
Jam menunjukkan pukul 1 dini hari, Olin terbangun dari tidurnya. Dia menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang. Dia masih berada di kamar milik Mario, terlihat dari foto-foto cowok itu yang terpajang di atas nakas sampingnya.
Olin mulai melangkahkan kakinya keluar kamar, membuka pintu dengan hati-hati. Setelah di rasa sudah berada di luar dia kembali lagi melangkah. Olin melihat tangga besi menuju atas dia coba menuju ke sana.
Tanpa Olin sadari, Indra melihat semua yang dia lakukan. Cowok itu berdiri di anak tangga terakhir saat Olin mulai menaiki tangga menuju loteng. Indra langsung menuju ke kamarnya.
"Mar, bangun. Mar," Indra coba membangunkan adiknya.
"Hmm, apa lagi sih bang," suara Mario sangat malas.
"Olin, dia bangun. Sekarang di loteng," lapor Indra lagi.
Tanpa ba-bi-bu, Mario langsung menyusul dimana Olin berada.
Olin membuka pintu besi di depannya ,terpaan angin di malam hari menusuk kulitnya, apalagi hujan baru saja menyerang sore ini. Membuat hawa dingin itu semakin terasa.
Gadis itu duduk di lantai semen yang lebih tinggi dari lantai di sekitarnya. Dia memandang langit yang cerah di atas sana. Bintang bertaburan menghiasi langit cerah itu.
Suasana loteng yang sepi di tambah hembusan angin semilir menambah kesan sunyi.
Mario melihat gadis yang dia cari duduk sendiri disana. Dia menghampiri Olin.
"Di luar dingin, ngapain disini?" suara Mario membuat kaget Olin.
"Emm...."
"Lo udah baikan?" tanyanya sambil melihat wajah tenang gadis itu.
"Udah, kok."
Mario tidak percaya, tangannya menyentuh dahi Olin. "Panas lo udah turun."
"Di bilang juga apa." jawab Olin ketus.
"Baru aja sembuh udah judes banget!" Olin menatap horor ke arah Mario, lalu mencubit perut cowok itu.
__ADS_1
"Lin, sakit woy!" Mario meringis kesakitan.
"Mangkanya jangan ngatain." ucap Olin melepas cubitanya.
Mario meringis kesakitan, seketika rasa mengantuknya tadi hilang. Jari tangan Olin memang mungil tapi cubitannya jangan di tanya lagi. Bisa menyebabkan biru-biru di kulit.
"Kok kebangun, kenapa nggak tidur lagi?" tanya Mario pada gadis di sebelahnya.
"Nggak pa-pa, pengen hirup udara di malam hari." ucap Olin sambil melihat Bintang.
Mario tersenyum melihat wajah gadis itu dari dekat. Meski ada cekungan yang tercetak jelas di bawah mata Indah Olin.
"Lihat, Mar. Ada bintang jatuh!" ucap Olin girang.
Mario tidak melihat ke arah tunjukan Olin. Dia masih memandang ke wajah gadis yang sekarang kegirangan. Layaknya mendapatkan hadiah.
"Lo percaya nggak?kalau ada bintang jatuh dan kita minta permohonan, semua bakal terkabul," jelas mario.
"Emang iya?" Olin tidak percaya.
"Boleh di coba."
"Tadi, minta permohonan apa?"
"Rahasia dong, cuma gue sama Tuhan aja yang tau."
Mario tersenyum tipis, "Kalau gue cuma pengen lihat lo selalu bahagia." ucap Mario sambil meletakkan tangannya ke belakang sehingga bisa menopang tubuhnya.
Olin menatap cowok itu dengan raut wajah bertanya, "Kenapa?"
Mario menatap Olin, "Gue cuma pengen lo selalu tersenyum setiap kali lo buka mata di pagi hari," Olin terdiam, mengapa cowok di sampingnya memperdulikan hidupnya?
"Lo jangan sedih lagi, dunia lo masih berlanjut, kok. Lo nggak boleh stuck di satu titik yang sama. Lo harus mampu memaafkan dan mengikhlaskan apa yang udah terjadi." Ucap Mario sambil mengusap surai hitam Olin yang tergerai. Membenarkan anak rambut Olin yang terkibas oleh angin.
"Kenapa lo perduli, mar?" tanya Olin masih tidak percaya.
__ADS_1
"Karena lo sahabat gue," Mario semakin memusatkan pandangannya di manik hitam Olin.
Olin tercengang, Mario hanya tersenyum. "Lo nggak nganggep gue sahabat nggak apa-apa, kok. Tapi gue pastiin gue orang pertama yang selalu ada saat lo butuh." ucap Mario selanjutnya.
Gadis itu memandang Mario cukup lama, air mata di pelupuk matanya kembali tergenang. Tanpa aba-aba Olin memeluk Mario dari samping. Mario kaget.
"Selama ini gue selalu mendem semua sendirian, gue takut saat gue bercerita ke orang lain, mereka nggak benar-benar perduli ,hanya sekedar ingin tau. Tapi lo, cowok yang baru aja gue kenal, lo bisa tau apa yang gue rasain selama ini. Tanpa gue cerita lebih detail, makasih, mar," Olin berucap di tengah isakan kecilnya.
Mario menepuk pelan punggung Olin, tangan kanannya mengelus surai gadis itu dengan penuh kasih sayang. Dia tau bagaimana rasanya di posisi Olin saat ini. Dia bisa merasakan bagaimana hancurnya gadis itu.
"Janji sama gue, lo harus terus baik-baik aja. Lo harus maafin mama lo,"
Olin mengangguk pelan dia masih memeluk cowok di sampingnya. "Makasih banyak, mar." ucapnya .
Mario melepaskan pelukannya. Menghapus sisa air mata yang masih tersisa di pipi Olin.
"Sama-sama, mulai sekarang lo nggak boleh nangis lagi. Oke?" Olin mengangguk, lalu menganggkat jari kelingkingnya.
"Janji sama gue lo bakal ada saat gue butuh, lo bakal jadi sahabat yang paling terpenting di hidup gue, dan yang terakhir lo gak boleh pergi." ucap Olin.
Mario menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Olin. Mereka lalu tersenyum lebar.
"Besok pulang, ya,"
"Ngusir?!" Olin ngegas.
"Ya Allah nggak ngusir, gue cuma ngomong doang." ucap Mario sambil mengelus dadanya saat mengetahui jawaban Olin yang ngegas.
"Halah, bilang aja lo capek ngurusin gue." ucap Olin lalu berdiri dari duduknya. Dia berjalan meninggalkan Mario sendiri.
Mario mengejar langkah Olin dan mengandeng tangan gadis itu. "Nggak gitu, gue seneng kok lo ada di sini. Tapi kasian abang-abang lo, mama sama bunda, mereka khawatir sama keadaan lo disini."
"Hem, iya besok pulang. Tapi anterin ya, kan besok minggu." ucap Olin sambil terus berjalan.
"Manja," Bisik Mario sambil mencubit pipi Olin sampai merah lalu berlari memasuki kamar Indra.
__ADS_1
"Ih, awas lo." suara Olin di buat sepelan mungkin. Agar tidak di dengar penghuni rumah yang lain. Masalahnya ini sudah dini hari.
Olin lalu memasuki kamar milik Mario, dan segera tidur kembali.