
"Mario buruan turun. Ayo kita makan," suara Mutia terdengar menggelegar.
Di meja makan sudah ada Indra, Pandu dan Mutia. Tinggal menunggu sang biangkerok saja yang belom turun.
"Adik mu kemana,Ndra?"
"Tidur kali, ma." jawab Indra sambil menerima nasi dari tangan Mutia.
"Pandu, kamu panggil abang kamu turun ya," pinta Mutia pada putra bungsunya. Pandu mengangguk paham lalu berlalu dari meja makan.
"Mama yakin nyuruh Pandu buat bangunin Mario?"
"Emang kenapa?"
"Bisa di terkam tuh Pandu ntar, ma." jawab Indra yang membuat Mutia hampir melamparkan sendok ke arah Indra.
"Ih kamu itu kalau ngomong suka ngawur."
Suara langkah kaki dari arah tangga terdengar. Mutia melihat dua anaknya sudah turun.
"Ayo makan malam, Mar. Kamu ngapain aja di kamar?" tanya Mutia.
"Tidur ma." Mario hanya menjawab singkat karena masih mengantuk.
"Tumben playboy jam 7 udah tidur. Biasanya juga klayapan trus pulang pagi deh." olok Indra sambil memasukan sesuap nasi ke mulutnya.
"Diem, jangan ngajak perang deh." jawab Mario ketus.
"Udah, ayo makan jangan ribut." ucap Mutia melerai perang mulut antara Mario dan Indra.
"Lusa papa kalian pulang, Indra kamu jemput papa ke bandara ya?"
"Sama mama?" tanya Indra.
"Iya sama mama. Nanti Pandu biar Mario yang jemput. Bisa kan Mar?"
"Bisa ma."
"Papa pindah tugas ma?" tanya Indra lagi karena baru kali ini papanya pulang lebih cepat.
"Katanya sih gitu. Yang di luar kota mau di urus om wildan. Papa ngurus kantor yang disini." jelas sang mama.
"Asyik dong sering ketemu papa. Bisa maen." sorak Pandu girang.
"Paling juga minta mainan trus." ucap Indra pada adik bungsunya.
"Indra, gak boleh gitu sama adik kamu," Mutia marah.
"Hehe bercanda," Indra cengengesan.
__ADS_1
"Mario ke kamar duluan ya mam." pamit Mario setelah selesai makan. Mutia hanya mengangguk membiarkan anak tengahnya pergi bertapa.
Di kamar Mario hanya duduk di balkon kamarnya sambil bermain ponsel.
"Grup apaan nih." gumamnya sambil menatap layar ponsel.
Saras baru saja membuat grup chat whatsapp untuk belajar tugas dari bu Diah. Nomor Mario pun juga ikut dalam grup iku karena ulah Gilang.
Mario tersenyum tipis setelah membaca chat di grup itu, lalu memasuki kamarnya setelah dia menjatuhkan putung rokoknya ke lantai dan menginjaknya sampai padam.
Dia harus tidur hari ini, dia lelah akibat latihan volly tadi di sekolah.
---------------------------------------------
"Eh, jadi kan acara kita." tanya Alan di bangkunya.
Semua murid sudah meninggalkan kelas karena bel pulang sekolah sudah terdengar 5 menit yang lalu.
"Jadi lah, mama gue udah masak banyak juga buat kalian." jawab Mario.
"Wah asik tuh," sorak Gilang.
"Soal makanan aja nomer satu," sindir Saras di sampingnya.
"Emang lo nggak laper ,Ras?" tanya Gilang sambil memandang Saras.
"Udah, sekarang kita langsung ke lokasi aja. Eh lo cewek-cewek pada bawa kendaraan?" tanya Alan.
Ke tiga gadis itu menggeleng serempak. "tadi gue di anter." ucap Anya.
"Gue juga," Saras ikut menimpali.
"Kalau Olin nggak usah di tanya, dia jelas di anter." ucap Gilang. Olin yang tadinya mau menjawab pun ganti memanyunkan bibirnya kesal akibat ulah Gilang.
Mario di samping Olin hanya tersenyum tipis.
"Gini aja, Anya sama gue, Saras biar sama Gilang dan Olin sama Mario. Boncengan." jelas Alan.
