Not To Be Angel

Not To Be Angel
Episode 4


__ADS_3

Sepanjang jam pelajar terakhir Olin sangatlah bosan pak Wahyu menjelaskan rumus matematika dengan antusiasnya. Padahal jika sekarang di lihat semua penghuni kelas tengah bosan. Banyak para murid yang menompang kepalanya dengan tangan, ada juga yang menguap berkali-kali.


Beraneka ragam lah kelakuan semua murid di kelas itu. wajar saja jika semua murid bosan pasalnya sudah siang dan otak mereka sudah tidak mampu menerima materi yang di berikan. Terlalu payah akibat materi-materi pelajaran sebelumnya.


"Nya, lo gak bosen denger pak Wahyu ngoceh mulu?" tanya Alan di sampingnya.


"Menurut lo, gue dari tadi diem, nyanyi dalam hati karena apa? ya nahan ngantuk lah. Yakali gue diem dengerin pak Wahyu jelasin." jawab Anya seperti berbisik.


Alan menghembuskan nafasnya pasrah, pandangan kembali ke depan.


"Sumpah gue nggak paham pak Wahyu ngomong apa." ucap Gilang lirih.


"Lu kira lu doang nyet, gue juga kali. Asli ngantuk banget gue. Tidur boleh nggak sih?" tanya Saras pada Gilang.


"Kalau lo mau tidur, gih tidur ntar gue bangungin." ucap Gilang.


"Ntar gue yang di hukum lah bege."

__ADS_1


"Tuh ngerti, udah betah betahin deh," Gilang menyarankan. Kemudian cowok itu merogoh saku celananya.


"Nih, makan permen biar nggak ngantuk," Gilang menyodorkan sebungkus permen pada Saras.


"Dari tadi kek ngasihnya." ucap Saras mengambil permen dari tangan Gilang dan memakannya.


Sedangkan di depan bangku Anya dan Alan. Dua orang saling diam. Tidak ada suara yang terdengar di antara mereka berdua.


"Eh Nya, lo liat Olin sama Mario. Udah kayak pasangan yang lagi berantem." ucap Alan sambil berbisik.


"Iya dong, diem-dieman kayak lagi ada masalah rumah tangga," Anya menahan tawanya susah payah.


Olin dari tadi bermain bolpoint di tangannya. Dia memutar mutar bolpoint itu dengan rasa bosan.


Plukk


Bolpoint Olin jatuh tepat di antara sepatu Mario. Olin ingin mengambilnya namun dia canggung. Mario yang tau akan sikap Olin pun paham.

__ADS_1


Cowok itu membungkukkan tubuhnya, mengambil bolpoint milik Olin di antara sepatunya. Mario tidak langsung mengembalikan bolpoint itu. Dia menulis sesuatu di atas sobekan kertas. Setelah itu dia selipakan di antara tutup bolpoint milik Olin.


"Nih." ucapnya sambil menyodorkan bolpoint itu ke depan Olin.


Kening Olin berkerut saat melihat kertas yang terselip di tutup bolpointnya. Gadis itu membuka dan membaca apa yang tertulis di atas sobekan kertas dari Mario tadi.


Nama gue Mario, jangan diem aja gue tau lo nggak bisu. Lo nggk usah takut gue bukan setan, gue manusia. Coba deh ngobrol sama gue. Gue asyik kok orangnya :v


Olin tersenyum simpul membaca tulisan Mario. Matanya melirik ke samping dimana Mario berada. Dan tanpa dia sadari cowok itu juga memandangnya sambil tersenyum.


Seketika Olin salah tingkah, karena di tatap Mario seperti itu. Tapi sebisa mungkin dia bersikap biasa aja.


Mario mendekatkan tubuhnya di samping Olin. Dia berbisik sangat lirih.


"Boleh kan berteman sama lo." ucap cowok itu.


Olin hanya mengangguk singkat. Sambil tersenyum tipis. Mario menjauhkan tubuhnya kembali keposisi awal. Tanpa mereka sadari empat pasang mata di belakang mereka menatap curiga.

__ADS_1


---------------------------------------------


"Mar, pulang sama siapa?" tanya Gilang yang berada di sebalah Mario. Mereka berdua sudah berada di depan gerbang sekolah sekarang. Gilang yang menunggu Alan, dan Mario yang entah menunggu siapa.


__ADS_2