Not To Be Angel

Not To Be Angel
Episode 5


__ADS_3

"Gue di jemput." jawab Mario singkat.


"Cowok bad kayak lo, sekolahnya di anter jemput ya? Baru tau gue," setelah mengatakan itu Gilang tertawa singkat.


"Nyinyir aja tros!" ucap Mario sebal karena sedari tadi teman barunya ini mengejeknya.


Gilang menghentikan tawanya,"Iya habis baru tau gue ada brandal di anter jemput."


"Cuma sehari ini doang, besok nggak." jawab Mario.


"Besok bawa kendaraan sendiri lo? tanya Gilang lagi. Mario mengangguk.


"Apa?"


"Becak." ucap mario singkat. Lagi-lagi Gilang tertawa. Sampai akhirnya Alan pun datang dengan motornya.


"Mar, lo nggak pulang?" tanya Alan yang baru saja sampai.


"Nunggu jemputan dia," saut Gilang.


"Gue mau nebengin lo pulang. Tapi bingung mau bonceng lo dimana. Masak lo duduk di tangki bensin depan." ucap Gilang dengan wajah polos.

__ADS_1


"Lu kira gue anak umur 5 tahun di bonceng di tangki hah?"  


"Kalau gitu bonceng belakang aja. Biar kayak cabe-cabean kita." ucap Gilang ngawur.


"Mana bisa tokek!" Alan ngegas.


"Yaudah deh gue sama Alan pulang dulu ya, Mar. Lo semangat nunggu jemputannya." ucap Gilang sambil menaiki boncengan motor Alan.


"Oke." jawab Mario singkat.


"Duluan Mar."


Mata Mario tak sengaja melihat ke arah di mana dia melihat orang yang dia kenal. Teman sebangkunya tengah berboncengan dengan cowok.


"Olin bukan?!" gumamnya lirih.


"Sama cowok? SMA sini juga toh cowoknya? Gue kira jomblo."


Tin tin


Suara klakson mobil membuat Mario menoleh kesumber suara.

__ADS_1


"Mar ayo pulang," ajak seorang cowok yang kepalannya keluar dari jendela mobil.


Mario hanya mengangguk lalu menuju mobil yang menjemputnya. Tak berselang lama mobil itu pun menghilang dari pandangan.


---------------------------------------------


"Dek bukain gerbangnya," suruh Davi yang masih menaiki motornya. Olin turun dan segera membuka gerbang.


"Di kunci jangan lupa," suruh Davi lagi. Olin mengangguk paham. Rumah mereka memang tidak ada satpam yang menjaga. Bahkan art saja mereka tidak punya. Semua urusan rumah mereka bertigalah yang mengurusnya. Mulai dari menyapu, mengepel, masak dan lain-lain.


Olin dan Davi sudah memasuki rumah minimalis dua lantai yang telah di beli oleh Raven dua bulan lalu. Iya, Raven sang kakak paling tua lah yang selama ini mencukupi kebutuhan Olin dan Davi setelah kepergian orang tua mereka.


Rumah yang tak terlalu luas ini memiliki 4 kamar, 2 di lantai atas dan 2 di lantai dasar. Kamar Olin dan Davi berada di lantai atas. Sedangkan kakaknya Raven di lantai bawah. Rumah ini memang tidak terlalu luas namun bisa membuat nyaman Olin dan kedua abangnya.


"Bang, nanti yang masak siapa?" tanya Olin yang sudah berganti penampilan. Gadis itu menghampiri sang kakak yang sudah berada di dapur.


"Biar abang aja, lo nanti yang nyuci piringnya."  ucap Davi sambil memasukan potongan sayuran kedalam panci.


Olin hanya mengangguk, dia melihat keahlian sang kakak dari meja makan. Davi sangatlah pandai memasak. Itu sebabnya Olin percaya jika yang memasak adalah Davi, rasanya pas. Lain lagi jika Raven yang memasak pasti ada saja rasa yang berlebihan.


"Cuci piringnya, ya." ucap Davi saat mereka berdua sudah selesai makan. Olin hanya mengangguk dan segera menjalankan apa yang di perintah sang kakak.

__ADS_1


__ADS_2