Not To Be Angel

Not To Be Angel
Episode 35


__ADS_3

"Kalau bapak kasih tau, namanya ulangan." jawab pak Trisna cuek. Semua murid mengeluh, tapi tidak beberapa lama semua murid mulai membuka buku paket masing-masing.


Pak Trisna mulai menerangkan di depan kelas. Alan dan Gilang juga sudah kembali ke tempat duduknya masing-masing.


Semua murid sangat tertib dan tenang. Tidak ada yang bergurau sedikit pun. Merak semua sibuk dengan tes lisan yang akan mereka hadapi.


---------------------------------------------


"Olin, mana?" tanya seorang laki-laki, membuat Saras dan Anya kaget.


"Astagfirullah, lo bikin kita jantungan aja." ucap Saras sambil memandang laki-laki itu.


"Di kelas, kenapa?"


"Kenapa nggak ke kantin?" tanyanya lagi.


"Biasa, lagi bm doi."jelas Anya. Mario mengangguk.


"Dia pesen ke kalian?" Saras dan Anya mengangguk bersamaan.


"Sini, biar gue yang bayar makanannya olin, kalian makan aja biar gue yang bawa ke kelas." ucap mario, lalu mengambil makanan yang di pesan Olin. Setelah membayar Mario pun pergi menuju kelas dimana Olin berada.

__ADS_1


Mario melihat Olin yang sedang membaca novel sambil mendengarkan lagu. Dia menghampiri gadis itu.


"Pesenan datang." ucap Mario riang.


Olin melihat ke arah Mario datang. "Kok lo yang bawain pesenan gue?" tanya Olin heran.


"Nggak pa-pa, toh gue juga ada kewajiban yang harus gue tanggung buat lo."


"Hah? Maksudnya?" Olin nampak tidak mengerti maksud Mario.


"Gue kan harus traktir lo makan selama seminggu ini." ucap Mario sambil memakan cilok miliknya.


Olin baru ingat sekarang, "Oh iya, gue kelupaan."


"Gimana sama bang Davi?" tanya Mario tiba-tiba.


Olin menghentikan aktifitasnya. "Iya gitu, baik-baik aja kok."


Mario melihat wajah gadis di sebelahnya dengan teliti. "Maafin gue ya." ucapnya.


"Maaf buat apa? Lo nggak salah." jawab Olin.

__ADS_1


"Gue udah tau soal bang Davi, dan dia nyuruh gue buat nggak ngasih tau lo. Dia nggak pengen liat lo sedih dan kepikiran." jelas Mario, wajahnya sedikit takut. Takut jika Olin marah padanya.


"Nggak pa-pa, Mar. Lo nggak salah kok dan lo nggak seharusnya minta maaf." ucap Olin sambil tersenyum.


"Jujur, gue nggak tau apa yang lo alamin dengan abang-abang lo. Gue nggak ngerti cerita hidup lo yang sebenernya. Tapi gue pengen kalau lo ada masalah, gue yang selalu lo ajak bercerita. Nggak usah malu atau sungkan, Lin. Gue mau jadi temen curhat lo. Meski gue sadar lo nggak bakal percaya dengan semua solusi yang gue berikan." Mario sangat serius dengan ucapannya.


Olin lagi-lagi tersenyum lebar, dan mengangguk "Thanks, Mar. Mungkin gue juga harus percaya sama laki-laki lain, selain abang gue. Gue percaya kok kalau lo cowok baik. Ya, meski lo di D.O dua kali itu yang bikin gue ragu apa lo beneran cowok baik-baik." Ucap Olin.


"Gue cowok baik, Lin." ucap Mario dengan waja serius.


"Itu kan penilaian lo sendiri, orang lain kan beda lagi nilainya."


"Jadi, lo ragu kalau gue cowok baik?"


Olin mengendikan bahunya, "Dari tampang emang udah nggak meyakinkan." ejek Olin. Mario cemberut yang membuat Olin tertawa.


Sedikit kelegaan di hati Mario saat ini. Bisa melihat Olin tertawa lepas karenanya. Dia tidak ingin melihat Olin sedih. Dia selalu ingin gadis itu tertawa bahagia. Meski dia masih belum tau apa yang menjadi alasan Olin terlihat tertutup dan sedih.


"Ntar pulang gue anter ya." ucap Mario.


"Kenapa sekarang lo suka banget sih jadi ojek gue?"

__ADS_1


"Ya nggak kenapa-kenapa sih, suka aja. Oke ntar gue yang nganter, gue juga yang bakal ijin ke bang Davi," Olin hanya mengangguk sambil memakan makanannya.


Mario tersenyum lebar. Sekarang dia selangkah lebih dekat dengan Olin. Meski hanya sebatas teman. Setidaknya gadis itu tidak bersikap dingin lagi padanya. Entah sejak kapan pula Olin berubah sikap kepadanya. Tapi yang jelas itu membuat Mario senang.


__ADS_2