
Raven, Davi dan Nilam sudah berkumpul di ruang keluarga setelah selesai sarapan. Mirna sudah pulang, setelah subuh dia di jemput oleh Toni. Kini hanya menyisakan Nilam. Sang mama yang baru saja kembali di keluarga ini.
"Olin, gimana? Dia nggak pulang semalaman, apa dia baik-baik saja?" tanya Nilam berondongan. Dia mengkhawatirkan anak gadisnya.
"Olin baik-baik aja, ma. Dia ada di rumah temennya. Nanti siang pasti pulang," jawab Raven menenangkan kecemasan Nilam.
"Kamu yakin beneran dia baik-baik aja?" tanya Nilam tak yakin.
Davi menyodorkan ponselnya ke hadapan Nilam. "Ini foto Olin barusan, Davi dapet dari temennya. Dia pasti baik-baik aja, ma." ucap Davi meyakinkan Nilam agar tidak terlalu khawatir.
Raven memandang raut wajah mamanya. Baru pertama kali dia melihat wajah Nilam Andriyana khawatir, setelah beberapa tahun dia tidak melihat wajah wanita itu.
Wanita itu sangat mencemaskan malaikat kecilnya yang sekarang sudah beranjak remaja. Raven sangat tau itu. Dulu Olin lah anak yang paling di sayang oleh Nilam. Tidak boleh ada yang menyakiti gadis itu sedikit pun. Namun semua berubah, justru Nilam lah sang mama yang membuat Olin terluka.
"Apa nggak di jemput aja, rav, dav?" Nilam masih panik.
__ADS_1
Raven menggelengkan kepalanya ,"Nggak perlu, ma. Jika Olin udah reda dengan amarahnya dia pasti pulang. Percaya sama raven." ucap Raven meyakinkan.
"Nanti apa dia mau maafin mama ya?"
Raven menggenggam tangan Nilam, dia berusaha menenangkan mamanya atas pikiran negatif yang dia buat sendiri.
"Ma, Raven yakin dia pasti mau maafin mama. Aku yakin dia bakal buka pintu maaf dan lembaran baru buat kita semua." ucap Raven.
Davi yang berada di sampingnya pun merangkul Nilam.
"Olin emang kepala batu, tapi dia nggak kayak bang raven kok, ma. Olin masih bisa luluh," ucapan Davi membuat Raven melotot tak terima pada adiknya.
"Lah emang iya kan, kepala batunya abang susah banget di ancurin. Pengen ku kasih bom aja." ucap Davi sambil memasang muka seriusnya.
"Awas aja ya minta uang ke abang," ancam Raven galak.
__ADS_1
"Kan aku udah kerja, ngapain minta," nampaknya sebentar lagi akan terjadi perang antara dua saudara itu.
"Heh udah, jangan berantem kalian ini." ucap Nilam mencoba melerai pertikaian kedua anaknya.
"Mulai besok kamu berhenti kerja ya, dav,"
"Loh, ma. Kenapa?" ucap Davi panik.
"Mama bisa biayain hidup kalian. Jadi mulai besok kamu berhenti buat kerja, kalau bisa kamu juga, rav. Kalian fokus pendidikan aja. Biar soal uang mama yang ngehandle." ucap Nilam memberitahu.
"Tapi ma, di tempat kerja davi tuh enak. Aku punya banyak temen disana, nggak pa-pa ya davi tetep kerja?" rengek cowok berusia 18 tahun itu pada sang mama.
Nilam sedikit berpikir, "ya sudah, tapi uang hasil kerja mu itu hanya buat uang jajan, soal kebutuhan dan sekolah mama yang nangung." ucap Nilam lagi.
Davi bersorak girang, Raven di depannya hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Kamu mau kan rav, berhenti kerja?" tanya Nilam pada anak sulungnya.
Raven sedikit berpikir, lalu dia mengangguk sambil tersenyum. Nilam pun ikut tersenyum bahagia. Akhirnya, mereka bisa kembali seperti dahulu. Menjadi keluarga yang utuh dan saling menyayangi.