Not To Be Angel

Not To Be Angel
Episode 29


__ADS_3

"Tadi itu bunda lo?" tanya Mario. gadis di sebalahnya hanya mengangguk singkat.


Mereka berdua sudah sampai di sekolah, dan sekarang sudah berada di koridor yang membawa mereka menuju kelas.


"Kok dulu gue nggak pernah liat di rumah lo." tanya Mario.


"Iya, bunda punya rumah sendiri." jawaban Olin membuat Mario bingung. Jika seorang berjulukan bunda, itu harusnya tinggal dalam satu atap dengan anak kandungnya. Apa lagi dia memiliki tiga anak sekaligus yang dalam masa pemantauan remaja.


"Kok nggak tinggal sama lo dan abang-abang lo aja, m" Mario kembali bertanya.


Olin menghentikan langkah kakinya, menatap wajah Mario yang baru saja melontarkan pertanyaan kepadanya.


"Mar!" panggil seorang dari arah belakang Mario.


"Baru berangkat lo, di cari'in anak futsal sama voly tuh, mau ngadain rapat buat acara tanding kita minggu depan." ucap seorang cowok bernama Deri.


"Oke gue kesana." jawab Mario lalu memandang olin.


"Lo ke kelas dulu. Ya gue ada urusan." tanpa ba-bi-bu, Mario pun pergi. Olin cukup terselamatkan dari pertanyaan mario tadi. Setidaknya dia tidak perlu lagi menjawab pertanyaan yang jawabannya terlalu rumit baginya.


---------------------------------------------


"Jadi minggu depan ada acara classmate?" tanya Anya dengan penasarannya.


"Keknya sih gitu, sekalian menyambut hari jadi sekolah kita. Pak kepsek ngadain lomba gitu antar kelas. Terus katanya juga bakal ada tanding futsal sama voly antar sekolah." jelas Saras.


"Wah asik tuh, nggk akan ada mapel." sorak Anya girang.


"Mapel gak ada bodoh pun datang." sindir Olin dengan memakan es batu sisa es jeruknya yang sudah habis.


"Lo mah enak, Lin. otak lo encer meski pun di jejalin pelajaran banyak. Baik-baik aja, lah otak gue sama Saras mah beda lagi."


"Mangkannya, kalian tuh belajar lebih sering lagi."


Anya hanya cemberut mendengar jawaban olin. "Eh ntar pembagian nilai kuis kemaren kan, ya?"


"Iya, kenapa emang? Tumben lo semangat banget." tanya Saras.


"Gue bukannya semangat, tapi gue takut aja kuis kemaren jelek, kan nggak akan membantu gue dalam ulangan selanjutnya kalau nilai gue jelek."

__ADS_1


"Udah berdoa aja, semoga Tuhan menolong mu." ucap Olin lalu pergi meninggalkan teman-temannya.


"Lin, tunggu."


"Lah kok bu Anggi udah di kelas sih?" bisik Anya kepada Saras.


"Iya, kan belom masuk." jawab Saras.


Mereka bertiga pun duduk di bangku mereka masing-masing. Bu Anggi sudah duduk manis di kursi guru.


"Maap ya anak-anak, ibu lebih awal datangnya karena setalah ini ibu ada rapat. yang ibu bawa adalah hasil tes kalian kemarin, ibu akan membagikannya." ucap bu Anggi lantang di depan kelas.


Semua murid sangat antusias menunggu hasil kuis mereka dan itu berlaku untuk murid-murid yang pintar, dan untuk murid yang tidak terlalu pintar hanya bersikap santai.


"Dinara saraswati." panggil bu Anggi sambil melihat Saras.


"saya bu" Saras pun maju kedepan kelas mengambil kertas jawabannya.


"Iski alatas ramdani."


"Renaldi putra handoko."


Nama Olin pun di panggil oleh bu Anggi. Gadis itu menuju depan kelas dengan senyum manisnya. Dia berfikir positif dengan nilai kuisnya.


"Dapet berapa lo, Lin?" tanya Saras penasaran saat Olin kembali pada tempat duduknya.


"Ntar aja, Anya kan belom dapet." ucap Olin masih menutup kertas kuisnya.


"Iya nih, nama gue kemana sih, kok nggak muncul-muncul." Anya terlihat gusar.


"Anya darwin kusuma."


"Nah ini nama gue." ucap Anya senang lalu segera menuju ke meja guru.


"Berapa nilai lo?" tanya Saras yang sudah penasaran.


"40" ucap Anya dengan raut wajah sedih karena nilainya jauh dari harapannya.


"Gue 60" ucap Saras. "Kok bisa sih? Perasaan gue ngerjainnya udah bener loh." nampaknya Saras masih belum terima dengan hasil kuis itu.

__ADS_1


"Masih mending lo dari pada gue. Nih." ucap Anya seperti menangis.


"Lo berapa, Lin?" tanya Anya karena sahabatnya itu hanya diam.


Olin membuka kertas jawabannya lebar-lebar di depan teman-temannya.


"Astaga, 100 loh." ucap Saras histeris.


"Hust, Saras kamu kenapa ribut?" tanya bu Anggi karena mendengar suara ribut Saras.


"Eh, nggak kok bu."


Suasana kelas kembali normal, dan bu anggi masih memanggil nama murid yang lainnya.


"Arlandi raski purnama." panggil bu Anggi.


"Weh, alan kemana?"


"Alan, Mario, Gilang, sama aldo kumpul volly bu. Mangkannya nggak masuk kelas." ucap iski.


"Ya sudah, ibu titip ini ke teman bangkunya saja. Saras, Anya, Olin, sama Diva." mereka berempat menggambil kertas jawaban masing-masing anak yang tidak hadir.


"Semuanya sudah kebagian kan? Sudah tau juga kan nilainya? Dan sedikit informasi nilai tertinggi dalam kuis pertama ini, Olin." ucap bu Anggi, Olin hanya tersenyum manis.


"Minggu depan yang nilainya di atas kkm akan ibu kasih bintang tambahan dengan nilai setiap bintangnya 5,dan buat Olin kamu sudah ibu beri tambahan. Pertahankan ya"


"Baik bu." jawab Olin singkat.


"Ya sudah ibu mau rapat, kalian jangan keluar kelas." setelah mengucapkan itu, bu Anggi pun pergi.


"Eh liat nilai Alan ah, mumpung tuh anak gak ada."


"Ikut ah, gue juga." ucap Saras yang ikut melihat nilai kuis Gilang.


Olin hanya menggeleng namun dia penasaran berapa sih nilai Mario. Teman sebangkunya yang sudah membuat perjanjian dengan nya.


Gadis itu melihat nilai Mario. Pojok kanan atas tercetak jelas nilai 80, itu tandanya Olin menang kali ini. Dia tersenyum puas sekarang.


Jika Mario belom datang ke kelas, dia akan menyusul cowok itu. Entah keinginan dari mana, Olin sedikit berbeda akhir-akhir ini jika menyangkut nama Mario. Sejak dia melihat sifat baik Mario kemarin yang mengajaknya memberi makanan ke pada anak yang tinggal di kolong jembatan, membuat Olin tersentuh dan percaya jika memang tak semua laki-laki itu, seperti yang dia kira selama ini.

__ADS_1


__ADS_2