Not To Be Angel

Not To Be Angel
Episode 8


__ADS_3

Mario baru saja sampai di sekolah. Dia memarkirkan motornya di parkiran. Dan sat itu lah pandangan melihat teman sebangkunya yang baru saja datang. Olin yang sedang di bonceng oleh Davi, sang kakak.


Mata Mario masih saja menguntit ke arah olin. Sampai dua suara seorang mengagetkannya.


"Hayo lo, liatain apa?!" ucap Alan dan Gilang bersamaan.


"Itu pacar Olin?" tanya Mario.


Alan dan Gilang ikut menjuruskan pandangannya ke arah pandang Mario.


"Kenapa tanya-tanya?" Gilang berbalik bertanya.


"Cuma tanya aja."


"Halah bohong. Lo kemaren ngerayu apa ke Olin, hah? Ngaku lo!" tuding Alan ingin tau.


"Ayo jawab. Di kira kita berempat nggk tau apa yang lo lakuin kemaren." ucap Gilang semakin memojokan Mario.


"Emang gue ngelakuin apa? Gue nggak ngapa-ngapain."


"Halah pakek ngeles lagi. Lang jelasin." ucap Alan.


"Kemaren lo ngapain dempet-dempet ke Olin? Lo mau ngerayu dia ya. Wah buaya juga ternyata." tuduh Gilang.

__ADS_1


"Apaan dah. Gue cuma ngajak dia kenalan doang. Beneran." Mario menjawab dengan jujur. Karena memang itu yang dia lakukan.


"Ihh yang bener" tanya Alan, kini nada bicara Alan sudah tidak mengintrogasi. Malah terdengar menggoda Mario.


"Yaelah iya beneran. Habis dia diem aja nggak ngomong. gue kira di takut sama gue." jawab Mario lagi.


"***** muka lo emang terlihat kayak buaya sih. Muka-muka playboy. Trus yang lagi ngetrend tuh apa? Fakboy ya? Nah itu mangkannya dia takut." ejek Gilang sambil tertawa.


Mario melirik Gilang dengan tatap sinis. "Kenapa sih gue di bully mulu?" tanya Mario.


"Kita tuh nggak lagi bully lo. Kita cuma lagi ngetawain lo doang" kini Alan ikut tertawa.


"Serah deh. Trus itu tadi siapa?" tanya Mario ingin tau siapa cowok yang dari kemarin membonceng Olin.


"Pacarnya Olin?" tanya Mario lagi.


"Lo kenapa sih nyet, pengen tau banget. Lo naksir sama Olin?" tanya Gilang lagi. Mario menggeleng.


"Kalau lo mau deketin Olin. pepet aja abangnya dulu." ucap Alan menyarankan. Mario bingung dengan apa yang di katakan temannya.


"Maksud lo pepet abangnya gimana? Gue harus deketin abangnya gitu? Nggak normal dong."


Gilang dan Alan menggelengkan kepala kompak.

__ADS_1


"Ganteng sih. Tapi sayang,****!" ucap Gilang.


"Maksudnya gimana beneran gue nggak ngerti?"


"Deketin si Davi. Minta restu ke di, baru deh lancar lo ntar kalau mau PDKT sama Olin." jelas Alan.


"Davi itu abangnya Olin?" tanya Mario. Kedua temannya mengangguk.


"Olin itu anak terkahir dari ketiga bersaudara. dan cuma dia juga yang cewek. Dia punya 2 abang, satunya namanya Raven yang satu lagi Davi. mereka berdua itu posesif sama adiknya.Iya iyalah, lo bisa bayangin aja punya adik cewe satu-satunya. Nggak ada yang berani deketin Olin. Bahkan Olin pun nggak perna deket sama cowok. Dia juga nggak perna pacaran." ucap Alan menjelaskan dengan wajah


"Jadi, masih mau maju buat deket Olin?" tanya Alan lagi.


"Belom tau. Temenan aja dulu. Kalau cocok baru jalanin." jawab Mario.


"Jalanin doang tanpa pacaran? Lo mau di gorok Davi?" Gilang ngegas. Mario menatap Gilang datar.


"Lu kira gue sama kayak lu apa. Baperin doang trus pergi,ya nggak lah."  ucap Mario yakin.


"Wah matap sleding trus, Mar, si gilang biar kapok." ucap Alan sambil menahan tawa.


"Lo juga sama aja, sih." ucap Mario lalu pergi menuju kelas karena habis ini jam pelajaran di mulai.


"Weh Mar, tungguin!" teriak Gilang dan Alan kompak sambil berlari menyusul Mario.

__ADS_1


__ADS_2