Not To Be Angel

Not To Be Angel
Episode 21


__ADS_3

Mobil Mario berhenti di belakang mobil yang terparkir di depan rumah Olin.


"Thanks, mar. Mau mampir?" tanya Olin.


Sangat tumben sekali, Olin bersikap ramah padanya. Tidak secuek biasanya. Mario pun menggeleng. "Lain kali aja, Lin." ucapnya.


"Yaudah. Gue masuk dulu." setelah Olin pergi dari hadapannya Mario lantas tidak pergi. Dia masih setia di tempatnya. Sampai dia mendengar suara terikan kencang Olin.


"Bunda." itulah suara Olin yang terdengar di kuping Mario.


"Ohh, ini mobil bundanya toh." gumam Mario sambil memandang sedan mewan di depannya.


Tak ingin berlama-lama di sana. Mario pun memasuki mobilnya dan pergi.


"Bunda." teriak Olin keras saat melihat seorang wanita paruh baya berparas cantik duduk membelakanginya.


Wanita itu menoleh, lalu tersenyum manis. "Olin."


"Bunda, apa kabar?" tanya Olin ssmbil memeluk wanita yang dia panggil bunda.


"Bunda baik, kamu baik kan sayang?" tanya wanita itu sambil mengelus surai hitam gadis di pelukannya.


"Olin baik kok, bun." jawab Olin."bunda kesini sendiri?" tanyanya lagi.

__ADS_1


Wanita itu mengangguk, "Iya, bunda sendiri. Ayah mu sibuk kerja lembur di kantor."


"Olin. Ganti baju dulu bersihin badan baru balik kesini lagi." perintah Raven yang duduk tak jauh dari kedua hawa tersebut.


Olin mengangguk dan pergi ke kamarnya untuk mandi.


"Davi kemana kok belom pulang?" tanya Mirna pada Raven.


"Davi kerja, bun" jawab Raven jujur.


"Kerja? Sejak kapan?" tanya Mirna dengan ekspresi terkejudnya.


"Sejak kita masih tinggal sama bunda, tepatnya sebulan sebelum kita pindah kesini." jelas Raven berharap Mirna tidak marah.


"Apa kamu nggak ngelarang dia, Rav?"


Mirna menghembuskan nafasnya, mencoba mengerti keadaan tiga remaja itu.


"Bunda cuma pengen kamu tetap awasin Davi. Tetap arahin dia biar fokus juga dengan pendidikannya. Jangan sampai kerjaan dia menganggu sekolahnya. Apalagi Davi kan udah kelas 12,sebentar lagi lulus dan kuliah. Bunda nggak mau dia sampai nggak kuliah dan malah tetep asyik cari uang. Bunda khawatir."


"Raven paham, bun. Raven tetep awasin Davi dengan baik. Lagian Davi kerja di cafe yang sama kayak Raven, hanya saja kita beda tempat."


"Ya sudah kalau gitu. Kalian sebenernya nggk perlu kerja. Bunda dan ayah bisa kok bantu keuangan kalian." ucap Mirna serius menatap Raven.

__ADS_1


"Bun, kita nggak mau nyusahin bunda dan ayah terus-terusan. Kita pengen mandiri. Itu kenapa aku sama adik-adik pengen tinggal sendiri. Kita pengen mandiri, bun." Raven berusaha meyakinkan Mirna.


Mirna mengangguk, "Bunda percaya ke kalian, tapi inget, kalau ada apa-apa kalian bilang ke bunda atau ayah ya."


"Iya, bun. Pasti." ucap Raven sambil tersenyum.


"Tadi Raven masak, bunda mau makan?" tanya Raven.


"Emang masakan kamu udah bener rasanya?" ejek Mirna tak yakin akan masakan buatan Raven.


"Ihh bunda, Raven udah berusaha loh. Ayo di cobain." ucap Raven sambil mengajak Mirna untuk mencicipi masakannya.


---------------------------------------------


"Hallo bre."


"Heh, tumben lo telvon."


"Haha gue kangen sama lo. Lo nggak kangen sama gue? Udah lama loh kita nggak ketemu."


Suara gelak tawa terdengar di sebrang sana.


Mario tersenyum lebar mendengar tawa dari sahabatnya, "gue kangen sama lo. Gimana SMA Pancasila, masih sama aja atau udah berubah."

__ADS_1


"Parah sih lo, lo pindah kenapa gak bilang gue. Tau gitu gue ikut pindah. Sekarang sekolah kita nggak rame tanpa lo," lapor cowok itu dengan nada sedikit sedih.


"Iya syukur lah biar pamor sekolah itu bisa kembali membaik." jawab Mario sambil terkekeh.


__ADS_2