"Kok lo yang ngatur, kan gue ketuanya." protes Olin tak terima.
"Lah emang kalian bertiga mau boncengan pakek motor? Seriusan? Kalian pakek rok loh? Nggak pa-pa? Ntar kelmmm...." Anya membekap mulut Alan rapat-rapat.
"Gimana,Lin?" tanya Anya.
"Yaudah deh gitu aja. Apa kata Alan." ucap Olin memutuskan. Tangan Anya langsung menjauh dari wajah Alan.
"Untung gue gak mati." Alan mengatur nafasnya.
"Alay lo. Yaudah yuk langsung cus." ajak Anya yang langsung di balas anggukan oleh teman-temannya yang lain. Olin dan Mario berjalan paling belakang.
__ADS_1
"Tadi udah ijin bang Davi?" tanya Mario di sela berjalannya menuju parkiran.
"Udah." jawab Olin singkat.
"Nanti biar gue juga yang nganter lo pulang." ucap Mario yang membuat Olin melihat ke arah cowok itu.
"Kenapa harus? Gue bisa kok minta jemput bang Raven."
"Nggak ada yang namanya jawaban menolak. Gue yang akan nganter lo pulang." ucap Mario. Mereka sudah sampai di parkiran. Olin menerima helm yang di berikan Mario dengan wajah sedikit cemberut.
"Udah ayo, gak udah cemberut gitu mukanya." Olin sama sekali tidak menjawab apa yang di ucapkan Mario barusan. Dia hanya menaiki motor Mario dengan diam. Sampai merek di jalan dan tiba di rumah Mario pun, Olin masih tetap sama. Diam.
"Langsung masuk aja." ajak Mario pada teman-temannya. Mereka semua pun memasuki rumah Mario. Sesampainya di ruang tamu semua segera duduk meski Mario belum mempersilahkan.
"Teman pada nggak ada akhlak ya kalian ini. Belom juga di persilahkan udah pada duduk." ucap Mario ketus.
"Hehe sorry, Mar. Suka kebiasaan." jawab Gilang sambil nyengir kuda.
"iya udah langsung di mulai aja ya." ucap Olin yang langsung di jawab anggukan oleh semua temannya.
Semua membuka buku paket masing-masing. Olin membagi tugas pada setiap anak untuk mencari jawaban.
"Papa gue ada beberapa buku di perpus pribadinya. Gue cariin buku yang sekiranya cocok ya." ucap Mario mengusulkan.
"Boleh tuh." ucap Saras.
"Lin, lo ikut gue ya. Bantuin nyari." tanpa mendengar jawaban Olin, Mario sudah menggandeng tangan Olin untuk mengikutinya.
"Weh, belom juga di jawab asal gandeng aja." Alan protes melihat Olin di gandeng Mario.
"Lah lo ngapain protes? Cemburu?" tanya Saras.
"Ngapain cemburu, iya nggak lah." jawab Alan sambil memandang Anya di sampingnya.
Anya hanya mencebikan bibirnya sekilas lalu kembali ke buku paket dihadapannya. Sedangkan Gilang dan Saras sedikit curiga dengan kedua teman di depannya.
Nampaknya ada hubungan tersembunyi antara Alan dan Anya. Tak heran karena mereka berlima sudah satu kelas sejak kelas 10. Itu artinya tidak menutup kemungkinan jika Alan dan Anya saling menyukai.
Di ruang perpus pribadi milik papanya, Mario dan Olin masih mencari buku yang bisa mereka jadikan referensi.
"Udah ketemu, Lin?" tanya Mario di rak buku sebelah kiri.
"Belom nih masih nyari." jawab Olin masih mencari buku di antara ratusan buku yang berada di situ.
Olin tak sengaja melihat beberapa piagam dan piala piala yang berjejer rapi di sebuah etalase di sampingnya. Mayoritas bertuliskan nama Mario di sana.
Pinter juga ternyata. Gumam Olin sedikit kagum. Olin pikir cowok itu seperti cowok lain di luar sana yang hanya mengandalkan tampan tanpa menggunakan otaknya.
"Kenapa Lin?"
__ADS_1