selama ini. Dia sudah tidak sabar melihat ekspresi Olin nanti.


Dia trus mencari keberadaan Olin. Di kelas, di perpus, sampai di lapangan basket pun gadis itu tidak ada. Mario kebingungan, dia ingin menghubungi Olin, namun ponselnya kehabisan daya.


Akhirnya satu-satunya tempat yang belum dia datangi adalah taman. Setelah berjalan menyusuri koridor beberapa menit akhirnya Mario melihat keberadaan gadis yang dia cari sedari tadi.


Mario segera berjalan mendekati Olin yang tengah membaca novel sambil memakai earphonenya. Mario menutup mata Olin dengan kedua tangannya.


"Siapa nih?" tanya Olin. Tidak ada jawaban. "Bang Davi?" tanyanya lagi.


Mario masih diam dan terus tersenyum. Olin mencoba mengenali tangan besar yang menutup matanya. Setelah dirasa benar dengan tebakannya. Olin pun bersuara.


"Mario ya?" tanyanya karena dia tau dari jam tangan yang di pakai Mario saat ini.


Mario masih diam tidak menjawab. Dia masih penasaran dengan kejelian Olin tentang dirinya.


"Mar, gue hafal banget bau parfum lo." ucap Olin akhirnya. Seketika Mario tertawa ternyata Olin begitu mengingatnya.


"Padahal gue belom ganti baju loh, dan masih keringetan pula. Tapi lo masih bisa nyium bau parfum gue, hebatnya" ucap Mario sambil cengengesan. Olin berdecak.

__ADS_1


__ADS_2