
Olin masih ingat dimana dirinya perna berada di sini sebelumnya. Mario juga yang pernah mengajaknya.
"Ayo." ajak Mario pada Olin di sampingnya. Semula gadis itu ragu untuk mengikuti mario, namun lama-lama olin menjadi penasaran. Mengapa mario sering datang kemari.
Cukup lama mereka menyusuri jalanan setapak yang kumuh di sekitarnya.
"Mario." suara anak kecil terdengar dari kejauhan. Mario tersenyum mendengar suara yang di susul seorang anak berusia kira-kira 14 tahun dengan baju compang-camping, kulit yang kusam dan terlihat kotor, sangat jelas dari pandangan olin saat ini.
"Baru aja mau gue cari, lo udah dateng." jawab Mario sambil tersenyum.
"Haha aku udah cium bau badan mu dari kejauhan." jawab anak kecil tadi,
"ini siapa? Pacar kau ya?" tanyanya sambil memandang Olin dari atas hingga bawah.
"Bukan, ini temen gue."
"Ohh, kenalkan nama ku Ramos." anak itu mengulurkan tangan kanannya pada olin. Gadis itu menyambut dengan sedikit keraguan. Namun Mario mengisyaratkan agar Olin tidak takut.
"Olin." jawab Olin singkat.
"Wah, cantik kali namanya, wajahnya pun cantik." ucapnya sambil tersenyum sumringah.
Olin hanya nyengir kuda di puji seorang anak kecil di depannya. Kali ini logat anak itu bukan dari suku jawa atau sunda, lebih ke timur.
__ADS_1
"Heh, lo masih kecil juga, udah tau cewek cantik segala."
"Biarkanlah, selama ini kebanyakan yang aku temui memanglah cantik, tapi hatinya tak ada yang cantik."
Mario tertawa, "udah deh, nih ada nasi bungkus tolong bagi'in ke temen-temen lo yang lain ya."
"Wah tau aja aku belum makan. Makasih ya Mario." ucapnya senang sudah mendapat pemberian dari Mario.
"Iya sama-sama, buruan pulang jangan ngamen trus."
"Siap bos."
Setelah itu anak kecil tadi segera berlalu dari hadapan Olin dan Mario.
Mario nyatanya tidak sama seperti yang dia pikirkan sebelumnya. Cowok itu ternyata memiliki hati layaknya malaikat. Dia baik dan mau membaur dengan orang yang jauh dari golongan kasta kelurganya yang di bilang, kaya.
Meski hidupnya serba kecukupan dia masih memikirkan hidup orang lain yang lebih membutuhkan. Tapi mengapa dia sangat akrab sekali dengan anak kecil tadi? Ada apa dengan seorang mario? Cowok dengan kepribadian tenang itu sepertinya menyimpan banyak rahasia. Terbukti dari tatapan iba dan kosong saat dia menyusuri jalan di bawah kolong jembatan tadi. Tapi apa? Entahlah Olin juga tidak mengerti.
"Besok gue jemput ya." ucap Mario saat berada di depan rumah Olin.
"Boleh, tapi gue ijin bang Raven dulu."
"Kalau nggak boleh, biar gue yang minta ijin." jawab Mario. Olin mengangguk singkat.
__ADS_1
"Kalau gitu gue masuk dulu, bye." pamitnya lalu pergi memasuki pelataran rumahnya.
Semenit kemudian Mario pun pergi dari sana.
---------------------------------------------
"Assalamualaikum." suara Olin memecahan keheningan di ruang tamu rumahnya yang sepi.
Mobil Raven di rumah itu tandanya kakaknya sudah pulang, tapi mengapa rumahnya sepi.
"Waalaikumsalam, eh udah pulang," sambut seorang wanita dari arah dapur sambil membawa secangkir teh di tangannya.
"Loh bunda disini? Sejak kapan?" ucap Olin sambil mendekat ke arah Mirna sang Bunda.
"Tadi di anter sama ayah Toni."
"Sekarang ayah dimana?"
"Balik kerja lagi, udah sana ganti baju bersihin badanya trus makan, bunda udah masak." ucap Mirna kepada Olin, yang di balas anggukan oleh gadis itu.
Setelah kepergian Olin, Mirna menuju ke ruang keluarga, menaruh secangkir teh yang tadi dia bawa di atas meja. Mirna menuju pintu bercat coklat yang menghadap ruang keluarga.
Pintu diketuk dua kali, dan keluar sang penghuni kamar itu.
__ADS_1