Not To Be Angel

Not To Be Angel
Episode 47


__ADS_3

"Oh si Gilang."


"Nah itu, dia juga cakep loh. Tinggi,putih, tubuhnya atletis banget lagi."


"Gue kayaknya, stay ke dia aja deh."


Gunjingan itu terdengar lagi. Kini menyangkut nama Gilang sang ketua kelas 11 Ipa 2.


"Woy mbak, Gilang pacar gue. Nggak usah di gunjingin, gue denger!" ucap Saras tiba-tiba sambil melotot kearah salah satu siswi yang tadi berbicara terakhir.


"Eh ,nggak tau. Sorry-sorry." ucap siswi itu.


"Ras," panggil Anya agar gadis itu berhenti melotot ke arah siswi tadi.


"Sorry ya, temen gue agak sensi soalnya." Olin coba meminta maaf kepada ketiga gadis tadi.


Mereka bertiga lalu mengangguk dan menjauh dari Olin, Anya dan Saras.


"Lo ngegas banget sih, ras. Pakek acara ngaku jadi pacarnya Gilang segala." Anya tak habis pikir dengan satu sahabatnya itu. Bisa-bisanya dia berteriak bilang kalau Gilang adalah pacarnya kepada para siswi tadi.


"Yah reflek aja gue," jawab Saras sedikit gugup.


"Lo nggak lagi bohong kan?"


"Bohong apaan?"


"Iya lo lagi nggak nyembunyiin sesuatu dari kita kan." Olin memancing Saras untuk jujur. Gadis itu hanya diam.


"Emm...."


"Lo barusan bilang kek gitu, secara nggak langsung lo nunjukin kalau ada apa-apa antara lo sama Gilang. Ngaku nggak lo?" Olin sepertinya mencium bau tidak beres antara Saras dan Gilang.

__ADS_1


"Ih di bilangin juga nggak ada kok. Gue nggak suka aja sama mereka tadi. Ngomongin temen kita. Risih tau."


"Tenang, Ras. Mereka nggak mungkin kok dapetin Gilang." kini giliran Anya yang mengucapkan kata yang sama tadi Saras katakan pada Olin.


Saras mencebikan bibirnya singkat mendegar ucapan Anya.


"Kalian kok pada disini?" suara seorang cowok membuat tiga gadis itu menoleh ke sumber suara.


"Lah udah selesai kalau latihan?" tanya Olin.


Mario mengangguk dan duduk di sebelah Olin. "Lagi jamkos atau apa?" tanyanya sambil meminum air mineral yang tadi Olin bawa.


Olin hanya mengerutkan dahinya tak paham dengan kelakuan Mario yang asal ambil minuman orang.


"Iya jamkos, katanya buat persiapan besok." ucap Anya.


"Enek bener kalian jamkos padahal nggak ikut latihan," Gilang tidak terima.


"Lan, Doi lo tolong di kondisikan." ucap Gilang lagi.


"Udah, ay. Ke kantin yok makan. Gue laper." Ajak Alan pada Anya. Gadis itu mengangguk dan mulai berdiri.


"Idih pakek manggil ay ay segala. Ayam?" Saras syirik.


"Kenapa? pengen? Tuh Gilang suruh kek gitu. Bisa kok dia." ucap Alan lalu pergi bersama Anya.


Olin dan Mario hanya tersenyum melihat kelakuan para sahabatnya.


"Lo nggak laper, ras?" tanya Gilang yang masih berdiri di depan Saras.


"Laper sih,"

__ADS_1


"Yaudah yuk makan," Gilang langsung menggandeng tangan Saras untuk segera menuju kantin.


"Kita duluan ya," pamit dua orang itu bersamaan. Mario hanya mengangguk.


Setelah kepergian para sahabatnya tinggal menyisakan Olin dan Mario yang masih berada di tribun.


"Lo laper?" Olin menggeleng.


"Kenapa? Lo mau makan?"


Mario ikut menggeleng, "Tadi gue udah sarapan nasi goreng. Masih kenyang." jawabnya berbohong, padahal tadi pagi dia hanya sarapan selembar roti tawar saja.


Menurut Mario melihat wajah Olin laparnya sedikit hilang. Oke Mario mulai bucin sekarang.


Dia memandang wajah teduh Olin. Gadis itu sudah kembali ceria, setelah kejadian beberapa hari lalu yang menimpanya. Dia mulai terbuka dan kembali ceria.


"Gimana?" tanya Mario tiba-tiba.


Olin menoleh, "Apanya?" gadis itu malah berbalik bertanya.


"Soal mama lo. Beberapa hari ini gue jarang bisa ngobrol bareng lo, gue juga nggak ngerti apa aja yang terjadi sama lo kemarin." ucap Mario matanya masih berpusat di manik milik Olin.


"Lebay, baru juga 4 hari nggak ketemu gue lo udah khawatir banget," Olin terkekeh.


"Kan gue udah pernah bilang. Gue bakal jadi orang pertama yang ada saat lo butuh. Wajar kalau gue khawatir saat nggak tau tentang lo kemarin."


Olin tertawa, cowok di sampingnya memang aneh.


"Malah ketawa loh, lin."


Olin tetap saja tertawa, padahal Mario tidak berniat sedikit pun untuk bergurai.

__ADS_1


"Lo baik-baik aja kan sama mama lo?" tanya Mario lagi. Olin berusaha menghentikan tawanya. Wajahnya berubah sedih. Mario bingung kenapa gadis yang tadi ceria seketika murung? Ada berita apa soal Olin yang tidak di ketahui Mario beberapa hari ini?


__ADS_2