
Olin, Saras dan Anya sudah berada di koridor lantai atas. Dimana kelas 12 berada di sana. sebenernya Davi melarang Olin dan kawan-kawannya untuk menginjakan kakinya di lantai atas.
Bukan karena apa-apa melainkan anak kelas 12 terutama para murid laki-laki usilnya bukan main. Mereka akan menggoda adik kelas yang melewati lantai atas. Dan Davi tak mau adiknya jadi korban.
Dulu saat teman-teman seangkatan Davi belum tau jika Olin adalah adiknya, banyak dari mereka mengoda Olin. Dan sekarang semua murid tau jika gadis itu adalah adik dari Davi.
Mata ketiga siswi itu terus menyapu ke setiap kelas yang mereka lewati. Olin, Saras dan Anya celingukan mencari batang hidung Davi. Pasti banyak dari kalian bertanya, kenapa tidak mencari Davi di kelasnya saja. Pasti akan ketemu.
Andai cara itu bisa di lakukan Olin, pasti dia tidak akan celingukan seperti ini. Davi itu kelas 12 IPA 4 namun dia seperti hantu ada di mana-mana. Karena teman-temannya bertebaran di beberapa kelas 12. Tak heran karena Davi tipikal anak yang gampang bergaul dengan siapa saja.
Mata Saras melihat keberadaan target. "Lin bang Davi." lapornya sambil menunjuk ke dalam kelas 12 IPS 2. Target sedang berbicara dengan teman-temannya di sana.
"Bang Davi!" ucap Olin lumayan keras agar Davi mendengar. Karena terkadang cowok itu berlagak budek.
Davi melihat tiga gadis yang berada di depan pintu. Bukan hanya dia, teman-temannya pun ikut melihat ke arah pandang Davi. Cowok itu pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Olin.
"Ngapain ke sini? Kan udah gue bilang jangan ke kelas atas kecuali ke perpus." cerocos Davi.
"Habis abang di chat nggak bales." ucap Olin. Saras dan Anya hanya diam sambil memandang Davi di depannya.
"Trus ada apa?" tanya Davi cuek. Kedua tangannya dia lipat di depan dada.
"Ntar pulang bareng."
"Nggak bisa, abang...." Olin segera memotong ucapan sang kakak.
"Kata bang Raven tadi gitu." Davi diam. Cowok itu sedikit berpikir. Kalau dia tak menghiraukan apa kata Raven dia dalam masalah besar.
"Yaudah deh. Nanti abang tunggu di parkiran ya." Olin mengangguk sambil tersenyum.
"Sana balik ke kelas." usir Davi.
"Mau ke kantin, makan." pamit Olin lalu melangkahkan kakinya pergi dari lantai atas bersama kedua sahabatnya.
Sampai di kantin semua meja sangat penuh. "Olin dimana nih? Apa nggak jadi makan?" tanya Anya.
__ADS_1
"Tuh meja kosong." tunjuk Olin di meja mojok sendiri.
"Lah kan ada Alan dkk." jelas Saras.
"Mereka temen kita. Udah ayo." ajak Olin sambil mendekati meja Alan, Mario dan Gilang.
"Kita nebeng sini ya." ucap Olin smbil duduk di samping Gilang.
"Wealah boleh boleh." ucap Alan sambil menggeser bokongnya. Memberi duduk pada Saras dan Anya di sampingnya.
"Eh Lin tugasnya bu Diah jadi kapan di kerjain?" tanya Alan.
"Terserah sih gue ngikut aja sama kalian."
"Ntar gimana." sahut Mario.
"Lah Mar, ntar kita ada latihan volly loh lo lupa?" ucap Gilang mengingatkan.
"Astaga iya lupa."
"Besok aja kalau gitu." ucap Saras. Semua mengangguk setuju dan melanjutkan kembali makan mereka.
"Mar." suara seorang cowok membuat Mario menoleh. Dia menghentikan langkahnya.
"Eh bang Davi. Kenapa bang?" tanya Mario heran.
"Gue bisa minta tolong lo nggak?" Mario mengangguk.
"Ntar lo anterin Olin pulang bisa? Bos gue tiba tiba telvon nyuruh gue sift siang hari ini." lapor Davi dengan wajah seriusnya.
"Bisa sih bang. Tapi hari ini gue ada ektra volly pulang sekolah nanti. Gak pa-pa Olin pulang telat?" tanya Mario tak yakin.
"Udah gpp penting Olin ada yang nganter. Gue percaya kok sama lo." ucap Davi.
"Tapi bang, soal bang Raven gimana?" tanya Mario ragu soal Raven. Bisa saja Davi mengijikan tapi Raven tidak memperbolehkan.
__ADS_1
"Nanti biar bang Raven gue yang bilang." Mario pun mengangguk.
"Jagain Olin ya. Thanks." setelah mengucapkan itu Davi pun berlalu dari hadapan Mario.
Mario pun kembali berjalan menuju kelasnya yang tengah jamkos.
"Ke kamar mandi lama banget lo Mar?" tanya Gilang.
"Nabung banyak." jawab Mario cuek sambil melirik ke arah Olin yang sedang tidur.
Kelas begitu sepi tapi para penduduknya tidak ada yang tidur. Kecuali Olin saja yang terlelap. Jam terakhir adalah pelajaran bahasa inggris dan Pak Trisna ijin sakit alhasil kelas ini jamkos.
Mata Mario menyapu ke setiap penjuru kelas. Murid cowok banyak yang bermain kartu di kelas. Ada juga yang mengadakan konser dadakan dengan suara tidak terlalu keras. Karena sang ketua kelas melarangnya.
Dan mari melihat kelakuan ketua kelas beserta wakilnya. Gilang dan Alan yang duduk di belakang Mario sedang maskeran. Saras dan Anya lah yang membuat dua cowok itu seperti itu. Mario hanya menggeleng kan kepalanya lambat melihat tingkah sahabatnya.
"Mar nggak ikut maskeran lo?" tanya Saras.
"Nggak." jawab Mario cuek.
"Tau gue kenapa dia nggak mau." ucap Gilang.
"Kenapa emang?" ucap Alan dan Anya barengan.
"Pasangannya lagi tidur, tuh." tunjuk Gilang ke Olin yang sedang tertidur pulas.
Meraka pun tertawa lirih takut Olin terbangun.
"Apaan sih kalian ini." Mario sewot.
"Eh Mar, lo beneran suka Olin?" bisik Anya.
Mario tidak menjawab dia hanya diam. Jujur sejak bertemu dengan Olin dia tertarik dengan gadis itu. Tapi Mario tidak merasa dia menyukai Olin.
"Mar, jawab kek diem aja." ucap Saras membuyarkan lamunan Mario.
__ADS_1
"Nggak kok gue cuma tertarik doang sama dia."
"Sekarang tertarik besok-besok suka jadinya." ucap Alan. Mario hanya tersenyum simpul. Dia tidak meladeni lagi ucapan para sahabatnya. Dia lalu sibuk bermain ponsel.